19 Februari 2013

INSTALL KDE 4.10 KE OS UBUNTU/MINT

KDE adalah nama desktop environment yang beroperasi multi platform seperti GNU/Linux, FreeBSD, Solaris, Windoes, dan OS X. Di kalangan pengguna OS Linux tentu cukup familir dengan istilah desktop environment. Distro OS Linux Mint termasuk yang menyediakan paket khusus instalasi dengan kemasan KDE. Tetapi KDE bisa pula dipasangkan di Ubuntu ataupun Linux Mint lainnya yang sebelumnya terpasang Mate/Cinnamon. Pada posting ini akan diulas mengenai cara instalasi atau pemasangannya pada OS Ubuntu dan Mint, serta beberapa keunggulan KDE dibandingkan desktop environment lainnya.

KDE v4.9
Versi KDE terakhir saat ini adalah 4.10 yang dirilis akhir Desember 2012. Pada versi terbaru tersebut diperkenalkan maskot mereka yang diberi nama Kongi. Versi terkini tadi diklaim cukup canggih dibandingkan versi sebelumnya, serta paling artifisial dibandingkan desktop environment lainnya. Berikut ulasannya mengenai fitur-fitur terbaru yang ditambahkan di versi 4.10. Informasi lebih lanjut dapat dilihat pada situs KDE (klik di sini).


Sumber Gambar: Noobslab.Com

Pada versi 4.10 ditambahkan sejumlah aplikasi yang terintegrasi seperti Marble, Kate, KMail, dan KTouch. PDF viewer yang telah terintegrasi tersebut ditambahkan fitur teknologi Okular yang dapat melakukan zoom document lebih cepat. Teknologi tersebut dikabarkan lebih halus (smooth), sertai tidak rakus memori. Aplikasi Marble adalah semaca peta/map seperti halnya Google Map yang mengadopsi langsung teknologi dari ESA (European Space Agency). Dikabarkan pula, berkat pembaharuan teknologi yang disematkan, KDE 4.10 diklaim lebih ringan dibandingkan versi sebelumnya.

Instalasi di Ubuntu 12.04/12.10 dan Mint 13/14
Cara instalasinya masih serupa dengan instalasi desktop environment sebelumnya. Berlaku pula untuk platform 64 bit dari OS Ubuntu 12.04/12.10 maupun Mint 13/14. Bukanlah konsol terminal dengan shortcut [Ctrl] + [Alt] + [F2], kemudian masukkan baris-baris perintah di bawah ini.

sudo add-apt-repository ppa:kubuntu-ppa/backports
sudo apt-get update
sudo apt-get install kubuntu-desktop


Apabila telah terpasang KDE versi sebelumnya, bisa dilakukan upgrade ke versi terbaru dengan memasukkan baris-baris perintah di bawah ini pada konsol terminal.

sudo add-apt-repository ppa:kubuntu-ppa/backports
sudo apt-get update
sudo apt-get upgrade


Proses instalasinya akan memakan waktu yang cukup lama, tergantung kecepatan internet dan CPU. Untuk instalasi KDE 4.10 akan memakan kuota bandwidth sekitar 330 Mb, serta akan membutuhkan ruang di hard disk sekitar 1 Gb. Nampaknya cukup besar kuota data yang harus diunduh dan kapasitas yang dimintakan untuk keseluruhan fitur KDE 4.10. Dengan kecepatan koneksi sekitar 90-120 Kbps akan butuh proses instalasi sampai sekitar 38-42 menit. 



Tampilan Awal Paska Instalasi KDE 4.10

Untuk bisa masuk ke lingkungan KDE 4.10, lakukan logout untuk masuk ke opsi pemilihan desktop environment. Bukan daftar list tampilan desktop environment, kemudian pilih KDE, lalu isikan password untuk masuk ke dalam pilihan bertuliskan KDE 4.10.

Pengaturan Cairo-Dock: Dua Cairo-Dock
Kasus semacam ini disebutkan sering terjadi pada desktop environment seperti KDE dan Xfce. Ada dua docking Cairo-dock yang aktif di lokasi yang sama. Jika Anda menjalankan pula aplikasi Cairo-dock, cobalah diperhatikan, apakah terdapat dua docking Cairo-dock di lokasi yang sama. Untuk mengatasi masalah tersebut, non-aktifkan Cairo-dock pada Startup Application yang bisa ditemukan pada [System Tools, Preferences]. Hilangkan tanda centang pada baris perintah Statup bertuliskan [Cairo-dock]. KDE memiliki sendiri pengaturan Startup Application yang terpisah atau tidak terhubung dengan pengaturan Startup pada Ubuntu/Mint. Untuk menemukannnya dapat diakses melalui [Kickoff, System Settings, Startu & Shutdown]. Pilih pengaturan pada [Autostart]. Soroti pada baris Cairo-dock, kemudian klik tombol [Advanced...]. Berikan tanda centang pada opsi [Autostart only in KDE].

Kesan Pertama Dari Penulis
Selama menggunaan OS Linux, saya belum pernah mencicipi KDE sebagai desktop environment. Ini adalah pengalaman yang pertama. Cukup mengejutkan dan luar biasa. Singkat kata, KDE memang sangat berbeda dengan kebanyakan desktop environment yang pernah saya coba, seperti Gnome 3, Unity, Cinnamon, Mate, dan XFCE. Segala sesuatu yang tidak saya dapatkan dari dekstop environment sebelumnya telah tersedia di KDE. Dalam banyak hal, KDE bisa dikatakan memiliki kemiripan dengan desktop environment pada Windows 7/8. 




Salah satu yang sering membuat saya tidak nyaman adalah efek pergantian wallpaper. Unity memiliki desktop efek yang masih lebih baik ketika melakukan pergantian wallpaper. Tetapi efek tersebut masih terasa kasar. Saya menginginkan efek pergantian wallpaper yang halus (smooth effet) seperti pada Windows 7. Pada Gnome-shell dan Cinnamon malah sempat membuat lag aplikasi visual. KDE memiliki fitur efek yang dapat memberikan efek lembut, ketika pergantian wallpaper. Saya selalu menggunakan aplikasi wallpaper changer seperti Variety. Tetapi setelah menggunakan KDE 4.10, aplikasi Variety tidak lagi saya pergunakan. KDE 4.10 sudah menyediakan sendiri fitur standar wallpaper changer yang lebih baik.

Bagi Anda yang belum pernah mencoba KDE, perlu saya beritahukan, KDE menyediakan sendiri seluruh kelengkapan desktop plus aplikasi. KDE v4.10 sudah tersedia widget yang bisa ditempatkan di layar desktop. Taksbar-nya pun bisa dimodifikasi menjadi seperti desktop dock yang bisa ditempatkan di bagian bawah/atas ataupun sisi kiri/kanan desktop. KDE menyediakan aplikasi sendiri seperti halnya Gnome, seperti Dolphin File Manager, RekonQ Internet Browser, Amarok Audio Player, Kate Text Editor, KCalc, dan masih banyak lainnya. Saya seperti tidak benar-benar berada dalam sistem operasi Ubuntu. KDE memiliki sendiri konsol terminal (Konsole Terminal), termasuk software center maupun update manager, bahkan memiliki utility sendiri. Untuk konsol terminal, Anda tidak bisa menggunakan aplikasi Gnome Terminal, melainkan harus menggunakan Konsole Terminal yang disediakan oleh KDE.

Ketika pertama kali membiasakan, saya agak sedikit bingung. Ini sama saja saya harus menyesuaikan dengan sesuatu lingkungan yang benar-benar baru. Lain halnya, ketika berpindah dari Unity-shell ke Gnome-shell, atau ke Cinnamon desktop. Tidak ada perbedaan yang cukup berarti untuk bisa diadaptasikan. Tetapi untuk KDE akan sangat berbeda sekali. Anda tidak akan membutuhkan aplikasi pengaturan animasi ataupun efek seperti Compiz, karena KDE memiliki sendiri fitur khusus untuk pengaturan animasi maupun efek dekstop. Anda mungkin harus melupakan Compiz, Ubuntu Tweak, maupun Gnome Tweak Tool, karena KDE 4.10 memiliki sendiri seluruh fitur pengaturan untuk desktop yang masih lebih baik. Cukup mengejutkan, karena efek desktop 3D yang semula tidak berjalan pada Compiz ternyata bisa diaktifkan di KDE.

Mengenai konsumsi memori ataupun beban resources sebenarnya kurang lebih saja dengan Cinnamon maupun Gnome-shell. Setelah menggunakan selama beberapa jam, termasuk setelah melakukan pengaturan, konsumsi memori tidak banyak berbeda dengan Gnome-shell. Sebenarnya yang paling penting pada KDE adalah manajemen memorinya yang lebih baik daripada kebanyakan dekstop environment lainnya. Saya sempat mengaktifkan bersamaan beberapa aplikasi seperti Mozilla Firefox, Google Chrome, LibreOffice Writer, Nemo File Browser dan Clementine Audio Player. Tetapi harus digarisbawahi, bahwa sebaiknya KDE hanya untuk sistem dengan minimal memori fisik sebesar 2 Gb.

Catatan Dari Penulis
Penulis agaknya perlu menyampaikan sejumlah catatan penting perihal adaptasi dan adopsi paska instalasi KDE v4.10 ke Ubuntu 12.10 Quantal Quetzal (64 bit version). Sebelumnya, penulis sempat menginstal aplikasi LibreOffice 4.0. Tetapi paska instalasi KDE 4.10, ternyata LibreOffice yang sudah terinstal di-downgrade menjadi versi 3.6.4. Pada prinsipnya, server PPA Ubuntu belumlah resmi menyediakan repositori untuk LibreOffice 4.0. Mungkin inilah yang kemudian menyebabkan KDE 4.10 harus men-downgrade menjadi versi 3.6.4. Penulis tidak mengetahui, apakah LibreOffice 4.0 tidak kompatibel dengan desktop KDE 4.10. Tetapi penulis memilih untuk membiarkan saja pengaturan tersebut.

Sistem desktop KDE 4.10 ternyata merubah sistem pembacaan partisi yang berbeda dengan desktop environment sebelumnya. Ini baru diketahui setelah LibreOffice Writer tidak mau membuka file dokumen pada [Recent Documents], seolah-olah file tersebut tidak ada atau partisinya belum dimuatikan (mounted). Kemudian seluruh daftar lagu pada playlist Clementine pun tidak bisa dijalankan, seolah-olah Clementine tidak mendapati penjejakan lokasi file .MP3. Ternyata baru diketahui, KDE 4.10 membaca sistem partisinya berbeda dengan desktop environment sebelumnya. Tetapi, ketika berbalik ke Gnome-shell, Clementine malah masih bisa membaca daftar lagu (playlist) sebelumnya, sedangkan playlist yang dibuat di KDE tidak bisa dibaca.

Bagi penulis, KDE 4.10 cukup rumit di awal pemakaian. Mungkin karena penulis sebelumnya belum pernah menggunakan atau terbiasa dengan KDE. Penulis seolah dibawa masuk ke dalam sebuah lingkungan desktop yang sama sekali baru dan berbeda. Belum lagi harus dihadapkan pada sejumlah fitur pengaturan desktop yang begitu beragam. Cukup membingungkan di awal pemakaian, karena KDE 4.10 memberikan cukup detail pengaturan mulai dari icon sampai desktop. Butuh waktu yang cukup lama untuk bisa benar-benar menyesuaikan ke lingkungan KDE 4.10. Biasanya hanya membutuhkan waktu untuk penyesuaian dan pengaturan sekitar 1-2 jam untuk desktop environment yang rumit seperti Gnome-shell. Tetapi untuk KDE 4.10, karena belum terbiasa membutuhkan waktu sampai lebih dari 7 jam.

Dengan melihat begitu lengkap fitur pengaturan maupun aplikasi yang terintegrasi, Ubuntu 12.10 dengan KDE 4.10 membutuhkan waktu restart (boot) yang lebih lama. Dengan Gnome-shell 3.6 sebelumnya membutuhkan waktu sekitar 58 detik. Tetapi setelah dipasangkan KDE 4.10 menjadi 110 detik atau sekitar 1 menit 50 detik. Masih lebih pendek dibandingkan dengan waktu restart untuk Windows 7 Ultimate yang membutuhkan sekitar 1 menit 58 detik dengan konfigurasi yang relatif tidak berbeda. Ketika masuk ke tampilan utama setelah restart, konsumsi memori awalnya sekitar 700 Mb. Lebih besar dibandingkan ketika menggunakan Gnome-shell yang mengkonsumsi memori awal tampilan sebesar 480 Mb. Tetapi konsumsi memori awal dari KDE 4.10 masih lebih sedikit dibandingkan Windows 7 Ultimate yang membutuhkan sekitar hampir 900 Mb. Pada posting terpisah nanti, penulis akan menyampaikan ulasan tersendiri mengenai KDE 4.10. Posting tersebut nantinya akan mengulas tetang preview desktop environment dan pengaturan dasar paska instalasi.

4 comments:

Ade Malsasa Akbar mengatakan...

Mengerikan!

Indah sekali. Dari bahasa, susunan kalimat, sentuhan subjektivitas (yang saya cari), dan ulasan bapak keseluruhan, saya menilai esai ini sangat bagus. Saya sengaja mencari blog yng up to date mengenai Linux. Syukur kalau ada ulasan KDE (saya suka ini soalnya). Eh malah ketemu 4.10 yang saya terpaksa cari-cari di luar negeri ulasannya. Ketemu malah yang sangat komprehensif di Indonesia!

Terima kasih, Pak. Tolong jaga kerapian dan kekokohan bapak untuk mengulas sendiri suatu objek open source. Terima kasih banyak. Saya menanti posting KDE selanjutnya dari bapak.

Saya bookmark dan saya simpan halaman ini, Pak. Terima kasih.

Leo Kusuma mengatakan...

@Ade Malsasa: Terima kasih buat responnya. Btw sekarang ini sudah masuk ke versi 4.10.1. Barusan semalam muncul notifikasi updatenya sebesar 92 Mb. Tetapi kalo gunakan cara update di atas sudah otomatis langsung v4.10.1.

muhamad sobri mengatakan...

Wah.., lengkap sekali penjelasannya. Menyiratkan keluasan ilmu.
Kalo untuk intel atom 1GB ram oke ya ya performanya..?

muhamad sobri mengatakan...

Kalo linux mint di intel atom 1GB ram oke ga ya performanya..?

Poskan Komentar