Tampilkan postingan dengan label Dari Penulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dari Penulis. Tampilkan semua postingan

05 Januari 2010

ANDA BOLEH MEMPLAGIAT TULISAN BLOG INI

Inilah resolusi yang sekaligus adalah misi pembuatan blog Diari Indonesia. Saya punya prinsip untuk tidak membakukan karya cipta intelektual. Siapapun pengunjung boleh saja untuk menyalin ulang (copy paste) ataupun memplagiat tulisan di blog ini, tanpa harus seijin penulis. Motif saya menulis di sini adalah memberikan pencerahan yang Insya Allah ditujukan kepada masyarakat (pengunjung blog). Hanya satu hal yang saya minta ketika hendak memplagiat tulisan di blog ini, jangan pernah untuk menyembunyikan informasi di blog ini. Ikuti penjelasan yang melatarbelakangi motif ini.

Sepanjang bulan Agustus hingga Nopember 2009, saya melakukan survei tertulis kepada 1500 responden. Materi utama dari survei tersebut adalah pemahaman masyarakat terhadap segala aspek permasalahan nasional, termasuk pula di dalamnya tentang kebijakan pemerintah. Dari pentabulasian hasil survei pada tanggal 2 Desember 2009, diperoleh kesimpulan:
1. Pemahaman masyarakat terhadap indikator-indikator nasional masih lemah
2. Latar belakang pendidikan tidak berpengaruh terhadap taraf pemahaman
Dari sebanyak 1500 responden, terdiri atas mereka yang berpendidikan SMU/SMK, D3/S1, S2, dan S3. Hanya 178 responden yang tidak memiliki pekerjaan atau penghasilan tetap. Pertanyaan yang diajukan meliputi materi-materi mengenai bidang kewarganegaraan, berita, dan kepemimpinan. Adapun bidang-bidang yang ditanyakan meliputi bidang politik, hukum, ekonomi, pertahanan, dan keamanan. Metode penyebaran dilakukan dengan purposive random sampling dengan alpha sebesar 5%.

Dari hasil survei tersebut dapat diambil kesimpulan dasar apabila masyarakat masih awam untuk memahami bagian yang menjadi kesadaran warga negara. Tidak mengherankan apabila masyarakat mudah terpengaruh pembentukan opini dari hasil survei-survei nasional mengenai kepemimpinan. Sejauh ini, saya belum melakukan observasi lebih lanjut seperti studi kepustakaan untuk menjelaskan hasil survei tersebut. Saya pun belum menghitung ulang keakuratan, baik berupa validitas maupun reliabilitas. Besar kemungkinan akan dilakukan survei ulang secara terbatas. Namun, untuk pendugaan sementara, hasil survei mencerminkan rendahnya kemauan masyarakat untuk mau belajar tentang kewarganegaraan dan rendahnya partisipasi dari partai politik untuk bisa memberikan pendidikan politik bagi warga negara.

04 Januari 2010

ALASAN TIDAK MENULIS SEMENTARA

Hampir satu tahun lebih, saya meninggalkan blog ini. Sebelumnya saya mohon maaf kepada siapapun pihak yang telah mengunjungi blog ini dan belum mendapatkan respon. Saya juga berterima kasih kepada Anda yang baru saja atau tidak sengaja mampir ke blog Diari Indonesia. Adapun alasan untuk sementara terhenti kegiatan menulis dikarenakan kesibukan pekerjaan dan kesulitan penulis dalam mengatur waktu untuk menulis blog. Ini adalah yang kedua kali penulis mengalami stagnan dalam kegiatan menulis blog. Di tahun 2010 ini, penulis sudah merencanakan metode pengaturan waktu kerja dan penulisan blog. Sebagai pekerja lepas, penulis masih belajar untuk menyesuaikan waktu dan membagi pikiran/konsentrasi. Mohon dukungannya kepada semua pengunjung. Terima kasih, Wasalam!

26 Februari 2009

BLOGGER SEBAGAI AGEN PERUBAHAN

Di Indonesia, jumlah blogger bisa dikatakan sangat tidak proporsional dengan jumlah penduduk yang sudah mencapai 220 juta jiwa. Blogger yang aktif sendiri mungkin bisa dikatakan kurang dari 1 juta orang. Tulisan yang disampaikan blogger tidak semata berbicara tentang bisnis atau sekedar menuliskan jurnal pribadi. Tidak sedikit blogger yang sudah berbicara atau memberikan pandangan tentang politik, ekonomi, sosial, seni, ataupun budaya. Informasi yang mereka sampaikan bisa dikatakan memiliki bobot atau nilai yang lebih baik dibandingkan tulisan pada majalah ataupun surat kabar yang terorganisir. Kekuatan blogger banyak diakui oleh media-media informasi ternama sebagai referensi, sekalipun belum pada taraf 'Terakreditasi'. Jika blogger mampu berperan atau memberikan pengaruh pada media, bukankah ini berarti blogger memiliki potensi untuk menjadi agen perubahan (agent of change)?

Keunikan Penulis Blog (Blogger)
Mereka bisa menuliskan apa saja yang mereka inginkan, tanpa tekanan ataupun target. Mereka para blogger pun bebas untuk mengekspresikan gaya penulisan ataupun pemikiran. Tidak terikat oleh waktu dan tidak dibatasi oleh aturan dan sistem. Blogger tidak harus memiliki visi ataupun misi untuk karya tulisnya sendiri. Mereka yang seringkali membahas soal adsense ataupun trik blogging, bisa menuliskan topik lain yang ekstrim seperti politik, ekonomi, sosial, seni, ataupun budaya. Mereka para blogger tidak memiliki aturan ataupun sistem, karena merekalah sistem dan aturan.

Anda mungkin bisa mengatakan jika suatu blog terlihat seperti jurnal pribadi atau diari. Jangan lupa, selama blog tersebut dibaca oleh pengunjung, itu berarti si penulis memiliki potensi untuk mempengaruhi pembaca. Lima belas pengunjung atau pembaca per hari mungkin tidak berarti apapun dibandingkan dengan media informasi lain yang bisa mencapai ratusan pengunjung per hari. Perlu diketahui, pembaca blog adalah manusia yang juga makhluk sosial. Mereka para blogger tidak hanya memiliki kekuatan untuk didengar, akan tetapi juga diperbincangkan. Tulisan di media informasi lebih cenderung untuk didengar, sedangkan tulisan pada media blog cenderung untuk diperbincangkan.

Tidak mengherankan apabila media informasi seperti Detikcom (DetikBlog) atau Kompas (Kompasiana) mulai membuka diri bagi keberadaan penulis-penulis lepas (blogger). Alasannya cukup sederhana, mereka ingin mengambil keuntungan dari kekuatan penulis lepas, yaitu kekuatan untuk diperbincangkan. Sesuatu yang menarik untuk diperbincangkan adalah sesuatu yang tidak terikat dari aturan-aturan yang membatasi kebebasan berkspresi dan mengeksploitasi pemikiran individu.

Jika para anggota dewan (DPR/DPRD) kesulitan mencari aspirasi, cukuplah bagi mereka untuk menelusuri tulisan-tulisan blog. Ada perbedaan materi penulisan atau penyajian antara media informasi umum dan blog. Media informasi/berita mungkin unggul dari segi kelengkapan materi, akan tetapi media blog unggul dari aspek detail aspirasi. Media informasi/berita bisa menjadi sumber inspirasi, akan tetapi media blog adalah sumber aspirasi dan sekaligus inspirasi. Media informasi/berita akan mengatakan informasi mengenai kondisi lapangan pekerjaan. Media blog akan memberikan detail mengenai kondisi lapangan pekerjaan dan sekaligus memperbincangkannya.

Menjadi Agen Perubahan: Pilihan
Para blogger mungkin banyak yang tidak menyadari jika dirinya sudah menjadi bagian dari agen perubahan. Bangsa dan negara ini masih banyak membutuhkan perubahan yang tentunya ke arah yang lebih baik atau menyempurnakan. Agen perubahan tidaklah terlalu rumit untuk dijelaskan. Suatu tulisan bisa mengandung makna untuk mencerahkan, memprovokasi, ataupun mempropaganda. Tidak perlu membutuhkan traffic atau jumlah pengunjung, akan tetapi satu pembaca saja sudah cukup untuk membuka kesempatan bagi suatu perubahan.

Ketika seorang pembaca membaca tulisan di suatu blog, katakanlah hanya membaca bagian satu paragraf atau judul posting, maka di sinilah mulai tercipta suatu transisi pemikiran. Inilah yang disebut dengan ‘Kekuatan Judul’. Penulis di kolom surat kabar atau majalah seringkali menggunakan ‘Kekuatan Judul’ untuk mengilustrasikan tulisan secara keseluruhan. Ini berarti, satu judul (posting) identik dengan satu pemikiran.

Seorang penulis dari suatu blog menuliskan mengentai opini keraguannnya atas Pemilu 2009. Penulis yang nampaknya cukup berpendidikan ini menilai dirinya mengalami banyak kesulitan apabila mengikuti aturan pemilihan sekarang ini. Tulisan yang dipublikasikan sekitar bulan Oktober 2008 lalu, tanpa disadari oleh penulisnya telah mendorong opini publik secara perlahan yang selanjutnya menciptakan polemik golput. Dari sitemeter yang ditampilkan nampaknya blog si penulis dikunjungi rata-rata per hari sekitar 5-10 pengunjung.

Adalagi seorang penulis blogger yang hanya memiliki page rank sekitar 1 atau 2. Traffic dari Alexa masih jauh di atas angka 1 juta, bisa jadi sekitar 2 jutaan. Jurnal yang diposting hanya berbicara soal catatan hariannya sendiri. Suatu ketika saya mendapati postingnya yang berpandangan tentang fatwa haram untuk golput dari MUI. Bobot tulisannya bisa dikatakan masih jauh di bawah bobot suatu pemikiran ilmiah. Catatan yang paling penting disumbangkan penulis ini adalah aspirasi dari hati nurani yang menolak atas dikeluarkannya fatwa haram golput. Argumen yang disampaikan si penulis bisa jadi sangat lemah, akan tetapi tema yang disampaikan sudah menjadi inspirasi bagi penulis blog yang populer.



Saya beri suatu ilustrasi. Seorang penulis blog yang populer seringkali menjelajahi artikel melalui mesin pencari. Ketika menemukan kata kunci yang menarik, si penulis kemudian akan mengunjungi artikel yang dicari. Si penulis yang blognya memiliki page rank dan traffic yang tinggi tadi mungkin tidak sampai selesai membacanya. Dari kunjungan yang singkat tadi kemudian si penulis memperoleh masukan ide/gagasan penulisan bisa berupa isi ataupun tema penyampaian tulisan. Dari ide/gagasan ini kemudian si penulis mengolah ulang untuk diwujudkan ke dalam tulisannya sendiri.

Bisa dibayangkan jika kunjungan insidensial dari pengunjung yang bisa jadi juga seorang kolumnis kemudian terpengaruh dengan sebagian tulisan, kata kunci, ataupun tema tulisan dari penulis yang tidak populer tadi. Secara tidak langsung, si penulis blog yang tidak populer tadi memberikan kontribusi bagi terciptanya tulisan populer yang dikunjungi ratusan pembaca setiap harinya. Sekalipun tema ataupun tulisan dari si penulis blog yang tidak populer tadi tidak disampaikan ulang, akan tetapi secara tidak langsung telah menginspirasikan terciptanya ide atau gagasan baru. Bilamana halnya si pengunjung adalah para pengambil keputusan bisnis, organisasi, ataupun pemerintah?

Keputusan ada pada blogger sendiri, ikut serta menjadi bagian dari agen perubahan ataukah hanya berdiam diri menyaksikan keterpurukan bangsanya sendiri. Bangsa Indonesia masih jauh tertinggal dari bangsa-bangsa lainnya di dunia. Bangsa Indonesia patut untuk bersyukur karena masih diberikan ruang dan waktu untuk berbenah. Sekalipun demikian, kesempatan berupa ruang dan waktu tidak akan pernah berulang dalam satu ruang dan waktu yang sama. Tentunya agen perubahan yang dimaksudkan di sini adalah perubahan untuk menjadikan negara dan bangsa ini lebih baik dari sebelumnya. Hanya bergantung pada pemerintah, politisi, ataupun sistem demokrasi tidaklah cukup. Perubahan hanya bisa berlangsung dan terwujud apabila ada partisipasi penuh dari seluruh warga negaranya.

10 Februari 2009

AKHIRNYA KEMBALI

Sebelumnya penulis mohon maaf karena hampir satu bulan terakhir tidak bisa aktif menulis di blog ini. Selain sibuk mengurusi kegiatan sehari-hari dari penulis sendiri, penulis juga masih harus mengorganisasi segala sumberdaya agar dapat menghidupkan blog dan segala sesuatu yang mendukung aktivitas menulis dan meneliti. Sekalipun demikian, penulis masih terus memantau berita dan perkembangan terkini yang nantinya dapat digunakan untuk bahan penulisan. Pihak penulis mengucapkan rasa belangsungkawa kepada Almarhum Ketua DPRD Sumatera Utara akibat insiden yang tidak perlu hanya untuk memaksakan berdirinya Propinsi baru. Penulis akan membuat kajian sendiri tentang pemekaran wilayah yang nampaknya sudah mulai keluar dari jalur persatuan dan kessatuan nasional. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah begitu banyak memberikan dukungan atas penulisan di blog ini. Tidak lupa pula penulis ucapkan terima kasih kepada pengunjung yang memberikan kesempatan bagi penulis untuk bisa menyampaikan aspirasi dan pemikiran yang Insya Allah bisa bermanfaat.

18 Desember 2008

MENYOROTI PERAN MAHASISWA DAN PERGURUAN TINGGI

Setelah melakukan kajian atas kasus RUU BHP yang sudah disahkan oleh DPR, ada satu pertanyaan sehubungan dengan peran pendidikan nasional. Apakah kiranya yang sudah diberikan oleh perguruan tinggi (negeri) di Indonesia selama ini? Perguruan tinggi bahkan lebih banyak menyumbangkan lulusan-lulusannya bekerja pada pemilik modal yang sama sekali tidak memihak kepada kepentingan buruh. Tidak hanya itu, perguruan tinggi negeri bahkan menjadi langganan tetap perusahaan-perusahaan asing yang tidak begitu banyak memberikan kontribusi secara ekonomi kepada Indonesia.Ketika krisis moneter tahun 1998, lalu naiknya harga BBM hingga mendekati 100% pada tahun 2005, dan krisis energi sekarang ini, perguruan tinggi negeri tidak banyak memberikan pemikiran ataupun solusi kepada masyarakat. Bagaimana kiranya perguruan tinggi negeri menjawab tantangan pengangguran di tahun 2009? Sudah saatnya sekarang ini masyarakat mengambil haknya untuk mengawasi dan mengatur perguruan tinggi negeri.

Penolakan UU Badan Hukum Pendidikan (BHP)
Setelah mengkaji dan mempelajari RUU BHP dan kasus penolakan mahasiswa terhadap RUU BHP (tulisan sebelumnya), saya mulai bertanya, ‘Ada apakah sesungguhnya yang terjadi di institusi negeri selama ini dan apakah sesungguhnya motif yang membuat mereka menolak RUU BHP?’. Saya yakin sekali jika mereka tentu sudah mempelajari dengan baik isi draft ataupun susunan lengkap (final) dari RUU BHP. Saya menduga, nampaknya ada pihak yang tidak senang dengan istilah pengawasan keuangan dalam UU BHP. Jika UU BHP diberlakukan, maka setiap perguruan tinggi yang berstatus BHP diharuskan untuk mempublikasikan laporan keuangan konsolidasi tahunan di media cetak (dalam Bahasa Indonesia).

Sejak status Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terbentuk hingga menjadi status BHMN, tidak sekalipun di antara mereka yang pernah mempublikasikan laporan keuangannya. Tentunya publikasi laporan keuangan tahunan (konsolidasi) dapat dijadikan acuan bagi masyarakat untuk melakukan pengawasan secara langsung. Bisa dipastikan di kemudian hari akan banyak di antara mereka yang mungkin akan diciduk oleh KPK. Mereka tidak akan bisa dengan mudah melakukan praktek pendanaan ilegal yang hasilnya tidak dilaporkan ke institusi terkait. Sekalipun penetapan angka 2/3 ditanggung oleh pemerintah dan sisanya oleh anak didik masih belum jelas, akan tetapi ada dugaan jika angka-angka itu akan merugikan pihak-pihak pengelola di perguruan tinggi negeri yang selama ini melakukan praktek pendanaan ilegal.

Menyoroti Aspek Moral
Suatu kenyataan apabila mereka yang menempuh di PTN adalah mereka yang umumnya berstatus ekonomi menengah ke atas. Mahasiswa PTN tidak lagi seperti sebelum dekade 2000an yang umumnya masih didominasi oleh mereka yang berstatus ekonomi menengah ke bawah. Sekalipun mereka saat ini memiliki lebih banyak sumberdaya, akan tetapi kontribusi kepada masyarakat jauh lebih rendah dibandingkan masa sebelum dekade 2000an. Dengan diperlengkapi fasilitas lab penelitian moderen ditambah literatur yang selalu terbaharui, mereka bahkan tidak terpikirkan untuk mencari solusi atas mahalnya harga BBM. Sebaliknya, Joko Sutrisno yang hanya lulusan SD saja masih bisa memikirkan ide alat penghemat BBM yang disebut electrolizer. Temuan Pak Joko bahkan seperti tidak mengilhami mereka untuk mencari penemuan-penemuan baru yang lebih baik.

Ketika terjadi krisis beras beberapa waktu yang lalu, pihak PTN bahkan tidak banyak bersuara untuk memberikan solusi kecuali hanya menyampaikan paradigma dan wacana-wacana kosong. Pihak PTN seharusnya bisa menyuarakan untuk memberikan solusi dengan menciptakan sumber pangan alternatif. Ketika terjadi banyak pemutusan hubungan kerja (PHK) pada tahun 1998 dan 1999, pihak PTN tidak terpikirkan jika ketika itu sektor usaha mikro yang menjadi penopang perekonomian. Pihak PTN baru menyadarinya setelah usaha mikro mulai berkembang cepat secara kuantitas di lingkup regional. Kita lihat saja bagaimana sikap dari PTN menghadapi tantangan krisis di tahun 2009. Perlu diketahui, jika berpedoman pada Tri Dharma Perguruan Tinggi, maka tugas pokok dari pendidikan tinggi seperti PTN ini salah satunya adalah menciptakan suatu karya kepada masyarakat. Pada kenyataannya, mereka lebih berorientasi untuk mengikuti program akademik, lalu menunggu kelulusan dan bekerja kepada para pemilik modal dan investor asing yang tidak berpihak kepada kepentingan buruh.

Peran dari pengajar (dosen) juga perlu mendapatkan sorotan. Selain mereka jarang untuk membuat buku panduan dan buku-buku lainnya, mereka justru memaksakan anak didiknya untuk lebih tergantung pada literatur dan buku yang berbahasa asing. Sejauh ini, para pendidik juga hampir tidak pernah memberikan kontribusi penulisan ilmiah berupa jurnal dan sejenisnya untuk tingkat internasional. Dana dari proyek-proyek penelitian yang mereka terima pun seringkali tidak pernah dilaporkan secara transparan. Seringkali pula, para pengajar bukannya berada pada posisi yang memberikan pelayanan pendidikan, akan tetapi justru menjadi pihak yang harus dilayani oleh anak didik. Karena mereka ini juga memberikan kuliah di PTS, maka praktis budaya untuk dilayani pun dialami di hampir semua lingkungan PTS.

Penutup
Fakta ataupun kenyataan yang diungkapkan dalam tulisan ini bukan bermaksud untuk mengeneralisasikan, akan tetapi memang demikianlah yang ditemukan penulis di lingkungan PTN maupun PTS di Indonesia. Sudah saatnya PTN harus mengembalikan uang rakyat yang selama ini digunakan untuk membiayai fasilitas dan pembangunan infrastruktur. Sudah saatnya pula PTN berpihak kepada kepentingan rakyat dengan berasaskan pada norma dan kaidah keilmuan yang dimilikinya dengan berasaskan pada Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (bukan kepada pemilik kapital dan investor asing yang tidak berpihak pada kepentingan buruh).

Masyarakat sekarang mulai harus menyadari haknya jika selama ini PTN telah menggunakan uang rakyat. Dalam UU BHP ditegaskan kembali jika uang rakyat yang dipergunakan adalah sebesar 2/3 dari total biaya operasional. Masyarakat berhak untuk mengawasi penggunaan uangnya yang dimanfaatkan oleh pihak PTN. Tidak hanya itu, masyarakat pun berhak untuk menuntut kontribusi dari PTN sesuai dengan kaidah keilmuannya.

15 November 2008

BUKAN YANG PERTAMA

Sopan memang perlu, tapi tidak selalu harus beraturan. Tertib itu penting, tapi tidak selalu harus terlihat lurus. Ada saatnya, sopan itu perlu. Ada waktunya pula ketika ketertiban menjadi sesuatu yang penting.
Sederhana tidak mesti terlihat kumal. Mahal tidak berarti selalu sempurna. Murah tidak selalu menjadi sesuatu yang dicari.

Sopan, hanya apabila sesuai di mana kamu berada.
Tertib, jika tidak bisa dikerjakan sekaligus.
Sederhana, hanya untuk yang lebih menyukai isi.
Mahal, jika saja bisa bermanfaat.
Murah, karena mampu untuk berbesar hati.

Pergunakanlah Bahasa Indonesia yang baik dan benar, di situ lah kamu dikatakan sopan di negeri ini.
Susunlah perencanaan hidupmu, supaya kamu bisa meraih semua yang kamu inginkan.
Jangan pernah pedulikan dirimu, jika kamu tidak bisa membuat orang lain menghargaimu.
Jadikanlah dirimu sebagai manusia yang sempurna dengan menjadikan dirimu bermanfaat untu orang lain.
Bersyukurlah, karena di situ lah awal dari kesempurnaan.