Tampilkan postingan dengan label Mindset Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mindset Nasional. Tampilkan semua postingan

14 Januari 2012

PENTINGNYA PENGETAHUAN INTELIJEN

Istilah intelijen akan senantiasa ditafsirkan dengan kegiatan mata-mata (spionase). Ada pula yang kemudian menghubungkan dengan nama-nama institusi spionase seperti KGB, Mossad, MI6, ataupun CIA. Anggapan-anggapan tadi tidaklah keliru dan benar adanya. Ada yang sesungguhnya jauh lebih penting dari sekedar penafsiran, yaitu pengetahuan (knowledge) intelijen. Artinya, intelijen sebagai pengetahuan seharusnya dapat menjadi suatu kebutuhan sehubungan dengan adanya upaya untuk mewujudkan kewaspadaan dan ketahanan nasional.

Sekilas Mengenai Sejarah Intelijen
Kegiatan spionase sesungguhnya sudah terjadi sejak di masa sebelum abad pertengahan. Perang besar yang pernah terjadi di muka bumi ini tidak lain merupakan hasil kegiatan spionase dan kontra spionase. Penaklukan Julius Cesar atas Mesir, Perang Salib, Perang Candu, dan lain sebagainya. Jika pembaca pernah menyaksikan film “Gladiator” yang dibintangi oleh Russel Crowe akan terlihat adegan kegiatan intelijen yang bertujuan untuk mendeteksi siasat para senator Roma. Pihak Romawi telah menerapkan prinsip-prinsip intelijen jauh mendahului karya intelijen yang ditulis oleh Sun Tzu. Organisasi rahasia seperti Klan Ninja di Jepang pun sangat bergantung dari kegiatan spionase (intelijen).

Peran intelijen di masa lalu belumlah menjadi suatu aktivitas yang terorganisir dan bersinergi ke dalam strategi. Barulah sejak Perang Dunia I mulai dipikirkan untuk mengorganisasikan peran intelijen ke dalam strategi penaklukan. Pembaca mungkin pernah mendengar dengan kisah spionase paling terkenal yang dilakoni oleh wanita berjulukan “Mata Hari”. Nama Mata Hari dikenal luas dalam dunia spionase yang sekaligus menjadi salah satu landasan pembelajaran dimulainya pengetahuan intelijen. Organisasi intelijen di masa Perang Dunia II dikemas ke dalam satuan militer yang sering disebut Gestapo. Peran Gestapo sendiri sebenarnya bersifat kegiatan internal atau aktivitas spionase dan kontra spionase yang berhubungan dengan kekuasaan.

Aktivitas intelijen semakin meningkat kualitasnya di masa Perang Dunia II. Misi yang dikenal dengan D-Day sesungguhnya membuka jalan bagi masuknya operasi intelijen. Kekalahan beruntun Jerman dikarenakan lemahnya operasi kontra spionase yang dimiliki oleh Hitler. Demikian pula kekalahan beruntun Jepang di pentas Perang Pasifik. Sekuat apapun kekuatan angkatan bersenta, tetapi tanpa didukung oleh operasi intelijen akan berbalik menjadi kekalahan besar atau mungkin kemenangan yang sangat mahal. Perang Dunia II sekaligus menjadi gerbang baru era organisasi intelijen, karena kemunculan perubahan peta geopolitik.

Apakah Yang Dimaksud Intelijen?
Dalam kitab perang legendaris “The Art of War” karya Sun Tzu disebutkan tentang pentingnya penguasaan atas informasi, “Kekuatan spionase adalah salah satu kunci keberhasilan menggali informasi. Hal sekecil apa pun akan sangat berguna jika kita bisa memaksimalkannya”. Pengertian tersebut yang selanjutnya menjadi landasan pemikiran operasi intelijen di seluruh dunia. Perang moderen bukanlah lagi perang fisik seperti pada perang dunia di masa lalu, melainkan perang informasi. Operasi intelijen menghimpun informasi di seluruh aspek, baik yang ada pada diri sendiri maupun segala aspek yang terdapat pada sasaran (musuh). Esensi pokok dari penggalian informasi tersebut berupa kelemahan (weakness) dan kekuatan/keunggulan (strengthness).

Kegiatan intelijen mengharuskan untuk dekat dengan sumber informasi yang berarti berada di dekat garis musuh atau disebut behind the enemy. Itu sebabnya terdapat istilah spionase atau aktivitas untuk memata-matai. Informasi yang dihimpun haruslah seakurat mungkin, sehingga tidak jarang mereka merekrut langsung sumber informasi (informan) dalam kegiatan spionase. Dukungan teknologi sangat diperlukan dan seringkali sangat menentukan keberhasilan operasi intelijen ataupun spionase. Keunggulan organisasi intelijen terletak pada kemampuannya untuk mengorganisasikan sumber-sumber informasi dan jaringan informasinya yang kemudian dapat difungsikan sesuai dengan pengertian intelijen.

Pada prinsipnya, operasi intelijen haruslah berada di dalam wilayah musuh. Jika tidak, maka tidak ada gunanya keberadaan organisasi intelijen.

Begitu dekatnya dengan garis batas musuh atau berada di dalam zona lawan, organisasi intelijen memiliki peran ganda, yaitu pengatur informasi. Bentuk mengatur informasi dapat berupa memanipulasi, rekayasa informasi, dan desain ulang informasi. Organisasi intelijen memiliki pula kemampuan untuk mengendalikan informasi, sesuai dengan agenda yang diinginkan. Terlihat cukup sederhana, tetapi mengendalikan informasi sama halnya dengan mengendalikan kekuatan musuh/lawan. Seperti yang dituliskan oleh Sun Tzu, apabila jenderal yang hebat akan mampu memenangkan peperangan tanpa melalui peperangan.

Organisasi intelijen bekerja dengan modus yang senyap, tidak terdeteksi, dan tidak meninggalkan jejak. Hal ini dilatarbelakangi oleh tuntutannya untuk berada di dalam garis pertahanan musuh. Masyarakat seringkali terhanyut dalam kebohongan aksi agen rahasia yang berkode 007. Operasi intelijen yang sesungguhnya tidaklah demikian penuh dengan adegan kekerasan yang nyata dan dibumbui eksplosivitas tinggi. Mereka bekerja sangat efektif dengan memanfaatkan jaringan intelijen yang mereka miliki. Target mereka paling tinggi adalah merekrut pejabat penting atau orang penting di organisasi musuh/lawan untuk selanjutnya dijadikan agen mereka. Tidak jarang organisasi intelijen yang berhasil bahkan mampu merekrut kepala pemerintahan ataupun pimpinan angkatan bersenjata di suatu negara.

Untuk Apa Pengetahuan Intelijen?
Pengetahuan intelijen di kalangan masyarakat bisa dikatakan masih teramat minim. Begitu pula dengan pemahamannya. Kegiatan intelijen hanya dikenal melalui film-film komersial. Padahal esensi yang sesungguhnya dari intelijen sangat jauh sekali dari yang diperlihatkan di film-film komersial. Pada prinsipnya, setiap individu ataupun institusi memiliki suatu kepentingan yang kemudian diikuti dengan ancaman (bahaya). Fungsi yang melandasi aktivitas intelijen adalah mengkonversikan setiap ancaman atau kelemahan ke dalam kepentingan (tujuan yang hendak dicapai) oleh masing-masing individu ataupun institusi.

Dalam bentuk yang sederhana sesungguhnya cukup banyak diterapkan ke dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, ketika Anda akan menghadapi orang yang nantinya akan menentukan keputusan penting untuk Anda, maka naluri Anda akan mendorong Anda untuk mencaritahu tentang sosok tersebut. Begitu pula ketika Anda merasa terganggu dengan sesuatu, maka naluri Anda akan langsung mencaritahu sesuatu yang mengganggu Anda dengan pertanyaan “Apa”, “Siapa”, dan “Bagaimana”. Ilustrasi lain seperti ketika Anda tertarik dengan sesuatu dan kemudian ingin memilikinya, maka naluri dasar akan mendorong Anda untuk mencari tahu (informasi) tentang sesuatu yang ingin Anda miliki. Sangat sederhana, tetapi di sinilah awal mula kegiatan intelijen yang salah satu bentuknya nanti memunculkan nama-nama seperti CIA, KGB, MI6, Mossad, dan lain sebagainya.

Anda mungkin pernah mendengar istilah ATHG, yaitu prinsip identifikasi atas ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan dalam upaya mencapai tujuan tertentu. Istilah yang dulu sering ditemukan dan disampaikan ke dalam materi “Ketahanan Nasional”. Identifikasi ATHG ini pun dimanfaatkan pula ke dalam prinsip perancangan/desain strategi bisnis. ATHG tidak lain adalah bentuk cara berpikir strategik yang menjadi bagian dari pengetahuan dasar intelijen. Persaingan bisnis seringkali akan dimenangkan oleh pihak yang mampu dengan cermat dan akurat mengidentifikasikan ATHG dan menerapkannya ke dalam strategi persaingan. Berangkat dari naluri dasar manusia atas ancama pada dirinya, maka dikembangkanlah pengetahuan intelijen.

Paska perang dingin (cold war), pengetahuan intelijen mulai dipergunakan dan diterapkan secara luas di seluruh bidang dan institusi. Tidak hanya institusi milik pemerintahan, akan tetapi telah masuk ke institusi bisnis (swasta). Kitab perang karya Sun Tzu yang diterapkan dalam strategi perdagangan menandakan masuknya doktrin intelijen ke dalam lingkungan persaingan yang membutuhkan kemampuan berpikir secara strategik. Istilah spionase pun mulai muncul di dalam lingkungan persaingan bisnis. Akuisisi ataupun merger yang dilakukan oleh perusahaan kuat biasanya didasarkan pada pertimbangan intelijen. Keberhasilan Samsung mencuri teknologi layar LCD dari Apple merupakan bentuk lain dari hasil operasi intelijen di bidang bisnis dan teknologi.

Melihat prinsip dasar dari cara berpikir intelijen, maka pengetahuan intelijen seharusnya menjadi bagian dari pengetahuan umum. Intelijen muncul dari hasil pembelajaran naluri dasar manusia untuk merespon ancaman maupun gangguan pada dirinya. Setiap orang tanpa disadari sebenarnya sudah menerapkannya dalam bentuk yang sangat sederhana dan belum diorganisasikan sebagai bentuk berpikir strategik. Berikut ini akan diuraikan mengenai ilustrasi sederhana dari cara berpikir strategik yang digunakan dalam organisasi intelijen.
Kasus 1
Seorang karyawan A bekerja di lingkungan perusahaan yang kemudian mengharuskan dirinya untuk bekerja secara tim yang terdiri atas 10 orang. Tentunya dari 10 orang masing-masing akan memiliki cara berpikir maupun karakter/watak yang berbeda-beda. Karyawan A tadi menyadari betapa kemampuannya mungkin masih di bawah rata-rata kemampuan rekan-rekannya yang sudah berpengalaman. Untuk mengatasi dan menguasai kondisi tadi, karyawan A kemudian mencari informasi mengenai kepribadian dari masing-masing rekannya. Cara yang dilakukan bisa dengan mengetahuinya dengan membaca bentuk wajah, bahasa tubuh, dan cara berinterksi dengan individu lainnya. Suatu waktu pula karyawan A mengenal langsung secara pribadi untuk mengorek kepribadian rekan-rekannya. Sampai pada akhirnya karyawan A mengetahui latar belakang rekan-rekannya dan kemudian dapat mengambil suatu kesimpulan untuk dapat menguasai karakter rekan-rekannya. Informasi yang diorganisasikan oleh karyawan A kemudian dapat dimanfaatkan untuk kepentingannya bertahan hidup di perusahaan.
Kasus 2
Seorang pemilik usaha dan industri rumahtangga dihadapkan persaingan tidak sehat yang sering dialaminya. Si pemilik usaha mencoba untuk berpikir strategik dengan mencari informasi pihak-pihak yang dianggap paling dominan menciptakan iklim persaingan yang tidak fair. Tujuan penghimpunan informasi adalah untuk mencari celah ataupun titik lemah di mana si pemilik usaha tadi dapat memanfaatkannya. Caranya dapat dilakukan dengan bantuan karyawannya ataupun pihak lain dari aparatur pemerintahan yang dikenalnya maupun pelanggan dari pesaing-pesaingnya. Tujuan yang dikehendaki adalah mencoba untuk menguasai situasi sehingga si pemilik usaha tidak banyak ditekan oleh pengusahan lain dan produknya dapat bertahan di pasar. Bisa jadi si pemilik usaha menginginkan pula untuk merebut pelanggan lain untuk menjadi pelanggannya. Kemampuan untuk mengorganisasikan informasi tadi akan sangat menentukan hasil akhir situasi yang dikehendaki oleh si pemilik usaha.

Pengetahuan intelijen sudah seharusnya diperkenalkan dan mulai diterapkan sejak masa usia sekolah. Membutuhkan masa yang cukup lama melalui proses pembelajaran untuk dapat membentuk cara berpikir strategik. Setiap individu akan senantiasa dihadapkan pada suatu masalah berupa ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan di mana setiap individu dituntut untuk dapat menciptakan solusi berpikir yang tepat dan strategik. Cara berpikir strategik nantinya pula akan memberikan nilai tambah pada kualitas sumber daya manusia. Setiap orang di Indonesia mungkin tidak perlu lagi harus tergantung dengan ibukota ataupun daerah perkotaan untuk dapat membuat dirinya sejahtera. Setiap anak usia sekolah akan mengetahui pilihan yang tepat untuk dirinya setelah lulus SMP, yaitu melanjutkan ke SMA ataukah memilih untuk mengambil studi di SMK. Sedikit di antara masyarakat yang menyadari, apabila keputusan untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi seharusnya merupakan hasik keputusan strategik. Hal ini dilatarbelakangi masih lemahnya pengetahuan intelijen di masyarakat Indonesia.

Kewaspadaan Nasional
Bagian yang lebih penting dari pengetahuan intelijen adalah untuk mendukung terbentuknya kewaspadaan nasional. Berikut ini beberapa prinsip atas kewaspadaan nasional yang seharusnya dipahami oleh masyarakat Indonesia.
- Setiap bangsa akan senantiasa memiliki ancaman
- Setiap bangsa manapun akan senantiasa memiliki kelemahan dan keunggulan
- Ancaman dapat datang dari berbagai penjur, baik dari luar maupun dalam
- Tidak ada negara yang sesungguhnya bersahabat
Indonesia adalah satu-satunya negara yang posisinya tepat membentang pada pertemuan dua samudera dan dua benua dan berada di sepanjang garis khatulistiwa. Posisi yang memang cukup strategis bagi kepentingan perhubungan internasional, termasuk pula di antara jalur informasi intelijen. Disamping itu, Indonesia dikenal memiliki kekayaan alam atau sumber daya alam yang cukup melimpah dan beragam, mulai dari kekayaan migas, pertambangan, multi holtikultura, dan kekayaan kelautan. Negara dengan kekayaan alam yang melimpah akan senantiasa diikuti dengan semakin melimpahnya potensi ancamannya. Kita hendaknya harus belajar dari negara-negara maupun kawasan konflik di dunia ini yang merupakan wilayah yang kaya akan sumber daya alam.

Identifikasi atas kelemahan diri sendiri juga sangat penting dalam mengorganisasikan informasi intelijen. Satu-satunya kelemahan yang nampaknya kurang banyak dipahami oleh bangsa Indonesia atas dirinya sendiri adalah persatuan. Pemahaman atas persatuan yang disampaikan lewat bangku sekolah dan lingkungan sosial masihlah pemahaman secara normatif, bukan pemahaman dalam berpikir strategik. Akibatnya, tidak jarang ditemukan akhir-akhir pertikaian antar umat beragama ataupun antar kelompok mulai bermunculan akhir-akhir ini. Jika dicermati, seringkali munculnya pertikaian tidak datang dengan sendirinya, melainkan hasil kerja operasi intelijen. Perbedaan pendapat memang bisa dikatakan sesuatu yang lumrah, tetapi ada pula perbedaan pendapat yang sengaja diciptakan sebagai bentuk manajemen konflik yang nantinya diarahkan pada upaya untuk memperlemah persatuan.

Beberapa bidang yang menjadi sasaran kewaspadaan nasional dikenal dengan istilah politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan (poleksosbud hankam). Pada bidang-bidang tersebut yang nantinya akan ditumbuhkan ancaman maupun serangan yang pada akhirnya akan memperlemah karakter suatu bangsa. Masing-masing bidang pula memiliki identifikasi atas ATHG dan implementasinya ke dalam pertahanan dan keamanan rakyat semesta atau disebut hankamrata. Untuk menanggulangi ancaman tersebut memang diperlukan peran serta seluruh rakyat Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Pemahaman atas ancaman dan kelemahan ini membutuhkan cara berpikir strategik yang menjadi ciri khas pengetahuan intelijen yang selanjutnya akan merubah kelemahan dan ancaman tadi menjadi kekuatan nasional. Dengan memiliki kekuatan nasional yang kokoh, maka tidak sulit nantinya akan membentuk strategi berpikir untuk melakukan kontra intelijen.

Perang moderen atas penaklukan suatu bangsa saat ini tidak lagi dilakukan dengan perang besar seperti di masa lalu. Kitab perang Sun Tzu menuliskan apabila jenderal yang hebat apabila dirinya mampu memenangkan peperangan tanpa harus melalui peperangan.

Referensi
Conboy, Ken, 2007, Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia, Penerbit Pustaka Primatama, Jakarta.
__________, 2011, Intel II: Medan Tempur Kedua, Penerbit Pustaka Primatama, Jakarta.
Eisenberg, Dennis, Eli Landau, dan Uri, 2007, Mossad: Menguak Tabir Dinas Intelijen Israel, Penerbit Pustaka Primatama, Jakarta.
Ostrovsky, Victor, 1990, By Way of Deception: The Making and Unmaking of Mossad Officer, St Martin’s Press, New York.
Thomas, Gordon, 2008, Gideon’s Spies: Sejarah Rahasia Mossad #1: Dari Kematian Lady Diana Hingga Paspor Palsu Yang Tercecer, Penerbit Pustaka Primatama, Jakarta.
Weiner, Tim, 2007, Legacy of Ashes: The History of The CIA, Double Day Press, New York.

31 Desember 2011

JANGAN BAJAK SOFTWARE KARYA ANAK BANGSA

Untuk pertama kalinya saya mencoba antivirus SMADAV mendampingi antivirus andalan di personal komputer. Smadav memiliki 2 versi, yaitu versi gratis dan versi berbayar. Sejujurnya, saya termasuk pengguna yang lebih sering menggunakan software bajakan, kecuali antivirus dan aplikasi bawaan Linux. Saya mendapati cukup banyak situs yang menawarkan aplikasi Smadav Pro dengan kunci register, tanpa harus membayar. Akhirnya, saya putuskan tidak gunakan kunci hack dengan mengandalkan kemampuan versi gratisan. Di jejaring sosial, saya selalu menghimbau, agar siapapun untuk tidak membajak software buatan anak bangsa. Inilah alasan saya.

Ada dua pandangan berbeda perihal membajak software. Di satu sisi, pembajakan akan mematikan kreativitas. Namun, di sini lain, pembajakan justru akan menjadi pendorong si pembuat program untuk lebih kreatif mengantisipasi keamanan lisensi. Untuk saat ini, saya lebih sependapat dengan pandangan pertama. Alasannya cukup sederhana, karena inilah Indonesia.

Perlu kita pahami kondisi diri sendiri terlebih dulu untuk menerangkan sikap saya di atas. Cukup banyak para pengembang software di Indonesia yang memodali sendiri usahanya. Ketika seseorang membuat software, kemudian didistribusikan, maka sesungguhnya bisa telah menjalankan peluang bisnis. Selain menjual keunggulan, para pengembang menjual pula daya tarik dan kepercayaan. Sekalipun didistribusikan secara bebas, bukan berarti si pengembang tidak mengharapkan kontribusi balik. Jika si pengembang kemudian menawarkan distribusi berbayar, itu berarti si pengembang membutuhkan bantuan untuk mengembangkan software yang dibuatnya sendiri.

Kita di sini tidak bisa menyamakan kondisi di Indonesia dengan kondisi riil pengembang di negara-negara pembuat antivirus ternama seperti di Eropa maupun Amerika. Pemerintah di negara-negara mereka memberikan insentif yang lebih dari cukup, mulai dari infrastruktur teknologi hingga aspek hukum (hak cipta). Satu hal yang perlu kita pahami, bahwa kultur masyarakat di Eropa maupun Amerika memberikan lebih banyak kesempatan untuk berkembang dan menjadi profesional. Masyarakat di sana beranggapan, apabila tidak ada segala sesuatu yang gratis. Jika tertarik dan merasakan manfaat, mereka dengan sukarela memberikan donasi.

Situasi yang berkebalikan dihadapi oleh para pengembang software di tanah air. Dukungan sponsor relatif minim, mereka harus menyediakan sesuatu yang dapat memenuhi keinginan pengguna yang relatif tidak terbatas. Bisa jadi di antara mereka seringkali harus mencukupi sendiri kebutuhan operasionalnya (atau nombok). Tentunya akan cukup sulit dalam situasi semacam ini untuk dapat berkembang menjadi profesional. Jika masih mampu bertahan saja sudah cukup bagus.

Sementara itu, untuk menjadi profesional, seorang pengembang harus melakukan totalitas pekerjaannya untuk sesuatu bidang yang dikembangkan (software). Pengembang mampu untuk menghidupi dirinya sendiri sampai pada mencukupi kebutuhan operasional untuk pengembangan software. Mereka memiliki pesaing yang jauh lebih berpengalaman dan profesional. Terlalu naif jika mengandalkan nasionalisme pengguna lokal.

Kita tentunya menginginkan suatu saat nanti anak bangsa mampu mengembangkan software berskala internasional. Kita seharusnya pula jauh di atas negara-negara tetangga, karena dukungan sumberdaya manusia.

Kritik Untuk Pengembang Antivirus Lokal
Kritik ini saya tujukan langsung kepada pengembang antivirus lokal, yaitu Smadav. Antirius lokal ini termasuk paling populer dan paling berkembang dibandingkan antivirus lainnya. Saya sendiri melihat cukup banyak perubahan dan pengembangan yang telah dilakukan oleh tim pengembang Smadav.

Saya cukup terkejut ketika Smadav mengeluarkan versi Profesional yang berarti merilis versi antivirus berbayar. Sekalipun tidak menentukan tarif atau harga yang harus dibayarkan, akan tetapi di sinilah masalahnya, yaitu ukuran profesionalitas. Setelah saya amati, tidak terdapat banyak perbedaan penting antara versi Free dan versi Profesional. Pengguna bisa mendapakan keseluruhan fitur profesional Smadav pada antivirus non lokal untuk versi Free. Seharusnya pihak pengembang Smadav tetap menyertakan fitur update otomatis online. Semua antivirus versi Free yang tercantum pada AV-Comparative telah menyematkan fitur update online, baik otomatis maupun manual.

Dari sini saya melihat ada semacam sikap (attitude) yang cenderung oportunis dari pihak pengembang. Sikap yang terkesan kurang percaya diri akan potensi yang dimilikinya sendiri. Bukan seperti ini caranya jika hendak mengambil hati pengguna antivirus dari kalangan masyarakat Indonesia. Tidak sedikit di antara pengguna yang paham tentang cara memanipulasi sistem keamanan. Saya perhatikan pihak pengembang Smadav malah terkesan tidak fokus, ketika membuat teknik pendeteksian serial key palsu. Seharusnya pihak pengembang fokus pada kualitas pendeteksian virus dan antisipasinya. Saran saya, pihak pengembang Smadav sebaiknya hanya menyediakan versi Free. Seluruh fitur pada versi Pro diaktifkan pada versi Free.

LABEL GAYA HIDUP BERNAMA BLACKBERRY

Jangan salah sangka, apabila tulisan ini sama sekali tidak disponsori oleh pihak manapun. Tulisan ini pula bukan bermaksud hendak turut mempromosikan nama produk Blackberry. Penulis mencoba untuk melihat dari sudut pandang sosial perihal perilaku konsumsi masyarakat terhadap teknologi. Suka atau tidak, setuju atau tidak, apabila nama BlackBerry (BB) sudah menjadi simbol gaya hidup masyarakat Indonesia dan hanya di Indonesia.

Seorang anak usia sekolah dasar di sebuah kecamatan kecil di Kabupaten Klaten terlihat sibuk membalas pesan messenger (BBM). Tidak main-main, jenis BB yang dimiliki anak tadi adalah Torch terbaru dengan fitur layar sentuh. Di Jakarta sendiri hampir sebagian besar anak-anak golongan ekonomi menengah ke atas sudah membekalkan anak-anaknya dengan BB. Gaya hidup sejak usia dini yang saling menular satu dengan yang lainnya.

Seorang karyawan rela untuk menahan pengeluaran di akhir minggu untuk ditabung demi untuk bisa mendapatkan BB. Karyawan tadi bahkan rela pula untuk menahan sebagian pengeluarannya agar dapat mengaktifkan layanan online. Mereka adalah golongan menengah yang paling banyak mengkompensasikan sebagian pengeluarannya hanya untuk dapat mengaktifkan layanan internet BB.

Kalangan mahasiswa? Jangan ditanya. Mereka di kalangan mahasiswa dikenal cukup aktif untuk mencari informasi. Sayangnya, status mahasiswa atau terpelajar sekalipun tidak selalu signifikan dalam pengambilan keputusan pembelian produk teknologi. Jika faktor finansial dianggap telah mencukupi, maka pertimbangan pertama untuk memilih produk teknologi berdasarkan referensi dari pihak lain. Singkat kata, gaya hidup masih menjadi pertimbangan utama di kalangan mahasiswa.

Gaya hidup (life style) memiliki definisi yang cukup beragam. Secara umum, pengertian gaya hidup menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah “Pola tingkah laku sehari-hari segolongan manusia di dalam masyarakat. Gaya hidup menunjukkan bagaimana orang mengatur kehidupan pribadinya, kehidupan masyarakat, perilaku di depan umum, dan upaya membedakan statusnya dari orang lain melalui lambang-lambang sosial”. Gaya hidup dapat diartikan juga sebagai segala sesuatu yang memiliki karakteristik, kekhususan, dan tata cara dalam kehidupan suatu masyarakat tertentu. Pokok pikirannya cukup jelas, apabila gaya hidup akan senantiasa berhubungan dengan status sosial.

Status sosial bagi masyarakat Indonesia masih dianggap sebagai bagian dari cara hidup dan cara berpikir. Seseorang bersekolah hingga perguruan tinggi tentunya akan lebih bangga apabila memperoleh gelar kesarjanaan. Status sosial bahkan dikejar dan diperlihatkan selama masa mudik lebaran. Suatu simbolisasi yang berdasarkan keyakinan individunya sebagai wujud atas pencapaian sesuatu.

“Anda boleh saja terlihat tidak menarik, tetapi akan menjadi berbeda ketika Anda menggunakan BlackBerry”

Dalam sebuah kerumunan arisan ibu-ibu di suatu komplek perumahan, terdapat 2 orang dari total 18 orang ibu yang menggunakan BlackBerry. Selama arisan, gadget tersebut senantiasa diperlihatkan, sambil sibuk memperhatikan pesan di layar. Nada messenger khas BlackBerry pun terdengar menghiasi perckapan mereka. Spontan seluruh mata memelototi gadget kedua orang tersebut. Tidak lama berselang, sekitar 2 bulan kemudian, seluruh ibu-ibu yang kumpul kembali untuk arisan sudah menenteng BlackBerry dengan tipe yang berbeda-beda. Dua orang ibu tadi tidak lagi istimewa menjadi buah bibir, karena seluruh ibu-ibu dalam kelompok arisan tersebut telah menenteng BlackBerry.

Di suatu tempat kerja, seorang karyawan gelisah memandangi rekannya yang sibuk membalas pesan pada Facebook dan BBM. Kebanyakan rekan-rekannya mulai melontarkan pertanyaan, “Berapa nomor PIN punyamu?”. Pertanyaan inilah yang nampaknya menjadi kegelisahannya. Dalam pembicaraan telpon, rekan-rekannya selalu sibuk membalas pesan dan membicarakan status rekannya di BBM. Tidak berapa lama kemudian, akhirnya si karyawan tadi telah membeli BlackBerry dan kemudian terlihat sibuk menanyakan nomor PIN rekan-rekannya.

Sekitar 10 tahun yang lalu, gadget BlackBerry keluaran RIM merupakan ponsel yang paling unik. Dengan tombol khas jenis QWERTY yang ketika itu belum ada tersemat di ponsel manapun yang beredar di Indonesia. Harganya pun cukup mahal. Untuk seri BOLD dengan koneksi GPRS ketika itu masih seharga sekitar Rp 4 jutaan, bahkan bisa mencapai Rp 5 jutaan. Ponsel yang umumnya beredar di Indonesia hanya seharga di bawah Rp 3 juta, kecuali untuk jenis ponsel dengan fitur layar sentuh. Muncul anggapan, apabila hanya kalangan tertentu yang mampu membeli dan memiliki BlackBerry.

Cukup lama para pengecer di Indonesia membanderol BB dengan harga di atas Rp 4 juta. Harga ponsel pada masa itu justru sedang berlomba turun. Perang harga yang memakan korban di mana divisi telelkomunikasi Ericsson diakuisisi oleh Sony, kemudian Siemens diakuisisi oleh BenQ. Nokia ketika itu menjadi jawara atas perang harga. Sekalipun demikian, produk BlackBerry yang belum lama masuk ke Indonesia tidak terpengaruh perang harga. Seolah hendak menunjukkan apabila gadget tersebut memiliki kelas/segmen tersediri. Samsung dan Sony-Ericsson yang sudah menyematkan fitur 3G dengan harga di bawah Rp 3 juta tidak membuat gadget dari Kanada bergeming turut menurunkan harga.

Kesan ekslusif pun semakin lama kian melekat. Kalangan artis maupun politis beramai-ramai menenteng gadget impor yang dirakit di Amerika Latin maupun Kanada. Di setiap tayangan sinetron senantiasa diperlihatkan artis-artis yang beradegan sambil menenteng gadget BlackBerry. Demam sinetron menularkan gaya hidup di kalangan para pejabat dan keluarganya. Citra eksklusif yang diyakini menciptakan kelas sosial tersendiri mampu menyingkirkan gadget pesaingnya di kelas internet mobile phone. Sampai suatu ketika, di tahun 2004 ditemukan selundupan BB asal Kanada oleh Bea Cukai Indonesia yang berjumlah ratusan unit. Animo konsumen yang begitu tinggi, sehingga membuka peluang untuk celah penyelundupan, bahkan hingga saat ini.

Masih ingat dengan kasus Nazaruddin dan ‘nyanyiannya’ di BBM? BlackBerry seringkali mendapatkan promosi gratis dan cukup strategis. Mungkin termasuk pula tulisan saya di sini. Kasus Nazaruddin cukup menghebohkan dan menjadi perbincangan nasional bersama BlackBerry dan fitur BBM. Kemudian dihubungkan nilai korupsi yang dituduhkan kepada Nazaruddin yang mencapai triliunan Rupiah. Persepsi seseorang akan membentuk citra eksklusif pada gadget buatan RIM sebagai ponsel ‘kalangan tertentu’. Citra eksklusif tersebut kemudian akan membentuk persepsi tentang status sosial. Tidak mengherankan apabila dengan provokasi penjualan mampu mendorong sebagaian masyarakat rela mengantri demi mendapatkan keluaran terbaru Bellagio.

Dari uraian yang disampaikan di atas, saya mencoba untuk menggunakan pendekatan filosofi kebudayaan yang menjadi cara pandang masyarakat Indonesia. Faktor fundamental dari aspek sosial yang sesungguhnya menciptakan analog status sosial dan gaya hidup, terkait dengan kasus produk BlackBerry. Sejak lama, masyarakat Indonesia memang dikenal masyarakat yang mudah kaget (terkejut). Dalam ungkapan Jawa disebutkan ‘gumunan’ atau mudah terkagum-kagum atas sesuatu. Cara berpikir semacam ini tidak terlepas dari tatanan berpikir yang telah terbentuk di masa lalu. Sifat mudah kaget dan mudah kagum dikarenakan secara psikologis bangsa Indonesia mengalami semacam lompatan teknologi. Dalam bahasa sains dikenal dengan istilah psychological shock.

Ekses dari perilaku psychological shock menyebabkan seseorang melakukan sesuatu berdasarkan keyakinannya, bukan berdasarkan akal sehat dan logika. Ketika mulai menjamurnya ponsel di tahun 2000, harga kartu perdana bisa mencapai Rp 250.000. Tidak sedikit masyarakat yang rela mengantri untuk mendapati potongan harga yang semula dijual seharga Rp 400.000. Masyarakat bahkan rela untuk membayar uang muka pemesanan kartu perdana hingga Rp 150.000. Padahal, dalam satu hari belum tentu seseorang akan selalu tergantung dari ponsel. Mungkin ketika itu hanya ada 2 dari 10 orang yang tergantung (membutuhkan) dengan ponsel setiap harinya. Tarif telepon masih sangat mahal ketika itu di mana layanan SMS masih belum disediakan. Faktor alat telekomunikasi genggam dan bergerak itulah yang kemudian mendorong seseorang untuk memilikinya.

Analog yang sama bisa diterapkan pada kasus produk BlackBerry, terutama untuk menerangkan keputusan konsumen membeli perangkat telekomunikasi. Kesan eksklusif membuat seseorang menjadi kagum. Kemudian, fitur layanan yang khas pada BlackBerry (seperti BBM) membuat orang menjadi terkejut. Terciptalah yang disebut psychological shock yang selanjutnya mendorong seseorang untuk ingin memilikinya. Ada yang menyebutkan perilaku semcam ini dengan sebutan ‘using without utilization’ atau penggunaan tanpa memperdulikan fungsinya.

Referensi
Adnan, Ajie, 2010, “BlackBerry: Antara Kebutuhan dan Status Sosial”, dipublikasikan di Kompasiana, 29 September 2010, diakses tanggal 21 Desember 2011 (http://teknologi.kompasiana.com/gadget/2010/09/29/blackberry-antara-kebutuhan-dan-status-sosial/)
Hindarto, Dicky E., 2008, “Ojo Gumunan, Ojo Kagetan, Lan Ojo Dumeh”, diakses pada tanggal 22 Desember 2011, 01.15 (http://www.selamatkan-indonesia.net/index.php?option=com_content&task=view&id=347&Itemid=2)
Ja’far, Marwan, 2011, “Di Balik Demam BlackBerry”, Suara Pembaharuan, Tanggal 2 Desember 2011.
Mahendro, AM Anggoro Bayu, 2011, “Analisis Pengaruh Gaya Hidup Terhadap Keputusan Pembelian Handphone BlackBerry di Kalangan Mahasiswa Atma Jaya”, Thesis Fakultas Ekonomi Unika Atma Jaya, Jakarta (tidak dipublikasikan).
Soedjatmiko, Haryanto, 2008, Saya Berbelanja, Maka Saya Ada: Ketika Konsumsi dan Desain Menjadi Gaya Hidup, Penerbit Jalasutra, Jakarta.
Sulistyawati, Vivi, 2011, “Analisis Atribut Produk Yang Dipertimbangkan Konsumen Dalam Pembelian BlackBerry”, Skripsi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta (tidak dipublikasikan).
Sulistyono, 2011, “Analisis Pengaruh Kegunaan Produk, Kemudahan Penggunaan, dan Pergaulan Sosial Terhadap Minat Mereferensikan Pada Produk BlackBerry di Kota Semarang”, Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang (tidak dipublikasikan).