06 Februari 2013

PENGANTAR POSTING OPEN SOURCE

Terhitung sejak bulan Januari 2013, blog Diari Indonesia akan ditambahkan posting tulisan dengan tema open source. Tujuannya untuk membudayakan penggunaan dan pemanfaatan open source di kalangan masyarakat. Seluruh posting tersebut diambil dari pengalaman penulis selama hampir setahun telah memanfaatkan open source ke dalam pemakaian sehari-hari. Berikut ini adalah pengantar postingan tentang Open Source dan Linux.

Agar diketahui oleh pembaca, bahwa edisi postingan mengenai Linux dan Open Source hanya mencerminkan taraf pembelajaran semata. Bukan mencerminkan kapasitas saya yang hanya sebagai pengguna komputer untuk kebutuhan kerja dan hiburan sehari-hari. Keseluruhan tutorial berangkat dari pengalaman pribadi untuk kasus individual (komputer pribadi). Mengenai aspek pengetahuan (knowledgement) maupun keahlian barulah pada tahap pengetahuan dasar dan umum. Pada prinsipnya, saya hanya ingin mensosialisasikan perangkat yang berbasis pada sumber terbuka (open source) dan sekaligus untuk mengurangi ketergantungan terhadap OS Windows.

Mengapa Harus OS Linux?
Suatu pertanyaan yang sederhana, tetapi akan menjadi kesia-siaan semata apabila tidak bisa menghasilkan jawaban yang meyakinkan. Selama bertahun-tahun lamanya, saya dan mungkin kebanyakan orang sudah terlalu nyaman untuk menggunakan OS Windows. Tidak ada restriksi legal yang berarti di negera ini. Siapapun untuk keperluan individu diperbolehkan menggunakan software bajakan. Selama bertahun-tahun pula, saya seolah sudah menyatu dengan hampir sebagian besar fitur OS Windows. Saya bisa menginstalasikan OS Windows hingga akhirnya siap untuk digunakan oleh siapa saja, bahkan ketika harus menggunakan opsi dual/multi OS booting. Mulai dari Windows 95 hingga akhirnya Windows 8, saya cukup paham bagaimana Microsoft bekerja melalui OS Windows. Begitu pula dengan perangkat perkantoran mulai dari Office 95 hingga Office 2010.

Sebuah kerugian yang cukup besar apabila saya harus beralih dari kemapanan OS Windows tanpa suatu penjelasan yang meyakinkan. Saya harus mengalokasikan waktu dan tentunya biaya untuk beradaptasi dan kemudian bertransisi. Tidak semua perangkat akan dikenali oleh Linux. Tidak semua pula aplikasi yang tersedia akan sesuai dengan kebutuhan.

Semua ini berawal dari keinginan untuk mencari sesuatu yang baru yang tidak dimiliki oleh OS Windows. Satu dari sekian masalah OS Windows adalah celah keamanan dan stabilitas. Seluruhnya bisa dikompensasikan melalui perangkat antivirus ataupun utility. Saya bekerja dengan beberapa orang yang mengharuskan untuk melakukan pemindahan data. Antivirus saja sebenarnya masih tidak mencukupi, tetapi dengan menambahkan fitur keamanan lain akan berisiko mengganggu stabilitas sistem operasi. Dari sinilah yang kemudian mendorong saya untuk mencaritahu tentang OS Linux yang diklaim cukup aman dan stabil. Namun, alasan ini saja belumlah cukup untuk meyakinkan.

Satu-satunya cara untuk mencaritahu hanyalah dengan mencobanya sendiri. Sekitar bulan September 2011, saya memberanikan diri untuk mencoba menginstalasikan OS Linux. Dari mas Iip merekemondasikan untuk menggunakan Ubuntu. Ketika itu, saya menginstalasikan Ubuntu 9.10 Karmic Koala yang sekaligus menjadi OS Linux pertama. Sementara itu, di komputer telah terinstal dua sistem operasi, yaitu Windows XP SP3 dan Windows 7 Ultimate x64. Awalnya sempat kebingungan, karena metode instalasi OS Linux berbeda denga OS Windows. Tetapi ini tidak berlangsung lama, karena kebingungan tersebut bisa terjawab melalui mesin pencari.

Dari Ubuntu v9.10, saya mendapati cukup banyak keunggulan yang tidak akan dijumpai pada OS Windows. Keseluruhan perangkat komputer dikenali dengan baik, termasuk TV Tuner internal. Ketika terinstal telah tersedia perangkat perkantoran yang ketika itu masih menggunakan OpenOffice. Aplikasi multimedia yang tersedia jauh lebih baik ketimbang Windows Media Player. Proses booting jauh lebih singkat dibandingkan ketika booting Windows 7 pertama kali terinstal. Begitu pula proses pembukaan desktop. Padahal fitur yang disediakan oleh Ubuntu v9.10 (pertama kali install) bisa dikatakan jauh lebih padat. Sekalipun efek animasinya (Gnome) telah disetting penuh, tetapi tidak banyak berdampak mengurangi kinerja sistem operasi. OS Linux seperti Ubuntu dan distro serupa bisa dikatakan opsional untuk dilakukan kustomisasi. OS Windows pun demikian, tetapi dampaknya terhadap kinerja sistem operasi sangat besar, bahkan bisa menyebabkan sistem operasi menjadi tidak stabil. Setelah sebulan lamanya berinteraksi dengan Karmic Koala, saya bisa menyimpulkan OS Linux memang lebih unggul ketimbang OS Windows.

Apakah Sulit Menggunakan Linux?
Jika ada anggapan, bahwa Linux lebih cocok untuk karakter expert user. Anggapan tersebut muncul berdasarkan visualisasi yang pernah diterima di masa terdahulu atau di masa-masa awal berkembangnya OS Linux. Anggapan ini pula terbangun, karena tidak lain sudah sangat tergantung dan terbiasa dengan OS Windows. Individu yang sudah sangat tergantung (addicted) atas komoditi dengan brand Microsoft yang kemudian membuatnya enggan untuk mencaritahu. Visualisasi atas environment sistem operasi yang berbeda kemudian memunculkan persepsi bahwa OS Linux hanya diperuntukkan bagi kalangan tertentu (expert user).

Sebagian besar di antara pengguna OS Windows saat ini akan lebih banyak meluangkan waktunya untuk aplikasi perkantoran, multimedia, grafis, dan gaming. Padahal OS Windows pun menyediakan opsi untuk dilakukan modifikasi (hacking OS) melalui registri, batch file, maupun ddl file. Misalnya dengan dikeluarkannya serial OS Windows's Secrets yang tidak lain mencerminakn level expert user. Jika yang dimaksudkan hanya sekedar bereksplorasi dengan aplikasi perkantoran, multimedia, grafis, ataupun gaming, seluruhnya telah disediakan di dalam OS Linux. Beberapa pengembang distro Linux sudah sejak lama menyajikan fitur Software Center. Sementara pihak Microsoft sendiri baru menerapkan setelah rilis OS Windows 8.

Saya akan mengambil beberapa distro Linux yang populer saat ini seperti Ubuntu (dan turunannya), Linux Mint, dan Fedora. Mereka semua telah menyediakan aplikasi yang cukup lengkap dan siap pakai. Jika menginginkan kelengkapan fitur, saat ini pun sudah bermunculan distro turunan seperti Ubuntu Ultimate yang mengemaskan beragam fitur dan aplikasi yang siap pakai. Tidak perlu lagi harus melakukan lebih banyak pengaturan dekstop. Para pengguna diberikan kebebasan untuk memilih sendiri distro Linux yang sesuai dengan kebutuhannya.

Pada tahun 2010, saya pernah melakukan survei ke 3 perusahaan di Yogyakarta yang mengadopsi OS Linux (Ubuntu) ke dalam sistem komputer resmi perusahaan. Seluruh karyawannya yang berhubungan dengan sistem komputer diharuskan untuk mengdopsi teknologi berbasis sumber terbuka. Dari hasil wawancara dengan pihak karyawan, ternyata transisi ke OS Linux tidak berdampak pada kinerja karyawannya. Sejumlah keluhan memang ada, tetapi keluhan tersebut tidak lain karena dampek dari efek psikologis semata. Kesan yang saya peroleh dari mereka para karyawan dan supervisor, bahwa OS Linux ternyata tidak banyak berbeda dengan OS Windows. Undang-undang mengenai karya cipta intelektual mengharuskan kalangan bisnis/pemerintahan untuk menggunakan software legal atau pilihan lain menggunakan software berbasis sumber terbuka.

Jika pertanyaannya mengenai cara instalasi, penyetelan/pengaturan, atau desktop enhancement, sumber-sumber referensi bisa ditemukan dengan mudah di mesin pencari (search engine). Saya pun melalui beberapa posting pada blog turut memberika kontribusi bagi pengguna OS Linux. Sekalipun sebagian besar referensi dituliskan ke dalam bahasa asing, tetapi setidaknya akan memberikan peluang untuk menjawab beragam pertanyaan tentang OS Linux. Sebenarnya tidak berbeda ketika pengguna pertama kali berinteraksi dengan OS Windows.

Penutup
Mereka para generasi mudah yang masih duduk di bangka sekolah memiliki kesempatan yang cukup besar untuk mengenal OS Linux. Setidaknya pengenalan tersebut bisa menjadi bekal bagi mereka ketika hendak melanjutkan studi ataupun bekerja nanti. Tidak sedikit sekarang ini perusahaan-perusahaan yang lebih memilih untuk mengadopsi OS Linux sebagai sistem operasi resmi perusahaan. Sejumlah perguruan tinggi maupun sekolah pun saat ini tengah menjadikan OS Linux sebagai basis pengembangan kurikulum.

Bagi saya, mempelajari dan menggunakan OS Linux adalah bentuk pengkayaan dan penguasaan atas ilmu dan keilmuannya. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi dalam 2 atau 3 tahun ke depan. Bisa jadi dalam waktu dekat, regulasi mengalami pergeseran yang mengharuskan seluruh individu untuk menggunakan software legal. Teknologi komputer personal masih terus akan ada hingga 5-10 tahun ke depan. Disamping itu pula, ini adalah bagian dari kesadaran moral dari diri sendiri untuk tidak menggunakan software bajakan.

Di akhir kata, kepada para pembaca yang mungkin kebetulan mendapati tulisan tentang OS Linux pada blog ini, saya mengharapkan bisa diberikan kontribusi balik berupa koreksi ataupun pengarahan agar bisa memperkaya khazanah keilmuan dan pembelajaran bagi penulis. Jika pun nanti ada pertanyaan, saya akan menjawab berdasarkan pengalaman dan pengetahuan saya selama ini. Harap maklum adanya, karena saya sendiri masih terbilang pemula untuk OS Linux. Semoga saja dengan tulisan dan interaksi dalam blog ini akan semakin memberikan dukungan dalam bermigrasi ke open source dan melepaskan dari ketergantungan dengan OS Windows.

0 comments:

Poskan Komentar