25 Februari 2013

CARA AMAN MEMBERSIHKAN FILE SAMPAH PADA UBUNTU DAN MINT

Salah satu di antara masalah dalam sistem operasi adalah munculnya file-file sampah. Termasuk di antaranya file sementara (temporary files) yang seringkali sudah tidak dimanfaatkan lagi. Persoalannya bagi semua sistem operasi, file-file sampah tersebut berisiko akan menumpuk dalam kapasitas yang cukup besar, bahkan bisa melampaui ukuran kapasitas sistem operasi. Dalam lingkungan GNU/Linux terdapat beberapa aplikasi pengelolaan file sampah. Tetapi dari berbagai sumber menyebutkan, aplikasi-aplikasi tersebut ternyata sangat berisiko menyebabkan sistem operasi Linux menjadi tidak stabil. Berikut ini akan diulas mengenai tips mengelola file-file sampah pada sistem operasi Linux Ubuntu maupun Mint.

Bagi pengguna OS Linux mungkin pernah mendengar nama aplikasi pembersih seperti Bleachbit dan Ubuntu Janitor. Kedua aplikasi tersebut memiliki fungsi untuk mengelola file-file sampah pada sistem operasi Linux. Beberapa sumber yang dihimpun menyarankan agar berhati-hati dan sebaiknya tidak menggunakan kedua aplikasi tersebut. Bleachbit maupun Janitor menggunakan metode pembersihan file sampah yang kurang lebih sama dengan aplikasi pembersih pada OS Windows (seperti CCleaner). Ini sangat fatal sekali, karena GNU/Linux tidak mengenal istilah defragmentasi ruang yang disebabkan dari file-file sampah. Jangan pernah beranggapan file-file sampah pada OS Windows sama dengan OS Linux. Satu-satunya risiko dari file-file sampah pada OS Linux hanyalah berakibat pada penumpukan kapasitas, tetapi tidak berakibat pada kinerja sistem operasi.

Saya pernah menggunakan keduanya, Bleachbit maupun Janitor. Saya sudah cukup berhati-hati dengan hanya memilih opsi pembersihan yang dianggap aman. Hasil review diketahui terdapat sekitar hampir 3,8 Gb yang perlu dibersihkan. Setelah dilakukan pembersihan, tidak lama kemudian sering muncul notifikasi (pesan) error. Cukup mengganggu, karena dalam sehari saja bisa muncul 7-10 kali. Untungnya, penyelesaiannya tidak sulit. Hanya membutuhkan update melalui update manager maupun Synaptic Package Manager. Baru diketahui, ternyata di antara paket yang disebutkan perlu untuk dibersihkan, ternyata masih dibutuhkan.

Synaptic Package Manager: Clear The Update Cache
Setiap kali melakukan update, GNU/Linux akan mengunduh paket yang hendak diperbaharui ke folder temporer. Setelah selesai melakukan update ataupun ugprade, file tersebut dibiarkan teronggok di folder temporer. Beberapa mungkin masih bisa difungsikan kembali, tetapi lebih banyak yang tidak bisa difungsikan setelah update. Ada dua langkah yang perlu dilakukan dengan memanfaatkan aplikasi Synaptic Package Manager (SPM). Jalankan aplikasi SPM, kemudian masuk ke menu [Setting, Preferences, Files]. Berikan opsi (dot) pada [Delete downloaded package after installation]. Kemudian tekan tombol [Delete cache package files].

Pada window SPM, pilih opsi [Status] yang terletak pada kolom tampilan sebelah kiri. Kemudian klik opsi [Not Installed (residual config)]. Pada kolom di sebelah kanan akan ditampilkan daftar file residual config. Pilih seluruh paket dengan shorcut [Ctrl] + [A], kemudian klik kanan pada tampilan pilihan, lalu pilih [Mark for Complete Removal]. Lakukan langkah tersebut setiap kali menemukan baris opsi [Not Installed (residual config)]. Lakukan pengecekan berkala setiap 3-4 bulan sekali.

Thumbnail Cache
Thumbnail Cache adalah suatu file yang diperuntukkan bagi file dengan format grafis yang akan ditampilkan melalui file explorer. Fungsinya agar File Explorer tidak membutuhkan waktu yang lama setiap kali membuka file grafis. Thumbnail Cache akan senantiasa dibuat, setiap kali dilakukan akses thumbnail picture melalui file explorer. Bagi sebagian kalangan pengguna, Thumbnail Cache cukup bermanfaat, karena mempercepat proses pembukaan atau akses file grafis. Tetapi jika folder yang berisikan file grafis tersebut sudah tidak pernah lagi diakses, tentu saja thumbnail cache akan menjadi file sampah.

Jika menghendaki untuk segera menghapus Thumbnail Cache Files, bukalah konsol terminal, kemudian ketikkan baris perintah di bawah ini.

rm -f ~/.thumbnails/normal/*

Nantinya keseluruhan thumbnail cache files akan dihapus di keseluruhan folder yang terdapat file grafis. Cara ini sebaiknya tidak perlu dilakukan dalam waktu yang berdekatan. Disarankan untuk melakukan cara tersebut setiap 5-6 bulan sekali.

Jika memilih untuk tetap mempertahankan thumbnail cache files, tetapi hendak membatasi ukurannya, jalankan aplikasi di bawah dengan perintah pada konsol terminal sebagai berikut:

dconf-editor

Aplikasi Cofiguration Editor sudah ada pada Ubuntu 12.10. Jika belum memiliki bisa di-install melalui software center. Setelah muncul tampilan window dconf-editor, bukalah opsi pilihan [Org, gnome, desktop, thumbnail-cache]. Nanti di sebelah kanan akan muncul 2 opsi pengaturan thumbnail cache. Opsi [maximum-age] menyatakan lama hari thumbnail cache files akan tetap disimpan. Nilai default-nya 180 hari atau 6 bulan. Sebaiknya diturunkan angkanya menjadi 90 hari. Kemudian di bawahnya tertera opsi [maximum-size] yang menyatakan besarnya ukuran (size) tertinggi yang diperkenankan (dinyatakan dalam satuan mega bytes. Nilai default-nya sebesar 512 Mb. Sebaiknya nilainya diturunkan menjadi 64-128 Mb. Setelah selesai, tutuplah (close) aplikasi dconf-editor.

Remove Old Kernels
Anda mungkin pengguna yang pernah melakukan update Kernel OS Linux. Bisa jadi telah melakukan update Kernel hingga lebih dari 5 kali. GNU/Linux memang sengaja membiarkan Kernel Linux sebelumnya tetap dipertahankan. Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi apabila versi Kernel yang baru saja di-update ternyata tidak cocok atau tidak stabil. Keberadaan Old Linux Kernel bisa diketahui melalui Grub Boot Menu yang bertuliskan, “Previous Linux versions”. Atau pada header Ubuntu 12.10 dituliskan “Advanced option for Ubuntu”. Perlu diketahui, ukuran keseluruhan file pada Old Linux Kernel bisa mencapai ratusan mega bytes, tergantung seberapa banyak selama ini telah melakukan update Kernel.

Old Linux Kernel sesungguhnya bisa mengindikasikan seberapa sistem operasi Linux dinyatakan masih relatif aman dengan tersimpannya cadangan Kernel versi sebelumnya. Tetapi dengan banyaknya frekuensi update Kernel, tentu saja hanya ada satu di antara Old Linux Kernel yang hanya dipergunakan sebagai Kernel cadangan. Untuk menghapus Old Linux Kernal yang dianggap tidak lagi diperlukan, pergunakanlah aplikasi Synaptic Package Manager (SPM). Jalankan SPM, kemudian pada opsi [Status], pilih opsi paket [Installed]. Carilah kotak pencarian bertuliskan [Quick Filter], kemudian masukkan kata kunci “Kernel 3.5” (tanpa tanda kutip). Untuk setiap versi Kernel, setidaknya harus sebanyak 3 paket yang akan dipilih. Berikan tanda berupa [Mark for complete removal]. Klik tombol [Apply] untuk memulai prosedur penghapusan Old Linux Kernel versi 3.5. Selanjutnya, lakukan restart untuk membersihkan baris pengaturan pada Grub Menu.

Sebagai catatan, mungkin saja total keseluruhan Old Linux Kernel yang tersimpan pada komputer Anda telah mencapai ukuran di atas 1 Gb. Tetapi apabila selama ini baru melakukan 2-3 update Kernel Linux, sebaiknya opsi pembersihan Old Kernel Linux belum diperlukan. Opsi pembersihan Old Kernel Linux hanya dibutuhkan bagi yang pernah meng-upgrade versi Kernel hingga lebih dari 5 kali.

Sumber: Easy Linux Tips Project

4 comments:

Anonim mengatakan...

thx,sangat membantu

Anonim mengatakan...

thx,sangat membantu

Anonim mengatakan...

thx,sangat membantu

Mukhotob Hamzah mengatakan...

ok.. jadi begitu.. saya terlalu sering menggunakan ubuntu hingga lupa untuk membersihknnya.

Poskan Komentar