06 Februari 2013

WINDOWS vs LINUX: SERUPA TAPI TAK SAMA (STTS)

Bagi mereka yang belum familiar ataupun belum mengetahui tentang OS Linux akan beranggapan apabila OS Linux adalah sesuatu yang sangat berbeda dengan OS Windows. Apabila diperhatikan secara visual, akan ditemukan banyak sekali kemiripan-kemiripannya dengan OS Windows. Ketika banyak orang mengetakan berbeda dengan OS Windows, sesungguhnya di antara OS Windows dan OS Linux berlaku satu hukum/prinsip STTS atau “Serupa Tapi Tak Sama”. Pada posting ini akan diulas mengenai sejumlah kemiripan-kemiripan dan perbedaan yang harus diketahui bagi mereka yang belum lama atau sedang berada pada tahap pengenalan atas sistem operasi Linux.

Bagian yang paling nyata akan terlihat berbeda berada pada aspek lingkungan sistem operasi. Segala sesuatu di dalamnya, seperti metode, prosedur, perlakukan atas elemen sistem operasi, dan lain sebagainya. Sebagai landasan pemahaman, OS Linux adalah sistem operasi yang didesain dengan basis sumber terbuka atau open source. Siapapun diperkenankan untuk mendistribusikan dan mengemaskan dengan caranya masing-masing. Ibarat sebuah mobil, maka OS Linux adalah mesinnya yang didistribusikan oleh siapa saja yang kemudian disebut Linux distributors. Ketika mendesainkan menjadi sebuah mobil, mereka mungkin mengambil panel dashboard dari merek bukan buatan mereka, termasuk interior, gril depan, suspensi, sistem kemudi, sistem kelistrikan, dan lain-lain. Sedangkan mobil yang dibuat berbasis non open source, seluruhnya memasangkan komponen yang dibuat atau ditentukan sendiri.

Ada pandangan lain yang beranggapan, bahwa sesunguhnya tidak ada berbeda di antara OS Windows dan OS Linux. Sekalipun demikian, tetapi harus dibedakan di antara keduanya. Mengetahui perbedaan di antara keduanya merupakan salah satu fundamental untuk mengenal OS Linux.



Home vs My Document
Direktori [Home] pada OS Linux serupa dengan [My Document] pada OS Windows. Fungsinya untuk menempatkan data ataupun dokumen yang dikelompokkan berdasarkan jenis aktivitas, seperti Documents, Download, Music, Pictures, dan Video. Sama halnya dengan OS Windows, direktori [Home] ditempatkan sesuai dengan profil pengguna (user profile) yang tersedia, seperti administrator, profile 1, Profile 2, dan guest. Di mana letak perbedaanya?

Pada OS Linux, direktori [Home] tidak selalu harus ditempatkan ke dalam partisi yang sama dengan partisi sistem operasi. [My Document] pada OS Windows akan senantiasa berada di default partition, yaitu di partisi C bersama sistem operasi. Hal ini dikarenakan untuk menjadikan direktori [Home] menjadi lebih fleksibel dan lebih aman. Direktori [Home] pada OS Linux didesain pula untuk bisa digunakan oleh distro Linux lain yang terinstal pada komputer yang sama. Misalnya, selain menggunakan OS Ubuntu, terdapat pula OS Linux Mint yang bisa menggunakan direktori [Home] yang sama. Untuk keperluan tersebut, direktori [Home] harus berada pada partisi yang terpisah dari partisi sistem operasi. OS Linux bahkan bisa memanfaatkan media eksternal seperti flash disk untuk dijadikan sebagai direktori [Home].

C:\Windows vs Computer
Seluruh sistem operasi OS Windows diinstalasikan ke dalam partisi C dengan kode partisi C:\Windows. Sama halnya dengan direktori [Computer] pada OS Linux yang diinstalasikan pada partisi utama. Segala sesuatunya tentang lingkungan sistem operasi, termasuk desktop environment tersimpan di dalam direktori tersebut. Partisi C identik dengan partisi sistem operasi dalam OS Windows. Begitu pula dengan OS Linux yang membutuhkan partisi khusus untuk menjadi partisi sistem operasi. Di mana letak perbedaanya?

OS Linux mendedikasikan seluruh isi suatu partisi untuk sistem operasi sebagai partisi tunggal plus opsi penempatan direktori Home. Ini sangat berbeda dengan OS Windows di mana sistem operasinya ditempatkan sebagai folder tunggal (C:\Windows), sekalipun partisi C identik sebagai partisi sistem operasi. Partisi C:\ pada OS Windows bisa diisi data apapun ke dalam direktori My Document.

OS Windows memisahkan direktori sistem operasi (C:\Windows) dan software/aplikasi yang terinstal. Untuk aplikasi yang terinstal akan ditempatkan lokasi (default) di folder C:\Program files ataupun C:\Program files (x64) untuk sistem berbasis 64 bit. Ini bermakna pula, bahwa aplikasi ataupun software dapat diinstalasikan di partisi ataupun folder manapun yang dikehendaki oleh pengguna. Berbeda dengan OS Linux di mana seluruh aplikasi yang terinstal ditempatkan hanya di partisi sistem operasi yang diberi nama [Computer].

Pengkodean Partisi
Dalam lingkungan OS Windows akan dikenal sistem pengkodean partisi dengan aksara yang berurutan. Misalnya, C, D, E, F, G, dan seterusnya. Partisi C menyatakan partisi sistem operasi atau partisi boot. Sebenarnya hampir tidak berbeda dengan OS Linux yang menampilkan pembacaan atas media penyimpanan (storage device atau hanya disebut device). Perbedaannya terletak pada pengkodean partisinya. OS Linux memiliki sistem sendiri dalam pengkodean partisi atas media penyimpanan dengan kode sd (storage device). Media penyimpanan yang berbeda akan diberikan kode penyimpanan yang berbeda pula. Sementara pengkodean partisinya mengikuti pengkodean media penyimpanan. Ilustrasi mengenai penjelasan tadi bisa dilihat pada gambar di bawah ini.




Di dalam File Explorer (OS Windows), kode partisi diperlihatkan beserta nama partisinya. Tetapi berbeda dengan OS Linux yang hanya menampilkan nama partisinya.

Mounted vs Unmounted
Pada OS Windows, seluruh partisi media penyimpanan secara otomatis bisa diakses, seketika setelah sistem operasi masuk ke tampilan desktop. Misalnya, dari aplikasi Winword bisa langsung mengakses dokumen yang tersimpan di salah satu media penyimpanan pada partisi tertentu. Berbeda dengan OS Linux yang hanya memperkenankan akses ke direktori [Home]. Ketika membuka LibreOffice Writer, tidak bisa begitu saja langsung mengakses salah satu dokumen yang tersimpan di salah satu partisi (drive ataupun folder).

Dalam lingkungan sistem operasi Linux dikenal istilah mounted dan unmounted volume. Ketika pertama kali masuk ke tampilan desktop, dalam kondisi default hanya diperkenankan akses ke dalam satu partisi, yaitu partisi [Computer] atau partisi sistem operasi. Apabila direktori [Home] ditempatkan terpisah dari partisi [Computer], maka terdapat dua partisi yang diperkenankan untuk diakses. Dalam hal ini, partisi lain berada dalam status [unmout]. Agar dapat diakses, partisi tersebut harus diaktikan dengan prosedur mounting partition dengan cara meng-klik partisi yang dikehendaki untuk dibuka (mounting). Partisi yang telah terbuka (mounted) akan diberikan tanda pada file explorer seperti yang diperlihatkan pada Gambar 1. Butuh prosedur tersendiri agar dapat menyetel partisi tertentu otomatis aktif (mounted) di setiap kali restart.

Extended vs NTFS/Fat32
Agar dapat menempatkan sejumlah kode binari yang berisikan data, setiap sistem operasi membutuhkan media penyimpanan yang didesain dengan format tertentu supaya dapat mengoptimalkan fungsi penyimpanan (read and write). Dalam lingkungan sistem operasi Windows dikenal dua macam jenis partisi, yaitu Fat32 dan NTFS. Keduanya berbeda teknologi dan berbeda pula keunggulannya. OS Linux pun membutuhkan persyaratan kondisi yang serupa, tetapi berbeda teknologinya. Teknologi partisi yang digunakan adalah extended file system atau disingkat ext yang saat ini sudah mencapai ext4 atau dibaca forth extended file system. Selain ext4, masih ada dua lagi jenis partisi OS Linux, yaitu ext 2 dan ext3. Satu alasan mengapa OS Linux mengadopsi teknologi ext4 dikarenakan jauh lebih unggul dibandingkan NTFS. Keunggulan tersebut bisa berupa kinerja maupun tingkat keamanan.

Sistem operasi yang mengadopsi teknologi ext akan jauh lebih fleksibel dibandingkan yang hanya mengadopsi sistem NTFS ataupun Fat32. Seperti pepatah yang mengatakan, ibarat katak dalam tempurung, OS Windows tidak dapat membaca partisi yang diformat dengan teknologi ext. Lain halnya dengan OS Linux yang mengadopsi teknologi ext bisa membaca partisi berteknologi NTFS maupun Fat32.

Teknologi ext memiliki performa pembacaan yang lebih cepat dengan penyimpanan yang lebih efisien dibandingkan NTFS. Sebagai ilustrasi, ext4 akan mengefisienkan lebih dari 100% kapasitas penyimpanan dengan NTFS. Jika harus menggunakan OS Windows 7 (NTFS), maka dibutuhkan sekitar 38 Gb, maka ketika dikonversikan ke ext4 akan menjadi sekitar 9 Gb dengan kelengkapan fasilitas maupun fitur yang sama. Itu sebabnya, OS Linux tidak membutuhkan ruang sistem operasi yang besar, bahkan cukup dengan ruang sebesar 25 Gb. Sedangkan untuk Windows 7 Ultimate dengan kelengkapan software yang optimal setidaknya akan membutuhkan ruang sekitar 48 Gb. Untuk lebih detail mengenai perbedaan di antara kedua teknologi tersebut bisa dibaca di sini.

No Virus Threat
Aspek keamanan (Security) masih menjadi isu utama dalam pengembangan sistem operasi. Seperti halnya dengan OS Linux yang masih terus menyempurnakan dengan menutup celah keamanan yang tidak terdeteksi. Sekalipun demikian, isu keamanan di dalam OS Linux jauh lebih rumit, ketimbang OS Windows hanya masih berkutat dengan celah keamanan atas virus yang punya kemampuan merusak atau mengganggu stabilitas maupun reliabilitas sistem operasi. Tidak seperti OS Windows, spyware bukan hanya bisa menerobos, tetapi mampu pula memodifikasi kernel OS Windows. Masalah ini bisa dikatakan nyaris tidak mungkin dilakukan, kecuali dilakukan oleh sebuah operasi dunia maya skala besar. Hal ini dikarenakan struktur dalam sistem operasi OS Linux memiliki sistem keamanan yang terlampau rumit untuk diterobos pembuat virus (Sumber). Untuk bisa menempel ke dalam memori, sebuah program haruslah memiliki persyaratan paket yang telah terdaftar dalam repositori. Jika Anda menggunakan OS Linux, Anda tidak perlu direpotkan lagi dengan isu virus dan sejenisnya. Di OS Windows, saya sampai harus mengaktifkan firewall plus antivirus ganda.

No Defrag
Setiap 6 bulan sekali, setidaknya saya rutin melakukan defragging ke partisi OS Windows 7. Terkadang bisa sampai 3-4 bulan sekali untuk mengefisienkan fungsi read-write atas penempatan data. Partisi OS Windows akan senantiasa mengalami defragmented setiap kali terdapat perubahan ekstrim atas aktivitas read-write. Struktur data yang tidak teratur akan berdampak menyebabkan proses read-write menjadi kurang optimal. Rutinitas semacam ini ternyata tidak dijumpai setelah menggunakan OS Linux. Saya tidak bisa menjelaskan secara detail dan teknis, tetapi OS Linux memiliki manajemen pengaturan alokasi data yang lebih efisien dan efektif, sehingga meminimalkan terjadinya ruang-ruang kosong seperti pada NTFS maupun Fat32. Keterangan lebih lanjut bisa dibaca di sini.

No Refresh
Salah satu kebiasaan yang sering dilakukan oleh pengguna OS Windows adalah mengaktifkan perintah [Refresh]. Biasanya paling sering dilakukan pada area desktop. Lupakanlah [Refresh], ketika Anda berada di lingkungan OS Linux. OS Ubuntu sebenarnya memiliki fitur yang serupa dengan refresh dengan menekan tombol [F5]. Tetapi F5 tadi hanya untuk me-refresh tampilan pada browser, bukan pada desktop. Jika yang sering pada anggapan banyak orang untuk membersihkan ruang memori (RAM), Anda tidak perlu khawatir, karena OS Linux lebih efisien dalam mengalokasikan ruang memori internal (Sumber).

No Registry Manager, No More Utilities
Bagi pengguna OS Windows tentu sudah cukup akrab dengan sejumlah utility seperti Ccleaner, TuneUp Utilities, Windows 7 Manager, dan masih banyak lainnya. Di dalam paket software tersebut tersemat fitur pembersih registry (registry cleaner), disk defrag, spyware detector, dan masih banyak lainnya. Software-software tersebut diklaim dapat mendongkrak kinerja OS Windows. Setali tiga uang, saya merasakan cukup banyak kemanfaatan atas software tersebut selama menggunakan OS Windows. Tetapi pada lingkungan OS Linux, Anda tidak akan pernah menjumpai utilities semacam itu. Aspek perawatan (maintanance) di OS Linux hanya merekomendasikan pada aplikasi pembersihan seperti Unity Janitor ataupun BleachBit.

Setup File vs Package Manager
Dalam lingkungan sistem operasi Windows, setiap kali hendak instal aplikasi, cukup dengan mengakses melalui file setup (Setup.exe). Setelah proses selesai, software tersebut bisa langsung dijalankan. Selama proses setup, akan dilakukan pemindahan sejumlah file dan penyetelannya ke dalam sistem operasi Windows, termasuk ke dalam database registry. Ketika tidak dibutuhkan, cukup dijalankan dengan prosedur uninstall melalui fitur [Add/remove Software], maka seluruh data yang telah dimuatkan ke dalan sistem operasi akan dihapus. Prosedur seperti ini terkadang diklaim lebih efisien, karena hanya cukup dijalankan melalui satu tindakan, kemudian mengikuti wizard yang tersedia.

Lain halnya dengan lingkungan OS Linux yang lebih menitikberatkan pada pemanfaatan Package Manager. OS Linux memiliki prosedur yang berbeda untuk keperluan install maupun uninstall aplikasi atau software. Agar bisa diinstal, disyaratkan untuk memasukkan repositorinya terlebih dulu, kemudian dilakukan update repositorinya. Jika disetujui, nantinya baru bisa dilakukan proses instal aplikasi. Instalasi aplikasi diartikan sebagai install paket aplikasi. Ada dua macam jenis paket di dalam OS Linux, yaitu deb package dan rpm package. Ketika hendak uninstall aplikasi, cukup dengan menghapusnya, maka secara otomatis akan meng-uninstall aplikasi tersebut. Untuk melakukan membutuhkan prosedur dengan menuliskan baris perintah pada terminal. Saat ini distro OS Linux telah mengembangkan metode instalasi paket yang dapat dijalankan tanpa harus melalui terminal applet.

Instal Driver Perangkat
Setiap kali pemasangan perangkat, OS Windows mengharuskan perangkat tersebut telah dikenali oleh sistem operasi agar dapat difungsikan. Untuk bisa mengenalinya membutuhkan aplikasi yang disebut driver yang sekaligus mencerminkan perangkat tersebut mendukung OS Windows. Tetapi OS Windows pun memiliki driver sendiri yang disebut native driver yang telah tersedia dan langsung aktif ke dalam database OS Windows. Dalam lingkungan OS Linux, gambaran di atas relatif jarang sekali ditemukan. Hanya ada beberapa perangkat (komponen maupun periperah komputer) yang memberikan pilihan dukungan ke OS Linux. Itu sebabnya, OS Linux didesain untuk sedemikian rupa agar dapat menerima perangkat yang terpasang. Anda mungkin tidak akan menemukan kasus di mana OS Linux mengharuskan untuk menginstalasikan driver. Mayoritas perangkat yang dikenali akan dideteksi sebagai driver universal. Apabila terdapat permintaan pembaharuan, tidak lain hanya untuk mendukung pengaturan atas perangkat itu sendiri. Tetapi ini pun tergantung dari vendor yang membuat perangkat tersebut.

Terminal OS Linux vs Command Prompt OS Windows
Satu di antara sejumlah kemiripan dengan OS Windows adalah fitur terminal applet. Sangat mirip dengan command prompt pada OS Windows. Pada OS Windows, fungsi command prompt untuk mengakses sejumlah perintah sistem operasi yang dijalankan dalam lingkungan DOS. Fungsi terminal pada OS Linux sangat luas, bahkan mampu untuk mengendalikan aplikasi pada desktop seperti install paket, instal aplikasi, remove package, open/close aplikasi, membuka fitur System Settings, dan lain sebagainya.

Penutup
Sesungguhnya masih ada banyak sekali perbedaan fundamental di antara OS Windows dan OS Linux. Uraian yang saya sampaikan di atas disadur dari beberapa sumber yang disesuaikan dengan pengalaman saya selama mangdopsi OS Linux. Beberapa sumber yang saya kutip di sini memiliki pandangan yang berbeda, sekalipun memiliki kesamaan makna. Begitu pula dengan uraian yang diulas di atas. Akhir kata, siapapun Anda bisa membuat sendiri perbedaan tersebut.

0 comments:

Poskan Komentar