07 Februari 2013

KOMPATIBILITAS LIBREOFFICE DAN MICROSOFT OFFICE

Pengguna Linux akan dihadapkan pada satu masalah kompatiblitas pada aplikasi perkantoran. Salah satunya adalah kompatibilitasnya dengan Microsoft Office. Apalagi hingga saat ini mayoritas format dokumen dari Microsoft Office masih menjadi standar dokumen di banyak lingkungan seperti perkantoran, sekolah/akademik, ataupun bisnis. Hanya sedikit di antaranya yang telah menerapkan format dokumen terbuka seperti yang sudah direkomendasikan oleh pemerintah. Ini adalah suatu masalah besar, terutama apabila bekerja dengan banyak orang yang masih menggunakan format dokumen Microsoft Office. Sekalipun demikian, masalah kompatibilitas tersebut masih bisa dikelola untuk dioptimalkan.

LibreOffice ataupun OpenOffice adalah perangkat pengolah dokumen yang berbasis sumber terbuka (open source). Keduanya menghasilkan format dokumen yang disebut open document format. Untuk fitur Writer akan menghasilkan format dokumen ODT (open document text). Untuk fitur Calc akan menghasilkan format document ODS (open document spreadsheet). Begitu pula dengan fitur lainnya seperti Impress ataupun Base. Serupa dengan Microsoft Office yang menghasilkan format dokumen berstandari Microsoft Document seperti DOC, XLS, dan seterusnya. Sekalipun demikian, LibreOffice maupun OpenOffice masih memiliki peluang untuk mengelola output dokumen dari Microsoft Office.

Kendalanya terletak pada kompatibilitas. Sekedar diketahui, Microsoft Office memiliki dua format dokumen yang berbeda kompatibilitasnya. Misalnya antara doc dan docx, xls dan xlsx, dan lain-lain. Perbedaan kompatibilitas di antara dokumen Office dikarenakan adanya perbedan fitur-fitur pada perangkat lunaknya. Microsoft Office 2010 memiliki fitur dan struktur dokumen yang berbeda dengan Office 2007. Demikian pula halnya adanya perbedaan kompatibilitas di antara LibreOffice ataupun OpenOffice dengan Microsoft Office. Perbedaan kompatibilitas tersebut tidak terhindarkan secara teknis. Tetapi LibreOffice ataupun OpenOffice masih lebih baik ketimbang Microsoft Office.

Format dokumen terbuka (open document) sama sekali tidak memiliki masalah dengan kompatibilitas. Sebagai ilustrasi, dokumen teks (ODT) yang dibuat dengan LibreOffice v4.0 masih dapat dibuka dengan LibreOffice v3.5.2 (atau versi yang lebih rendah). Dokumen lembar kerja (spreadsheet) yang dibuat dengan OpenOffice versi manapun masih bisa dibuka dengan LibreOffice tanpa terkendala versi apapun. Microsoft Word 2010 sekarang ini sudah mampu menyimpan dokumen ke dalam format dokumen terbuka yang berarti bisa dibuka dengan perangkat pengolah dokumen manapun yang berbasis open source. Tetapi akan menjadi bermasalah, ketika dokumen yang dibuat oleh Microsoft Office versi terbaru dibuka dengan Microsoft Office yang memiliki versi lebih rendah. Format docx yang dibuat oleh Word 2010 itu pun berbeda kompatibilitasnya apabila dibuka dengan Word 2007.

Hindarkan Format docx, Gunakan Format Lebih Rendah
Format docx merupakan output dokumen teks yang dibuat oleh Word 2007 dan Word 2010. Format dokumen ini ternyata ditemukan sering bermasalah di kompatibilitasnya. Pertama kali diperkenalkan pada Microsoft Office 2007, tetapi berbeda kompatibilitasnya ketika dikeluarkan versi 2010. Keunggulannya hanya pada ukurannya yang relatif kecil untuk sebuah dokumen yang kompleks (terdapat tabel, grafik, dan fitur-fitur lainnya). Tetapi konsekuensi teknologinya cukup besar. Format docx bermasalah pada kompatibilitas bukan hanya dengan perangkat pengolah dokumen teks lainnya, tetapi bermasalah pula pada antar versi di dalam Microsoft Office.

Jika memungkinkan, pergunakanlah format dokumen standar yang masih berstandar Microsoft Office 2003. Misalnya seperti doc, xls, ataupun ppt. Format dokumen tersebut memiliki kompatibilitas yang lebih besar apabila dibuka dengan LibreOffice, OpenOffice, dan perangkat dokumen perkantoran lain. Format yang lebih rendah, seperti untuk format dokumen teks berupa RTF (rich text format) memiliki kompatibilitas yang lebih tinggi lagi, tetapi konsekuensinya memiliki ukuran file yang jauh lebih besar. Hampir sebagian besar fitur-fitur dari perangkat pengolah dokumen berbasis sumber terbuka masih cukup kompatibel dengan output Microsoft Office 2003. Sekalipun kompatibilitasnya tidak mencapai 100%, setidaknya masih bisa dibaca dengan optimal oleh Microsoft Office 2007/2010. Kasus mengenai kompatibilitas itu sendiri lebih banyak ditemukan pada format dokumen yang dibuat oleh Microsoft Office 2007/2010 seperti docx, xlsx, ataupun pptx (format XML).

Beberapa Pengaturan
Sistem operasi Linux tidak menyediakan format huruf (fonts) standar yang umumnya digunakan sebagai format huruf standar pada Microsoft Windows dan Microsoft Office. Tentu saja format huruf tersebut merupakan bagian dari kompatibilitas perangkat. Oleh karenanya, pengguna OS Linux pada distro manapun sebaiknya menginstal perangkat huruf standar dari Microsoft yang disebut Microsoft Core Fonts (lihat cara instalasinya di sini). Huruft standar Microsoft tersebut meliputi Times New Roman,

Metode lain untuk meningkatkan kompatibilitas perangkat berbasis sumber terbuka adalah dengan melakukan sejumlah pengaturan dokumen. Bukalah LibreOffice ataupun OpenOffice, kemudian masuk ke kotak jendela [Option] melalui [Tools -> Options...]. Kemudian pindahkan sorotan aktif ke [Load/Save -> Microsoft Office].



Pastikan seluruh pilihan telah diberikan tanda centang seperti pada gambar di atas. Seluruh opsi/pilihan tersebut secara otomatis akan meng-konversi setiap obyek yang dikenali dibuat oleh Microsoft Office untuk masing-masing WinWord, MathType, Excel, maupun PowerPoint. Begitu pula ketika dilakukan penyimpanan akan dilakukan konversi balik agar nantinya dapat dikenali oleh Microsoft Office. Selanjutnya, masuklah ke opsi pengaturan [Writer -> Compatibility] seperti pada gambar di bawah ini.


Pada gambar di atas, pastikan telah memberikan tanda centang pada dua lokasi, yaitu:
[Do not add leading (extra space) between lines of text]
[Consider wrapping style when positioning objets]
Penulis belum mengetahui secara pasti tentang teknis diberikannya dua tanda centang tersebut. Tetapi pada opsi pertama bisa jadi untuk mengurangi risiko munculnya ukuran spasi yang tidak sama dari dokumen yang dibuat oleh LibreOffice Writer dan dibuka oleh WinWord 2007/2010.

LibreOffice vs OpenOffice
Keduanya bisa dikatakan hampir tidak berbeda. Karena sesuatu hal, Oracle yang semula memiliki OpenOffice.Org menjual ke pihak Apache. Di sinilah kemudian sekelompok tim inti pengembang OpenOffice keluar dan mendirikan LibreOffice.Org. Secara teknis, kualifikasi LibreOffice tentunya masih lebih unggul dibandingkan OpenOffice. Terhitung sejak dirilisnya Ubuntu 11.04 sudah tidak lagi menggunakan OpenOffice, melainkan menjadikan LibreOffice sebagai perangkat standar perkantoran. Langkah Ubuntu tersebut diikuti oleh distro-distro lainnya. Sekalipun demikian, OpenOffice masih mendapatkan tempat di pengguna setianya yang bahkan rela menggantikan (replacing) LibreOffice dengan OpenOffice.

Satu keunggulan OpenOffice terletak pada kompatibilitasnya dengan Microsoft Office yang lebih tinggi dibandingkan LibreOffice. Kasus-kasus kompatibilitas tersebut dijumpai pada tiga format dokumen yang berbeda, seperti doc, xls, dan ppt. LibreOffice mungkin unggul dari segi fitur-fitur yang disediakan, tetapi justru di sinilah menjadi sedikit bermasalah dengan kompatibilitasnya dengan Microsoft Office. Pihak pengembang LibreOffice sendiri mengakui, serta masih terus meningkatkan masalah kompatibilitas tersebut pada versi-versi terbarunya.

Dari pengalaman penulis, fakta yang disebutkan mengenai kompatibilitas OpenOffice memang nyata lebih baik ketimbang LibreOffice. Sebagai contoh, ketika penulis bekerja dengan dokumen Word (doc maupun docx). Relatif minim ditemukan risiko elemen yang tidak kompatibel setelah disunting dengan OpenOffice Writer. Misalnya, elemen paragraf, spasi, grafik, maupun tabel. Lain halnya, ketika dibuka dan disunting oleh LibreOffice, kemudian menjadi terlihat berantakan ketika dibuka kembali dengan WinWord. Sayangnya, untuk OS Linux, Anda harus memilih salah satu di antara keduanya. OS Ubuntu maupun Linux Mint tidak lagi menyediakan repositori OpenOffice sebagai aplikasi perkantoran, karena sudah dianggap diisi oleh LibreOffice. Jika hendak menginstalasikan OpenOffice, maka terlebih dahulu harus menghapus LibreOffice (remove/uninstall) dari sistem operasi. Hal ini dikarenakan keduanya dianggap identik dan menangani format dokumen yang sama.

8 comments:

pos kirana mengatakan...

ok terima kasih...

udi mengatakan...

Saya buat tugas dengan Liberoffice malah gak karuan paragraf dan spasinya di ms.office di tempat ngeprint.. Yaahhh.. Mungkin akan saya ganti open officer saja.

Terimakasih infonya gan.

Silvester Adi mengatakan...

Kendala kita sbg linux user adalah saat membuka file office (word, ppt) dari kawan yg windows user, isi file nya menjadi tak karuan. Paragraf dan font berubah, bahkan beberapa animasi tak terbaca. Yah ini emg strategi mereka yg sgt menjengkelkan

erik estrada mengatakan...

Saya sarankan..kl mau print di tempat lain yang tidak menggunakan openoffice dan libreoffice lebih baik di save ke dalam bentuk PDF... LibreOffice dan OpenOffice tu kembaran karena orang2 yang dulu mengembangkan openoffice keluar dan membuat LibreOffice

Anonim mengatakan...

namanya juga gratisan :)

kesatria sughani mengatakan...

gak gratisan juga. itu khan pakai sistem donasi. bangun bareng-bareng. yang namanya microsoft word mau memonopoli, ya... dibuatlah sedemikian rupa.

Rian Ciputra mengatakan...

Betul juga... Mikocok mau memonopoli jadi dibuatlah strategi seperti itu. karena pengguna sudah banyak maka mau tak mau yang minoritas akhirnya ikutan juga. BTW sekarang saya menggunakan WPS Office. mungkin dari para master ada yang tahu tentang review WPS Office...

Rian Ciputra mengatakan...

Betul juga... Mikocok mau memonopoli jadi dibuatlah strategi seperti itu. karena pengguna sudah banyak maka mau tak mau yang minoritas akhirnya ikutan juga. BTW sekarang saya menggunakan WPS Office. mungkin dari para master ada yang tahu tentang review WPS Office...

Poskan Komentar