Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Nasional. Tampilkan semua postingan

14 Juni 2012

MURAHNYA KULIAH DI INDIA

Hari ini sejumlah PTN mengumumkan besaran resmi Sumbangan Peningkatan Mutu Akademik (SPMA) atau banyak yang menyebutnya ‘uang masuk’. Besarannya bervariasi, mulai dari Rp 0 (gratis) hingga di atas Rp 100 juta. ITB mematok antara Rp 0 hingga Rp 55 juta, sedangkan UGM mematok antara Rp 0 hingga Rp 100 juta. Fakultas Kedokteran agaknya masih menjadi fakultas yang biaya pangkalnya paling mahal. Tahun ini saja di beberapa PTN sudah ditetapkan mencapai Rp 125 juta. Dalam kenyataannya, angka-angka tersebut bisa akan berubah, mengingat keterbatasan daya tampung dan tingginya peminat. Saya hendak mengajak pembaca untuk berjalan-jalan atau studi banding ke India untuk mengetahui betapa murahnya kuliah di India. Tentu saja bukan tanpa alasan jika saya memilih studi banding ke India.

Latar Belakang
Satu alasan dipilihnya subyek pembicaraan tentang India, karena negara ini memiliki lebih banyak kesamaan dengan Indonesia. Salah satu kesamaan yang masih bertahan hingga saat ini adalah korupsinya. India hanya berselisih lebih baik daripada Indonesia berdasarkan pemeringkatan International Corruption Watch (ICW) di beberapa tahun belakangan ini. Negara ini pun tengah mengalami masalah pula dengan utang luar negeri, dan pernah masuk ke dalam perangkap utang luar negeri (debt trap) di akhir dekade 1980an. Jika Indonesia baru dihadapkan pada dilema neoliberal pada akhir dekade 1990an, maka India sudah mengalaminya sejak akhir dekade 1980an. Jumlah penduduk mereka pun cukup besar dengan tingkat kemiskinan yang tidak berselisih banyak dengan Indonesia. Mereka pun tidak kalah mengalami kesulitan ketika harus berhadapan dengan kebijakan kesejahteraan. Rata-rata biaya hidup masyarakat India pun tidak berbeda banyak atau nyaris sama dengan rata-rata biaya hidup masyarakat di Indonesia. Kemiripan yang lain tentunya dua negara ini sama-sama didominasi iklim tropis, sekalipun beberapa negara bagian di India didominasi wilayah pegunungan.

Dibalik seluruh masalah-masalah di dalam negeri di India, mereka merupakan bangsa yang bisa dikatakan cukup konsisten dengan kebijakan di bidang pendidikan. Sejak negara itu mendapatkan kemerdekaan dari Inggris, seluruh pihak diajak untuk duduk satu meja membuat satu kesepakatan dan komitmen seumur hidup. Apapun masalah mereka, semua pihak harus berpegang teguh apabila tidak akan mengutak-atik kebijakan maupun program untuk bidang pendidikan, termasuk mengutak-atik kuota dana pendidikan. Apapun yang terjadi dengan mereka di kemudian hari, bahwa rakyat India tanpa terkecuali harus tetap bisa menikmati pendidikan dan segala fasilitas pendukungnya.

Tidak seperti kebanyakan negara di Eropa yang menyelenggarakan sekolah gratis kepada warga negaranya, pemerintah India masih tetap mengutip dana dari masyarakat. Bisa dimaklumi, karena India yang baru saja berkembang dan masih tergolong inferior dalam penguasaan perekonomian global tidak memiliki banyak sumberdaya finansial untuk bisa mendukung pendidikan gratis kepada warga negaranya. Sekalipun demikian, pemerintah India berupaya untuk tetap mewujudkan pendidikan yang murah di hampir segala bidang. Bukan saja murah dalam arti penyelenggaran pendidikan, melainkan pendukungnya pula. Misalnya saja, kebijakan untuk memberikan subsidi buku, subsidi alat tulis, dan lain sebagainya. Mengenai kesejahteraan para pengajar (guru dan dosen) sangat diperhatikan oleh negara, termasuk pula kesejahteraan para penelitinya.

Reputasi Pendidikan dan Ilmuwan dari India
India bukanlah negara yang menjadi tujuan favorit untuk mengambil kuliah bagi mahasiswa internasional. Mereka nampaknya tidak terlalu mengutamakan penilaian yang dikeluarkan oleh lembaga pemeringkatan perguruan tinggi di beberapa negara. Peringkat perguruan tinggi di India ini pun bisa dikatakan masuk ke dalam kelompok inferior, bahkan institut teknik terbaik di India masih di bawah Institut Teknologi Bandung (ITB) maupun Institut Teknologi 10 November (ITS, Surabaya). Begitu pula dengan pemeringkatan fakultas maupun jurusan yang keseluruhannya bisa dikatakan masuk ke dalam kelompok inferior. Jangan heran jika dalam sebuah laporan pemeringkatan, perguruan tinggi di India mungkin masih di bawah peringkat perguruan tinggi swasta di Indonesia.



Sudah sejak lama apabila nama-nama ilmuwan di India cukup disegani di antara kalangan
ilmuwan dunia/internasional. Nama mereka selalu masuk langganan nominasi Nobel di bidang ilmu pengetahuan. Salah satu yang paling terkenal di antaranya adalah Amartya Sen, tokoh peraih Nobel bidang ekonomi yang sekaligus memperkenalkan konsep “Welfare State” (tahun 1998). Albert Einstein dalam jurnalnya mengakui selalu berkorespondensi dengan salah satu ilmuwan nuklir dari India, yaitu Satyendranath Bose (Kalkuta). Mereka berdua dikenal pula dengan teori statistik kuantum atau disebut teori Bose-Einstein (tahun 1924). Pakar astronomi asal Ahmedabab (India), yaitu Vikram Sarabhai merupakan nama yang cukup disegani di kalangan fisikawan dan astronomi di Cambridge. Hingga saat ini pun, nama-nama ilmuwan dan peneliti India masih cukup banyak pula mendominasi penelitian, riset, ataupun studi keilmuan bertaraf internasional.

Bicara soal reputasi, India sebenarnya sering disebutkan dalam sineas dunia. Sebut saja seperti ilmuwan India yang disebutkan dalam film “2012”. Atau seperti ilmuwan genetika yang dikisahkan dalam film serial “The Hero”. Contoh lain seperti ilmuwan meteorologi yang disebutkan di dalam film kiamat dunia akibat perubahan iklim purba. Tidak hanya dikenal melalui reputasi ilmuwannya, melainkan dikenal pula reputasi pusat penelitian dan laboratorium sains. Bisa dipahami apabila otoritas pendidikan di India tidak ambil pusing dengan pemeringkatan perguruan tinggi, karena reputasi mereka sudah dikenal cukup luas sejak lama.

Lulusan perguruan tinggi di India termasuk yang paling banyak diminati dan dicari oleh perusahaan-perusahaan multinasional. Sebut saja seperti Microsoft yang memiliki lebih dari 2000 karyawan yang berasal dari India. Atau mungkin seperti Intel Corp yang memiliki sebanyak lebih dari 1200 karyawannya yang berasal dari lulusan perguruan tinggi di India. Mereka pula banyak mengisi tempat di perusahaan-perusahaan teknologi di Korea Selatan ataupun Taiwan. India sendiri termasuk negara yang menghasilkan jumlah lulusan insinyur paling banyak di dunia untuk ukuran Asia yang masih mampu melampaui China.

Gambaran Suasana Perkuliahan di India
Tulisan berikut ini disadur berdasarkan reportase dan wawancara penulis kepada dua narasumber yang pernah mengambil program S3 di India di dua perguran tinggi yang berbeda. Dua narasumber tersebut dipilih dengan alasan mereka cukup paham dengan situasi/kondisi dan sistem perkuliahan di India, termasuk perkuliahan S1 di beberapa fakultas dan jurusan. Satu di antaranya mengambil kuliah di bidang hukum dan administrasi, sedangkan narasumber lain mengambil kuliah di bidang informatika. Mereka berdua telah menyelesaikan studi S3 di tahun 2006 dan 2007. Penulis bertemu dengan keduanya di tahun 2008, tetapi penulis tidak mengetahui nama lengkap mereka, kecuali hanya mengetahui mereka pernah menamatkan S1 di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Wawancara dilakukan begitu penulis bertemu dan mengenal mereka. Penulis berharap, ulasan yang dipaparkan bisa merepresentasikan kondisi perkuliahan di India.

Suasana kuliah di India sangat bertolakbelakang dengan suasana perkuliahan di Indonesia. Kampus di India umumnya terletak jauh dari kota besar, terkadang bisa menempuh perjalanan lebih dari 1 jam dengan menggunakan angkutan umum pedesaan untuk mencapai batas kota. Misalnya saja University of Delhi berlokasi sekitar di pinggiran kota yang membutuhkan waktu tempuh hingga lebih dari 1,5 jam untuk bisa mencapai kota besar yang terdekat. Jarak tempuh bisa lebih lama lagi apabil di musim hujan, karena kondisi jalan di India, terutama di pinggiran kota seringkali mengalami kerusakan, sehingga akan memperlambat kendaraan yang melintas. Melihat gambaran tersebut, rasanya mahasiswa di India lebih jauh berpikir untuk bepergian ke Mall atau pusat perbelanjaan seperti kebanyakan mahasiswa di Indonesia.



Perguruan tinggi di India umumnya menyediakan sendiri asrama bagi mahasiswanya, tanpa
dipungut bayaran tambahan. Siapapun boleh tinggal dan menikmati fasilitas di asrama, termasuk bagi mahasiswa asing. Mahasiswa yang berasal dari India akan lebih memilih untuk tinggal di asrama, karena makanan yang disediakan di asrama bisa lebih murah, ketimbang harus membeli di luar asrama yang jaraknya cukup jauh. Di dalamnya telah tersedia listrik gratis, air bersih, dan saranan hiburan seperti televisi (nonton bareng di ruang utama). Di lingkungan asrama terdapat pembantu yang dapat dipekerjakan oleh mahasiswa untuk mengurusi kamar, seperti mencuci pakaian, selimut, kasur, dan lain-lain, tetapi mahasiswa akan dikutip bayaran. Satu kamar biasanya ditempati 3-4 orang, tergantung ukuran kamar dan peraturan yang berlaku. Siapapun mahasiswa dapat tetap tinggal dan menikmati fasilitas di asrama selama yang bersangkutan masih dianggap memenuhi ketentuan waktu studi yang disyaratkan oleh pihak kampus. Jika tidak, si mahasiswa harus berdesakan dengan penghuni kamar lainnya atau bisa jadi akan tidur di emperan kamar. Pemandangan tersebut jarang terlihat, karena disiplinnya aturan batas waktu perkuliahan di India. Tidak ada pendingin udara, kecuali pendingin alami seperti pada kampus-kampus yang berlokasi di dataran tinggi.

Sepeda adalah transportasi utama kampus, terutama berlaku bagi mahasiswa. Zona merah bagi kendaraan bermotor mendominasi lingkungan kampus hingga ke area asrama mahasiswa. Kebanyakan dosen pun lebih memilih untuk menggunakan sepeda, kecuali untuk beberapa dosen terbang. Misalnya saja seperti salah satu dosen yang pernah menjabat sebagai Presiden India lebih sering terlihat menggunakan mobil. Kendaraan bermotor sepertinya bukanlah kebutuhan pokok bagi mereka, karena mereka jarang sekali menghabiskan waktu untuk bepergian, kecuali di hari Sabtu dan Minggu. Itu pun mereka akan lebih memilih menggunakan angkutan umum. Kehidupan perkuliahan di kampus bisa dikatakan cukup padat. Mahasiswa tidak banyak meluangkan waktu untuk kesenangan (pleasure), kecuali lebih banyak mengisinya untuk kegiatan perkuliahan. Agenda kegiatan mahasiswa di sana lebih banyak diisi untuk kuliah, asistensi (tutorial atau semacam kuliah tambahan), kunjungan ke perpustakaan, laboratorium (untuk mahasiswa eksakta), atau belajar kelompok (biasanya dipandu asisten dosen). Untuk kegiatan tersebut bisa menghabiskan cukup sehari waktu di kampus. Sebagai catatan, setiap kegiatan yang mereka laksanakan selalu ada absensinya, sehingga pihak kampus dapat memantau aktivitas dari si mahasiswa. Malam harinya mereka akan menghabiskan waktu untuk berdiskusi bersama teman-teman di asrama atau mungkin bisa menghabiskan waktu malam menjelang tidur dengan kegiatan belajar. Untuk memenuhi kebutuhan pokoknya sehari-hari, mahasiswa bisa berbelanja di kantin asrama dengan harga yang lebih murah. Harga tersebut merupakan bagian dari subsidi nasional pemerintah India untuk bidang pendidikan.

Ada cerita unik dibalik fasilitas asrama yang disediakan dari bantuan para alumni. Mereka para alumni yang telah sukses berkiprah di luar negeri seringkali mendatangkan
fasilitas-fasilitas tempat tinggal seperti televisi, kulkas, komputer, dan lain sebagainya. Seiring dengan berjalannya waktu, fasilitas-fasilitas tersebut jarang yang ditemukan awet. Seringkali tidak sampai setahun sudah tidak bisa difungsikan seperti sediakala. Setelah ditelusuri, ternyata para mahasiswa seringkali melucuti fasilitas-fasilitas tersebut untuk dijadikan sebagai modal atau perlengkapan tambahan untuk melakukan eksperimen. Misalnya dilucuti bagian kabel optik, komponen-komponennya, bahkan termasuk skrup atau baut.

Gambaran Suasana Dalam Perkuliahan
Setiap mahasiswa telah diberikan target untuk menyelesaikan waktu studinya. Beberapa kampus bisa dikatakan tidak memberikan kompromi ataupun kompensasi dalam bentuk apapun. Tidak hanya waktu tempuh studi, termasuk pula untuk tugas dan karya ilmiah. Semua diperlakukan sama, tanpa diskriminasi, bahkan termasuk anak pejabat penting negara. Aturan DO (drop out) pun cukup keras diberlakukan, tanpa sedikit pun kompromi. Tidak jarang apabila ditemukan kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa di India, karena begitu tingginya tuntutan akademik yang harus mereka penuhi.

Kebanyakan pengajar (dosen) merupakan sosok yang memiliki reputasi internasional dengan gelar profesor. Mereka tidak sulit untuk ditemui atau diminta konsultasi. Pada dosen tersebut memiliki sendiri asisten yang biasanya dimanfaatkan untuk menjadi dosen pengganti atau, keperluan asistensi mata kuliah, ataupun untuk keperluan pengganti konsultasi. Para asisten dosen tersebut setidaknya bergelar doktor dan bisa dikatakan cukup berpengalaman. Para asisten itu pula bukan berperan untuk menggantikan dosen utama ketika berada di kelas. Jika dosen utama tidak bisa menghadiri kuliah, karena berhalangan, maka perkuliahan akan digantikan di hari lain, kecuali jika memang tidak bisa memungkinkan akan digantikan dengan dosen pengganti ataupun asisten dosen.



Metode penilaian di sana sangat obyektif, karena dipisahkannya fungsi pengajar dan fungsi kualifikasi. Dosen hanya mengisi tempat pada posisi pengajaran, pengampu mata kuliah, dan pembuatan soal. Tetapi untuk melakukan penilaian dilakukan dan diawasi oleh tim tersendiri. Dengan begitu mahasiswa tidak perlu khawatir untuk berekspresi, termasuk apabila hendak mengkritis cara mengajar dosen yang bersangkutan. Sekalipun demikian, seluruh pihak di kampus mendapatkan perlakuan yang wajar dan obyektif dari pihak perguruan tinggi.

Fasilitas perkuliahan dalam arti tampilan bisa dikatakan cukup kontras dengan kebanyakan fasilitas perkuliahan di Indonesia, terutama kampus-kampus di Pulau Jawa. Perguruan tinggi di India tidak terlalu mengutamakan tampilan, kecuali lebih berorientasi pada progress dan kualitas pendidikannya. Mereka masih menggunakan papan tulis dan kapur sebagai sarana pendukung belajar dan mengajar. Tidak ada yang disebut sarana presentasi seperti OHP (over head projector) di ruang kelas. Para dosen diharuskan untuk membuat sendiri sarana presentasi jika hendak digunakan di ruang kelas (untuk keperluan pengajaran). Sekalipun demikian, mereka pun menyediakan sarana internet yang sudah menjadi sarana standar dalam mendukung kegiatan pengajaran.

Fasilitas lain yang tidak kalah pentingnya dan menjadi standar tinggi di perguruan tinggi di India adalah fasiltias referensi (perpustakaan). Mereka memiliki koleksi buku yang cukup lengkap dalam edisi dwi bahasa, yaitu bahasa Inggris dan bahasa India. Pemerintah India begitu memperhatikan kebutuhan akan referensi yang berasal dari buku-buku berbahasa asing. Pemerintah India bekerjasama dengan pihak penerbit di luar negeri untuk menerbitkan ulang buku-buku tersebut ke dalam bahasa nasional India. Aspek pendukung lainnya seperti kertas diberikan subsidi, sehingga publikasi jurnal ataupun artikel ilmiah menjadi lebih mudah untuk diperluas bagi seluruh jurusan. Perguruan tinggi mengkoleksi jurnal ataupun artikel tersendiri ataupun publikasi dari perguruan tinggi lain, termasuk dalam bentuk koleksi digital maupun online.

Pada dosen di India diharuskan membuat sendiri buku panduan untuk keperluan pengajaran ataupun buku yang dipublikasikan untuk umum (international edition). Buku panduan pengajaran tersebut akan senantiasa mendapatkan revisi dan pengembangan ke dalam beberapa edisi ataupun cetakan. Mahasiswa tidak dipaksakan atau diharuskan untuk memiliki buku panduan mata kuliah tertentu, akan tetapi mereka diharuskan untuk memiliki sendiri buku panduan untuk nantinya dijadikan bahan diskusi di ruang kuliah. India termasuk salah satu negara yang bisa dikatakan cukup produktif menghasilkan karya ilmiah ke dalam bentuk jurnal, working paper, atau bentuk publikasi ilmiah lainnya.

Biaya Perkuliahan
Ada dua bentuk biaya perkuliahan untuk diinterpretasikan, yaitu biaya untuk penyelenggaraan aktivitas perkuliahan (termasuk biaya pendukung kuliah) dan biaya hidup (living cost). Sebagai catatan, rata-rata biaya hidup untuk tinggal di India sebenarnya tidak berselisih banyak dengan rata-rata biaya hidup di Indonesia. Harga makanan olahan maupun makanan mentah di India pun tidak banyak berbeda dengan Indonesia. Dalam hal biaya hidup, mahasiswa mungkin hanya cukup mengeluarkan ongkos untuk biaya makan dan biaya perlengkapan kebutuhan hidup lainnya. Jadi di sini kita hanya akan membahas mengeni ongkos perkuliahan, termasuk ongkos pendukung perkuliahan.

Besarnya ongkos kuliah berupa uang semester disesuaikan berdasarkan strata pendidikan (S1, S2, S3, magister, dan paska sarjana) dan jurusan. Mahasiswa asing dikenakan biaya yang sama dengan mahasiswa lokal. Sekalipun demikian, pembedaannya hanya terletak pada beasiswa. Berdasarkan dari penuturan narasumber, penulis akan memberikan gambaran biaya perkuliahan untuk kondisi di tahun 2006 di India.

Rata-rata ongkos per semester untuk mahasiswa S1 berada pada rentang antara Rp 60.000 hingga Rp 80.000 per semester. Jika saja diambil rujukan untuk bisa ditarik dengan inflasi di masa sekarang pun, biaya per semesternya tidak mengalami banyak perubahan. Inflasi di India relatif masih lebih rendah daripada di Indonesia. Di masa saya kuliah dulu, uang kuliah sekitar Rp 140.000 per semester di tahun 1994. Kemudian di tahun 2006 telah melonjak menjadi Rp 1.400.000 per semester. Bisa dibayangkan betapa tingginya kenaikan inflasi di negeri ini untuk bidang pendidikan. Adapun uang semester yang dibayarkan dan ditulis tadi berlaku untuk program non beasiswa dan sudah termasuk ke dalam uang mata kuliah.

Untuk program magister dan paska sarjana di India masih jauh lebih rendah biaya perkuliahannya dibandingkan di Indonesia. Disebutkan oleh pihak narasumber yang mengambil magister hukum bidang notariat menghabiskan total biaya semesteran mencapai Rp 4,8 juta (tahun 2004 untuk program non beasiswa). Bandingkan saja dengan program magister di Indonesia pada beberapa PTN bisa menembus di atas Rp 10 juta. Ongkosnya bisa jauh lebih murah apabila mengikuti program beasiswa.

Bagaimana dengan biaya pendukung perkuliahan?

Harga buku maupun perlengkapan tulis (stasioneri) relatif lebih murah untuk kalangan pelajar dan mahasiswa. Pemerintah India dalam hal ini memberikan insentif yang cukup besar untuk meringankan beban (ongkos) belajar dan mengajar di negeri mereka. Sebagai ilustrasi saja, salah satu narasumber menghabiskan sebesar Rp 440 ribu setiap semesternya. Ongkos tersebut untuk membeli sebanyak 5 buah buku panduan kuliah, 3 buah buku non perkuliahan, biaya berlangganan 3 majalan, 3 surat kabar, dan ongkos pembelian alat tulis. Besarnya kenaikan ongkos tersebut relatif lebih rendah untuk setiap tahunnya.

Mahasiswa di India diberikan kesempatan untuk mencari pendapatan dengan memanfaatkan
aktivitas perkuliahan di kampus. Misalnya saja mereka bisa bekerja kepada dosen untuk proyek penelitian. Pekerjaan lain di kampus yang bisa mereka isi dapat berupa membantu pihak kampus untuk melakukan administrasi ataupun kearsipan.

Bagi Anda yang mungkin tertarik atau berminat kuliah di India sebaiknya perlu diperhatikan kampus yang hendak dipilih. Tidak semua kampus di India menggunakan bahasa pengantar berupa bahasa Inggris, kecuali untuk kelas internasional. Sekalipun bahasa Inggris merupakan bahasa kedua mereka, tetapi kecintaan mereka terhadap bahasa lokal cukup tinggi. Beberapa kampus di India malah lebih membudayakan untuk menggunakan bahasa lokal sebagai bahasa pengantar. Sebaiknya dipastikan pula, jika sekalipun murah, di sana hanyalah untuk mereka yang serius ingin disebut kuliah, karena budaya/kebiasaan kuliahnya sangat bertolak belakang dengan Indonesia.

13 Juni 2012

MENGINTIP SISTEM SELEKSI CALON MAHASISWA MIT

MIT merupakan ikon pendidikan tinggi di Amerika yang sekaligus memiliki kurikulum paling kompetitif. Tiada hari tanpa tugas dan tiada hari pula tanpa penemuan (kreativitas). Sekolah yang menciptakan calon ilmuwan, calon akademisi, maupun calon praktisi yang mengisi tempat cukup strategis di negara mereka. Tidak sedikit pula di antaranya yang berkarir solo dan tetap menjadi sosok yang dibutuhkan masyarakat mereka. Di sini kita akan mengintip salah satu sistem seleksi masuk perguruan tinggi yang mereka terapkan. Ada pepatah mengatakan, awal yang baik akan menciptakan lebih banyak hasil akhir yang lebih baik.

MIT digunakan sebagai subyek pembahasan untuk merepresentasikan sistem seleksi masuk calon mahasiswa dari perguruan tinggi di luar negeri. Saya sengaja gunakan subyek yang berasal dari Amerika, karena kebanyakan di antara kita tidak asing dengan nama-nama mereka. Lagipula, sistem serupa pula diterapkan di perguruan tinggi di Eropa dan beberapa di Asia. Fokus tulisan terletak pada sistem seleksi masuk calon mahasiswa sebagai referensi perbandingan dengan sistem serupa yang digunakan di Indonesia. Adapun sumber dari tulisan ini diperoleh dari dokumentasi berupa video maupun buku universitas atau institut (perguruan tinggi) yang namanya dicatutkan di dalamnya.

Latar Belakang Metode Pendidikan
Suatu sistem diterapkan berdasarkan sistem yang berlaku secara keseluruhan mengenai tata cara ataupun pelaksanaan bidang tertentu. Sistem seleksi masuk calon mahasiswa dari perguruan tinggi di Indonesia mengacu pada sistem yang diberlakukan oleh perguruan tinggi negeri (PTN). Sistem seleksi tersebut melakukan sejumlah tes/ujian saringan dengan standarisasi yang dibuatkan oleh PTN setempat. Sejak menggunakan nama Sipenmaru (sistem penerimaan mahasiswa baru) telah menggunakan metode ‘check point’ atas berbagai pilihan jawaban untuk menjawab soal-soal dari ujian saringan masuk perguruan tinggi.

Sistem yang diberlakukan di Indonesia tersebut dilatarbelakangi karena pihak PTN beranggapan belum meratanya kualitas lulusan dari sekolah menengah atas/umum (SMA/SMU) atau tingkat SLTA. Padahal di tingkat sekolah sendiri sudah memberlakukan sistem seleksi yang bertaraf nasional atas kelulusan yang mengalami beberapa kali perombakan mulai ketika bernama Ebtanas (evaluasi belajar tahap akhir nasional) hingga UN (ujian nasional). Hasil seleksi kelulusan tersebut hanya dijadikan sebagai syarat untuk mengikuti sistem seleksi berikutnya.

Bagaimana dengan sekolah-sekolah di Amerika, Eropa, dan beberapa negara di Asia?

Amerika maupun Eropa menerapkan sistem pendidikan yang bisa dikatakan cukup liberal. Mereka lebih berorientasi pada aspek kualitas dengan mewujudkan spesialisasi atas bakat dan keahlian sejak usia 16 tahun atau setingkat dengan SLTA. Keberadaan sekolah kejuruan sudah cukup meluas, bahkan telah terspesialisasi menjadi satu sekolah sendiri. Misalnya, sekolah tata boga, sekolah musik, sekolah otomotif, dan lain sebagainya. Sekolah umum seperti SMU terbagi menjadi dua kelompok, yaitu high school dan college (kolese). Bentuk seperti kolese lebih berorientasi untuk mewujudkan keahlian (praktisi), sekalipun masih menyediakan peluang untuk melompat ke jenjang berikutnya di universitas. Menurut undang-undang di negeir mereka, lulusan dari sekolah-sekolah tersebut memiliki hak untuk dapat meneruskan ke jenjang pendidikan selanjutnya di universitas.

Dengan melihat begitu beragamnya kualitas yang menyebar ke berbagai bidang, bagaimana
perguruan tinggi seperti universitas/institut membuatkan sistem seleksi masuk untuk mereka? Mereka sangat dibatasi dan di bawah tekanan atas hak konstitusi warga negara yang memperoleh hak atas pendidikan yang layak.

Sistem Seleksi Berorientasi Bakat dan Berjenjang
Pemerintah di negara seperti Amerika memiliki kebijakan yang unik mengenai potensi intelektual warga negara. Setiap sekolah di negara tersebut merupakan telinga dan sekaligus pemberi informasi strategis kepada pemerintah. Informasi mengenai keberadaan warga negara yang dianggap memiliki potensi atau bakat intelektual. Butuh tidak sekedar keterlibatan pemerintah, melainkan keterlibatan dari sekolah dan perguruan tinggi untuk melakukan pemantauan atas potensi dan bakat warga negara.

Mereka tidak memberlakukan sistem kualifikasi nasional yang diselenggarakan seperti Ujian Nasional di Indonesia. Sistem kualifikasi diserahkan ke masing-masing sekolah, sesuai dengan standarisasi dan aturan yang ditetapkan oleh negara. Sekolah di sana bahkan diberikan kewenangan pula untuk mengelola kurikulumnya, kecuali untuk kurikulum pada pendidikan umum dan berstatus milik pemerintah. Negara tetap memiliki fungsi untuk melakukan kontrol atau pengawasan dan melakukan evaluasi secara menyeluruh. Kesamaan di antara sekolah-sekolah tersebut hanya pada masa dimulai tahun ajaran baru, liburan, dan masa terakhir tahun ajaran.

Evaluasi atas pelaksanaan kegiatan belajar dan mengajar tadi dilakukan oleh lembaga khusus yang dibentuk oleh pemerintahan. Hasilnya dipublikasikan dan menjadi rujukan bagi pihak lain yang berkepentingan, terutama pihak sekolah maupun perguruan tinggi.
Sistem seleksi masuk calon mahasiswa yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi ternyata sangat efisien. Mereka tidak menyelenggarakan ujian bersama yang dikumpulkan di satu tempat, kemudian diumumkan hasilnya. Calon mahasiswa yang telah diterima sesungguhnya belum bisa dikatakan 100% akan mendapatkan kepastian studi di perguruan tinggi yang dikehendaki. Mereka akan berhadapan dengan masa percobaan kuliah selama 1 tahun atau 2 semester yang menggunakan sistem ‘knock out’. Di beberapa negara Eropa menerapkan masa percobaan hingga 3-4 bulan lamanya, sebelum calon mahasiswa dinyatakan maju ke tahap studi selanjutnya. Masa percobaan bisa berbeda-beda untuk beberapa perguruan tinggi atau negara, tetapi tahun pertama merupakan tahun penentuan yang sangat padat, sebelum calon mahasiswa akan menyandang statusnya sebagai mahasiswa.

Sebagai catatan, sistem seleksi calon mahasiswa seperti yang dituliskan di atas hanya
diterapkan pada perguruan tinggi tertentu, terutama perguruan tinggi yang memiliki reputasi nasional dan internasional. Tetapi mereka memiliki kesamaan prinsip dalam menerapkan sistem seleksi awal yang berbasis pada kompetensi atas potensi dan bakat individu. Tingginya tingkat persaingan antar perguruan tinggi mendorong mereka untuk bersikap ‘menjemput bola’, yaitu dengan mendatangi langsung individu (calon mahasiswa) untuk diberikan presentasi informasi mengenai perguruan tinggi yang ditawarkan. Tidak jarang di antaranya yang sudah memesannya sejak si calon masih duduk di bangku sekolah dasar. Untuk calon mahasiswa reguler akan langsung mengikuti tahap wawancara yang diselenggarakan di kota-kota yang telah ditentukan.

Menengok Isi Materi Wawancara
Setelah melengkapi tahap administratif, calon mahasiswa kemudian akan mengikuti tahap awal seleksi masuk berupa wawancara. Tidak seperti yang dibayangkan, karena lama waktu wawancara bisa mencapai lebih dari 6 jam. Perguruan tinggi mengirimkan tim khusus seleksi masuk yang merupakan ilmuwan dan spesialis pemandu bakat untuk melakukan tahap wawancaran. Proses administrasi sebenarnya bukan hal yang sepele, karena di dalamnya tidak ditanyakan gaji orangtua, melainkan lebih banyak menanyakan aspek yang berkaitan dengan bakat dan potensi individu.

Pada tahap pra wawancara, calon mahasiswa akan diberikan semacam tugas yang akan dikumpulkan pada hari panggilan wawancara. Lama waktu pengerjaan bisa 1-3 hari, tergantung dari jurusan yang dikehendaki. Pada saat pengumpulannya terlihat beberapa di antara mereka membawa dalam bentuk setumpuk kertas atau ada pula dalam bentuk barang yang mereka buat sendiri. Nampaknya di dalam tugas tersebut akan dicaritahu atau diambil penilaian yang meliputi unsur kreativitas/inovasi, potensi keahlian, dan keseriusan/minat. Di hari wawancara itulah nantinya mereka akan mempresentasikan tugas-tugas yang mereka kerjakan di depan panitia seleksi calon mahasiswa.

Menyaksikan tayangan video dokumentasi di salah satu bagian tim seleksi masuk Columbia University, saya tidak bisa membayangkan seperti apa jadinya mereka kelak. Bisa dibayangkan, di usia yang relatif masih sangat muda sudah dituntut kemampuan persuasif dan diplomasi yang luar biasa. Mereka calon mahasiswa sepertinya dituntut untuk mampu mengendalikan pembicaraan dan pikiran anggota tim seleksi yang berkemampuan doktoral. Terlihat di tayangan video tersebut, papan tulis yang panjangnya sekitar 6 meter bisa penuh dengan coretan tangan si calon mahasiswa. Para anggota tim seleksi nampaknya bukan individu yang mudah terkesan dan sangat kritis untuk mencari kelemahan si calon mahasiswa.

Beberapa perguruan tinggi tidak menerapkan sistem seleksi masuk seperti di atas. Tahap awal cukup dilakukan dengan mengisi data riwayat hidup (curiculum vitae). Mirip sekali suasananya dengan suasana calon karyawan mencari kerja. Tahap wawancara tidak berlangsung lama, bahkan beberapa perguruan tinggi tidak memiliki agenda wawancara. Calon mahasiswa hanya diperkenankan mengisi data riwayat hidup hanya apabila memenuhi ketentuan yang disyaratkan oleh pihak perguruan tinggi. Penggalian potensi/bakat ataupun minat akan dilakukan pada satu tahun pertama calon mahasiswa menempuh pendidikan yang disebut sebagai masa percobaan. Dalam hal ini, sistem seleksi pada masa percobaan menggunakan sistem gugur. Mahasiswa yang dalam masa percobaan tidak mampu memenuhi kompetensi standar yang dikehendaki oleh kampus akan langsung dikeluarkan.

Kritik Atas Sistem Kualifikasi dan Sistem Seleksi Nasional
Sistem seleksi nasional yang selama ini diterapkan di Indonesia agaknya hanya mempertimbangkan aspek kepraktisan semata. Sistem kualifikasi nasional di tingkat sekolah seolah tidak terhubung atau terkait dengan sistem seleksi yang diselenggarakan oleh pihak perguruan tinggi. Seharusnya keseluruhannya menjadi satu kesatuan sistem dan konsep yang disebut perencanaan strategis pengembangan sumber daya manusia. Sistem kurikulum yang diterapkan di sekolah hanya untuk memenuhi kualifikasi masuk ke jenjang berikutnya hingga perguruan tinggi, tetapi tidak berdasarkan pada tatanan perencanaan yang saling terhubung dan saling membutuhkan.

Jika alasan kurikulum sekolah yang semakin padat dikarenakan untuk mengikuti tuntutan
dinamika kurikulum, maka pertanyaannya apakah nilai-nilai mata pelajaran di dalam UN mampu merepresentasikan potensi yang sesungguhnya dari siswa? Perlu dipertanyakan pula, apakah sistem seleksi masuk yang diterapkan dalam SNMPTN mencerminkan kebutuhan perguruan tinggi (PTN)? Apakah perguruan tinggi hendak memberikan kualifikasi dasar semata sebelum calon mahasiswa mengikuti pelaksanaan kurikulum di perguruan tinggi? Apakah sesungguhnya yang dikehendaki mengenai kebutuhan perguruan tinggi?

Ilustrasi yang sederhana bisa diperlihatkan pada kasus penerapan persyaratan atau kewajiban mahasiswa untuk membuat jurnal (yang dipublikasikan resmi). Ketentuan yang baru disampaikan sekitar akhir tahun 2011 tersebut mendapatkan respon pro dan kontra yang sesungguhnya bermuara pada masih rendahnya kemampuan menulis di kalangan mahasiswa. Permasalahan kebutuhan tersebut tidak direpresentasikan ke dalam SNMPTN maupun UN. Padahal, kemampuan menulis sudah diperkenalkan sejak tingkat sekolah dasar yang terus berkembang hingga ke tingkat SLTA (SMU). Minimnya karya ilmiah dalam bentuk hasil riset maupun inovasi di kalangan perguruan tinggi dikarenakan sejak awal sudah lemah fondasi pengembangan bakat/potensi individu.

Seringkali ditemukan pendapat di mana pihak perguruan tinggi mengkritisi kurikulum yang diterapkan di tingkat sekolah dasar. Mereka beranggapan apabila materi di dalam kurikulum atau mata pelajaran tertentu telah melampaui batas. Seperti diketahui apabila materi maupun kurikulum yang terdapat pada sekolah forma terus mengalami pengembangan. Hal ini menunjukkan apabila akselerasi kurikulum di tingkat sekolah ternyata tidak berorientasi untuk menunjang pencapaian atau kebutuhan yang dikehendaki di tingkat perguruan tinggi.

Sudah lebih dari 30 tahun lamanya sistem yang tidak saling terkait antara sistem kualifikasi maupun sistem seleksi telah berlangsung di dalam tatanan pendidikan nasional. Upaya terobosan seperti pada pemberlakuan kewajiban menulis jurnal dan rencana dihapuskannya SNMPTN sebaiknya dikaji ulang berdasarkan sumber permasalahannya. Harus diakui apabila sistem kualifikasi ataupun sistem seleksi sangat terbuka kemungkinannya untuk dimanipulasi. Tetapi manipulasi tidak akan bisa berlaku apabila kedua sistem tersebut berorientasi pada bakat/potensi individu.

17 Februari 2012

MEMPERTANYAKAN NASIONALISME STUDI LANJUT KE LUAR NEGERI

Studi lanjut di luar negeri merupakan impian bagi siapapun insan pendidikan di negeri ini. Kebanggaan, prestis, dan tentunya keinginan untuk menengok negeri lain selain negeri sendiri. Pertanyaannya lagi, perlukah harus mengambil studi di luar negeri? Jika mesti mengkedepankan idealisme, maka hanya ada 3 alasan yang menjadi pertimbangan seseorang harus mengambil studi lanjut di luar negeri. Mengapa dengan nasionalisme?

Satu ketika, Soekarno muda pernah punya keinginan untuk melanjutkan studi di luar negeri, yaitu di negeri Belanda. Keinginan tersebut ditolak oleh ibundanya. “Tidak ada salahnya. Tapi banyak jeleknya ke negeri Belanda. Apakah yang menyebabkan engkau tertarik? Pikiran untuk mencapai gelar universitas ataukah penghargaan akan mendapatkan perempuan kulit putih?”. Soekarno menjawab, “Saya ingin masuk universitas, Bu”. Dilanjutkan oleh ibundanya, “Kalau itu yang kau ingini, kau memasuki yang di sini. Pertama, kita harus mengingat kenyataan pokok yang mengendalikan sesuatu dalam hidup kita, uang. Pergi ke luar negeri memerlukan biaya yang sangat besar. Disamping itu, engkau adalah yang dilahirkan dengan darah Hindia (pribumi). Aku ingin supaya engkau di sini di antara bangsa kita sendiri. Jangan lupa sekali-kali nak, bahwa tempatmu, nasibmu, pusakamu adalah di kepulauan ini” (dikutip dari buku “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat” yang dituliskan oleh Cindy Adams).

Situasi yang berbeda dengan founding fathers lainnya, yaitu Mohammad Hatta yang menempuh studi lanjut di Belanda. Hatta dibesarkan di lingkungan keluarga dengan perekonomian yang berkecukupan. Setelah menamatkan sekolahnya di Handel Middlebare School (Jakarta), Hatta langsung bertolak ke Rotterdam untuk mengambil studi lanjut di Nederland Handelshogeschool untuk meneruskan minatnya studi ilmu ekonomi. Satu alasan Hatta menimba ilmu di Belanda, yaitu suatu keyakinan jika bangsanya akan mampu menjadi bangsa yang mandiri suatu saat kelak. Keyakinan tersebut muncul setelah Hatta aktif dalam kegiatan partai politik di tanah air maupun yang berada di Belanda. Ketika ditanya mengapa Indonesia harus merdeka, Hatta muda berujar, jika memang bangsanya tidak bisa mandiri, tentunya tidak akan pernah ada keinginannya untuk mewujudkan kemerdekaan.

Sepenggal cuplikan kisah para pendiri bangsa mengenai pandangannya untuk mengambil studi lanjut. Alasan yang disampaikan oleh ibunda Soekarno benar adanya. Soekarno justru menjadi mahasiswa yang menonjol dan berprestasi, bahkan sempat ditakuti oleh Belanda. Hatta punya alasan tersendiri, yaitu mengembalikan seluruh ilmu yang telah diraihnya untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri. Hatta sebenarnya masih bisa hidup nyaman dengan menjadi pengajar (dosen) perguruan tinggi di Belanda. Tidak perlu bersusah payah kembali ke tanah air di mana konsep berpikirnya masih jauh bisa diimplementasikan di negeri yang masih berstatus Hindia Belanda.

Setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya, praktis Indonesia harus memulainya dari titik nol. Kita harus memiliki engineering, pakar ekonomi, pakar sains, fisika nuklir, dan seluruh ahli teknik yang menjadi modal untuk mencapai kemandirian nasional. Soekarno mengutarakannya dengan pandangan “Berdiri di Atas Kaki Sendiri” yang kemudian dikenal dengan istilah “Berdikari”. Dikirimlah mereka yang berbakat untuk bersekolah dan menimba ilmu ke luar negeri, seperti Eropa, Sovyet (Rusia), dan Amerika Serikat. Puluhan ribu jumlah mereka yang dikirimkan studi lanjut di luar negeri dengan biaya yang cukup besar, sekalipun di dalam negeri sendiri tengah mengalami kesulitan keuangan. Sayangnya, setelah Soekarno digulingkan, tidak sedikit di antara mereka yang tidak kembali ke tanah air, karena alasan takut untuk ditangkap.

Program pengiriman mahasiswa untuk studi lanjut di luar negeri masih terus dijalankan setelah memasuki masa pemerintahan Orde Baru. Mereka umumnya dikirimkan dengan beasiswa dari pemerintah. Sekalipun demikian, tidak sedikit di antara mereka yang dikirim studi lanjut ke luar negeri yang tidak kembali lagi ke tanah air. Berbagai alasan dimunculkan seperti ketiadaan sarana pendukung yang memadai, sesuai dengan bidang yang mereka pelajari. Studi lanjut ke luar negeri saat ini tidak hanya dibiayai oleh beasiswa dari pemerintah, melainkan terdapat alternatif tawaran beasiswa dari luar negeri.

Menelusuri Alasan Studi Ke Luar Negeri
Setelah bertahun-tahun lamanya, bangsa ini masih saja terus mencari pengalaman belajar di luar negeri. Tidak sedikit perguruan tinggi di dalam negeri yang sesungguhnya telah menawarkan program studi yang mereka kehendaki. Sarana maupun fasilitas belajar di dalam negeri pun sebenarnya telah mengikuti standar kualitas pendidikan internasional. Berbagai alasan pun dimunculkan.
Pertama mengenai pemeringkatan universitas. Perguruan tinggi di luar negeri umumnya memiliki peringkat universitas di atas rata-rata perguruan tinggi di Indonesia. Pemeringkatan tersebut kemudian dikonotasikan dengan kualitas pendidikan yang diberikan oleh perguruan tinggi di luar negeri yang lebih baik.
Kedua mengenai fasilitas. Perguruan tinggi di luar negeri menawarkan sarana maupun fasilitas lebih menarik dan memadai, ketimbang perguruan tinggi di dalam negeri. Mereka memiliki sarana berupa perpustakaan yang cukup megah dan dilengkapi dengan arsip/dokumen elektronik. Dukungan penuh atas akses referensi internasional, termasuk jurnal-jurnal ilmiah.
Ketiga mengenai sistem perkuliahannya. Perlu diakui mengenai adanya perbedaan sistem perkuliahan antara perguruan tinggi di dalam negeri dan di luar negeri. Misalnya seperti sistem sesi konsultasi yang langsung ditangani oleh pengajar setingkat doktor atau dukungan tutorial yang dipandu langsung oleh tenaga-tenaga bersertifikasi tinggi. Kebiasaan pemberian pelayanan edukasi memang cukup berbeda.
Keempat mengenai kualitas tenaga pengajar. Seperti diketahui bahwa hampir sebagian besar pemrakarsa paham pemikiran yang berpengaruh di negeri ini berasal di perguruan tinggi di negeri barat. Negara-negara maju yang tergabung di dalam kelompok G-7 itu pun kebanyakan adalah negara barat. Bagi kebanyakan orang Indonesia akan beranggapan apabila pendidikan di barat akan lebih berkualitas daripada pendidikan di dalam negeri.

Jika membaca alasan di atas, saya jadi teringat kehebohan alasan studi banding yang dilakukan oleh pemerintah maupun anggota DPR RI setahun silam. Alasan melakukan studi banding sama sekali tidak rasional dan tidak ada hasil apapun yang berarti dari hasil studi banding yang memakan biaya cukup besar.

Berbagai alasan seperti yang dijelaskan di atas mungkin bisa dikatakan sebagai suatu pembenaran, akan tetapi tidak tertutup kemungkinan hanyalah mitos. Berikut ini pemaparannya.
Pemeringkatan perguruan tinggi sebenarnya bekerja dengan cara yang kurang obyektif. India merupakan negara yang termasuk cukup besar menghasilkan tenaga engineering yang bekerja di negara-negara barat maupun Asia. Perguruan tinggi di India tidak dipusingkan dengan urusan pemeringkatan internasional. Sekalipun demikian, mereka termasuk paling sering melahirkan kandidat-kandidat peraih penghargaan Nobel di bidang sains.
Persepsi ataupun penilaian mengenai kualitas sarana dan fasilitas perkuliahan sebenarnya sangat relatif. Memang perlu diakui apabila universitas-universitas di luar negeri lebih banyak menjalin hubungan dengan perguruan tinggi ternama, sehingga memiliki akses yang lebih leluasa terhadap referensi internasional. Sekalipun demikian, semua akan berpulang kembali pada masing-masing individu. Pemikir-pemikir besar itu pun dulunya dibesarkan di lingkungan yang sangat terbatas sekali referensi, tetapi mereka mampu untuk menciptakan paham pemikiran sendiri.
Sistem perkuliahan di negeri barat atau di luar negeri perlu diakui lebih baik. Mahasiswa langsung ditangani oleh dosen yang bersertifikasi minimal doktoral. Sekalipun demikian, seorang pengajar di sana tidak akan begitu saja memberikan yang diinginkan mahasiswa, kecuali si mahasiswa yang berusaha menanyakannya. Sebaik apapun pelayanan pendidikannya pada akhirnya pun kembali pada masing-masing individu dapat memanfaatkannya.
Benar adanya, apabila pemikir-pemikir saat ini berasal dari negara-negara barat. Seharusnya kita pun perlu memperhatikan, apabila para pemikir besar itu pun dulunya membesarkan pemikirannya di lingkungan yang sangat terbatas.

Jika saja harus memaksakan idealisme, maka hanya ada 3 alasan jika harus mengambil studi lanjut ke luar negeri. Pertama, bidang studi yang hendak diambil tidak ada di dalam negeri atau setidaknya masih belum banyak berkembang. Bidang studi seperti ini biasanya bisa dijumpai seperti studi teknik mikrobiologi, ilmu mengenai fisika nuklir, dan beberapa bidang lainnya. Kedua, studi lanjut dikaitkan dengan studi kasus pengalaman di negara yang menjadi sasaran studi lanjut. Misalnya, Anda ingin studi ilmu ekonomi di India, karena negara tersebut memiliki karakteristik politik ekonomi yang tidak berbeda dengan Indonesia. India pun pernah memasuki masa-masa terjebak dalam pusaran utang luar negeri. Saat ini, India sudah cukup banyak melahirkan pemikir-pemikir ekonomi, termasuk poros pemikiran mengenai welfare state. Ketiga, alasan apabila pendidikan di luar negeri lebih murah, termasuk memiliki peluang untuk bekerja sambil kuliah.

Sebuah Catatan Pinggir
Seniman Sudjiwo Tedjo pernah berujar, apabila negara ini terlalu bebas mengirimkan orang-orangnya ke luar negeri untuk studi lanjut. Tanpa disadari, bahwa perguruan tinggi di luar negeri mendapatkan informasi yang cukup mudah tentang Indonesia yang seudah dilengkapi dengan analisanya. Tidak hanya itu, mereka pun dengan cukup mudah dapat memanfaatkan orang Indonesia untuk dipekerjakan menjadi sumber analisis informasi bagi mereka yang kemudian nantinya akan menjadi informasi intelijen.

Hampir sebagian besar lulusan terbaik yang dikirimkan ke luar negeri tidak ada yang kembali ke tanah air. Beberapa di antara mereka beralasan apabila ilmu yang mereka terima tidak bisa diterapkan di negerinya sendiri. Fakta yang mungkin tidak bisa dibantah, tetapi terlalu naif jika menggunakan alasan tersebut. Mereka sebenarnya masih bisa mengabdikan ilmunya dengan menjadi pengajar atau dosen. Sayangnya, hanya sedikit di antaranya yang mau mengabdikan ilmunya ke negerinya sendiri.

Beberapa di antara mereka yang lain beralasan apabila iklim studi dan riset di luar negeri sangat mendukung untuk pengembangan diri mereka. Fakta ini tidak bisa dibantah dan benar adanya. Tidak sedikit riset ilmiah sulit mendapatkan pengakuan nasional dalam bentuk paten. Sering pula terdengar apabila hasil riset para ilmuwan tidak bermanfaat di Indonesia. Justru negara-negara asing yang memiliki minat untuk mematenkan dan sekaligus menerapkannya. Sistem berpikir di negeri ini pun kurang cocok atau kurang mampu mendukung sistem berpikir yang selama ini mereka biasakan di luar negeri. Apalagi di luar negeri, seorang peneliti tidak terlalu sulit mendapatkan dana penelitian dari pemerintahnya maupun institusi swasta di negara mereka mengambil studi lanjut. Suatu realita yang tidak terbantahkan pula apabila dana penelitian yang dialokasikan di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara tetangga, bahkan hanya mencapai kurang dari 1/3 dari total dana penelitian perusahaan Microsoft setiap tahunnya. Belum lagi apabila membahas mengenai gaji tenaga pengajar dan ilmuwan di Indonesia yang masih sangat rendah. Tentu saja kondisi tersebut sangat bertolak belakang dengan kebanyakan gaya hidup orang Indonesia.

Kita mungkin kurang begitu memperhatikan kasus terbunuhnya anak bangsa di Singapura yang bernama David di tahun 2008. Kasus yang sempat mengganggu hubungan diplomatik di antara kedua negara tersebut seolah sengaja ditutupi agar memang tidak menjadi polemik di masyarakat Indonesia. David merupakan mahasiswa di perguruan tinggi Singapura yang telah menyelesaikan tugas akhir perkuliahannya. Dikabarkan David menghasilkan karya yang tergolong fenomenal di bidang teknik yang hendak diklaim oleh Singapura. Dikabarkan pula David tidak rela karyanya tersebut diklaim oleh Singapura untuk dipatenkan bagi negara tersebut. Perseteruan dengan dosennya kemudian berujung pada kematian David secara misterius. Hingga saat ini kasus kematian David masih misterius. Pihak pemerintah hanya menutup kasus tersebut sebagai kasus bunuh diri.

"Mungkin saya bisa makan enak, tidur enak punya oto, punya rumah besar. Tapi saya berdosa pada bangsa saya, dan buat apa saya hidup bila saya menanggung dosa terhadap masa depan bangsa ini"



Kutipan pernyataan di atas adalah pernyataan Soekarno ketika dirinya menolak tawaran orang pemerintahan Belanda untuk bekerja sebagai pegawai Gupernemen (semacam pegawai khusus pemerintahan). Padahal jika saja diterima tawaran tersebut, Soekarno akan mendapatkan penghasilan ratusan Gulden dari Belanda. Lebih dari cukup untuk bisa mewujudkan impian pribadinya melancong ke negeri-negeri di Eropa. Sikap penolakan atas tawaran tersebut sesungguhnya mencerminkan sikap moral dari diri Soekarno sendiri. Siapapun mungkin bisa mendebatkan, tetapi tidak bisa mendebatkan kata hati seseorang yang pernah membawa nama Indonesia begitu disegani di antara dua nama negara adidaya di masa itu.

Sebagai bangsa yang besar sudah seharusnya dan selayaknya melahirkan lebih banyak poros pemikiran baru di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Berabad-abad yang silam, Nusantara pernah menjadi pusat studi lanjut atau poros kebudayaan di dunia di masa kejayaan Sriwijaya. Demikian pula ketika memasuki kejayaan Majapahit yang menjadi poros kebudayaan Budha yang mampu menciptakan poros pemikiran dari sumbernya di India. Di masa pergerakan nasional, Soekarno misalnya memperkenalkan paradigma ilmu sosial yang disebut Marhaenisme yang sesungguhnya merupakan poros baru dari paham Marxisme. Di masa pergerakan nasional itu pula memunculkan poros baru dari pesantren yang dikelola Haji Misbach yang kemudian dikenal dengan paham “Islam Abangan”. Mungkin sedikit di antara kita yang mengetahui betapa cemerlangnya pendekatan baru dari Marxisme dari Tan Malaka yang saat ini menjadi salah satu referensi pemikiran Marxis di dunia. Mohammad Hatta memperkenalkan gagasan sosialisme yang dikenal dengan sebutan “Koperasi” dan sekaligus membedakan dengan pendekatan serupa yang digunakan di Eropa. Masih ada cukup banyak deretan nama di masa lalu yang sesungguhnya mencerminkan kemampuan bangsa Indonesia untuk menciptakan poros pemikiran baru.

Fakta sejarah mengungkapkan apabila sumberdaya manusia Indonesia dengan peringkat kualitas nomor 1 dan 2 tidak pernah mengabdikan ilmunya di negerinya sendiri. Mereka yang mengabdikan ilmunya sebagian besar dan yang menonjol adalah sumberdaya manusia dengan peringkat kualitas nomor 3 dan 4. Peringkat ke-5 biasanya dikirim ke luar negeri untuk dipekerjakan sebagai TKI/TKW. Mereka yang berada pada peringkat ke-3 dan ke-4 inilah yang saat ini menjabat sebagai pejabat publik maupun bekerja di instansi pemerintahan/swasta. Sungguh ironis sekali, jika bangsa Indonesia harus berhadapan dan bersaing dengan bangsa-bangsa lain yang dengan kualitas sumberdaya manusia peringkat 1 dan 2. Ironis pula jika tidak sedikit di antaranya justru terdapat bangsa Indonesia sendiri yang membantu bangsa asing dengan menjadi warga negara di negara tersebut.

Sudah saatnya bangsa ini harus lebih banyak belajar dari pemikiran tokoh-tokoh di masa lalu, bahwa satu saat nanti mampu mengembalikan kejayaan di masa silam sebagai salah satu pusat kebudayaan dunia. Soekarno pernah berucap, “Sediakanlah aku 10 pemuda, maka aku akan mengguncang dunia”. Sekalipun di masa itu bangsa Indonesia sedang mengalami kesusahan, akan tetapi bangsa Indonesia masih memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi. Bangsa Jepang di masa Restorasi Meji mengirimkan putera-putera terbaiknya ke luar negeri untuk menimba ilmu yang nantinya akan digunakan dan diterapkan di negerinya. Begitu pula gagasan para pendiri bangsa ini di masa lalu, bahwa satu saat kelak bangsa ini akan mampu mewujudkan dirinya menjadi bangsa yang mandiri dan berdikari.

25 Desember 2008

KOMPONEN-KOMPONEN PEMBENTUK BIAYA PENDIDIKAN

Selama digelar aksi mahasiswa menolak draf pengesahan UU BHP, seringkali mahasiswa menyuarakan tentang mahalnya biaya pendidikan. Biaya Operasional Pendidikan (BOP) di dalam UU BHP dituding akan menyebabkan biaya pendidikan di Indonesia menjadi semakin mahal. BOP merupakan salah satu dari sekian banyak komponen yang membentuk biaya pendidikan secara keseluruhan. Suatu kebijakan yang berorientasi pada pendidikan murah sesungguhnya tidak hanya sekedar berfokus pada BOP, akan tetapi memperhatikan pula komponen-komponen lain yang membentuk biaya pendidikan. Tulisan ini membahas mengenai komponen-komponen yang membentuk biaya pendidikan secara keseluruhan dan permasalahan-permasalahannya.

Pendidikan adalah suatu bentuk investasi sumber daya manusia yang hasilnya dapat digunakan sebagai modal untuk memenuhi kebutuhan di masa yang akan datang. Berbeda dengan pengertian investasi fisik yang hasil atau manfaatnya bisa langsung diketahui atau diterima. Investasi sumber daya manusia seperti pendidikan tidak segera atau mendapatkan hasilnya selama proses investasi tadi sedang berlangsung. Pengertian investasi itu sendiri adalah bentuk lain dari pembelanjaan atau pengeluaran untuk pembentukan modal/kapital di masa depan. Selama proses pendidikan sedang berlangsung, maka itu berarti pengeluaran akan selalu lebih besar dibandingkan dengan manfaat (benefit). Besarnya pembelanjaan disebut juga sebagai besarnya biaya pendidikan. Berikut ini adalah komponen-komponen yang membentuk biaya pendidikan.

Biaya Operasional Pendidikan (BOP)
BOP adalah biaya yang dikeluarkan oleh anak didik untuk memenuhi tuntutan biaya penyelenggaraan pendidikan di institusi pendidikan. Di tingkat perguruan tinggi, BOP terdiri atas biaya Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) dan biaya uang pangkal. SPP terdiri atas SPP Tetap yang besarnya ditetapkan per semester dan SPP Variabel yang besarnya ditentukan berdasarkan banyaknya SKS. Untuk uang pangkal hanya dibayarkan ketika pertama kali masuk ke perguruan tinggi. Dari ketiga komponen BOP tersebut, uang pangkal adalah biaya yang paling banyak nilai nominalnya (bukan diakumulasikan) dibandingkan SPP (tetap maupun variabel). Sekalipun hanya dibayarkan sekali, pada beberapa fakultas seringkali uang pangkal masih lebih besar jika dibandingkan total nilai akumulasi SPP Tetap maupun SPP Variabel.
Sejak diberlakukannya BHMN atau setidaknya sejak tahun 2004, hampir semua perguruan tinggi menarik SPP di atas Rp 1 juta per semester. Jika diasumsikan anak didik mengambil keseluruhan SKS sebanyak 24 SKS, maka nilai totalnya bisa mencapai di atas Rp 1 juta per semester. Jika dibandingkan dengan periode sebelum tahun 2000, inflasi biaya pendidikan untuk penyelenggaraan pendidikan setelah tahun 2004 termasuk cukup tinggi, yaitu mencapai di atas 100%. Biaya penyelenggaraan pendidikan untuk PTN mulai lebih mahal daripada rata-rata biaya penyelenggaraan pendidikan di PTS. Komponen BOP saat ini masih menjadi satu-satunya komponen pendidikan yang paling mahal di mana rata-rata per tahun (2 semester) bisa mencapai di atas Rp 2 juta.

Biaya Hidup (Living Cost)
Pada umumnya, perguruan tinggi yang dipilih oleh anak didik adalah perguruan tinggi yang tidak berada di daerah di maan anak didik tinggal. Jika demikian, maka komponen biaya hidup akan semakin bertambah. Mereka anak didik yang kebetulan tinggal satu kota dengan perguruan tinggi memiliki komponen biaya hidup (living cost) yang jauh lebih rendah. Sekalipun demikian, apabila biaya pendidikan diartikan sebagai suatu investasi, maka keseluruhan komponen-komponen pokoknya harus tetap diperhitungkan. Adapun yang termasuk ke dalam komponen biaya hidup adalah biaya tempat tinggal atau kos, biaya makan, biaya transportasi, biaya untuk telekomunikasi, dan biaya untuk keperluan hiburan.
Tingkat inflasi secara umum terhadap komponen-komponen biaya hidup di Indonesia termasuk cukup tinggi terutama untuk permintaan di bidang pendidikan. Untuk ukuran Yogyakarta, biaya untuk penginapan (kos) rata-rata per tahun sudah mencapai di atas Rp 1 juta (terhitung hasil pemantauan tahun 2005). Biaya yang dikeluarkan untuk sekali makan sudah mencapai di atas Rp 3.000 sehingga apabila dikalkulasikan dalam satu tahun menjadi di atas Rp 5 juta. Biaya transportasi juga terus meningkat seiring dengan peningkatan harga BBM di dalam negeri. Jika dimisalkan rata-rata satu hari dibutuhkan anggaran transport sebesar Rp 5.000, maka besarnya total biaya transport untuk satu tahun mencapai sekitar Rp 1,8 juta. Hasil temuan riset yang pernah dilakukan oleh UPN Yogyakarta pad pertengahan tahun 2008 lalu menyebutkan jika rata-rata pengeluaran biaya untuk telekomunikasi mahasiswa bisa mencapai di atas Rp 300 ribu per bulan sehingga total rata-rata biaya telekomunikasi selama satu tahun adalah Rp 3,6 juta. Di sini kita buat permisalan saja anggaran telekomunikasi hanya Rp 2 juta per tahun. Jika tidak diperhitungkan biaya-biaya untuk hiburan, maka total besarnya komponen biaya hidup di Yogyakarta adalah Rp 9,8 juta per tahun (perhitungan minimum dan dibulatkan terendah). Jika kita menggunakan perhitungan secara riil, maka biaya hidup rata-rata yang sesungguhnya bisa mencapai antara Rp 15- 20 juta per tahun atau bahkan lebih. Angka biaya hidup (living cost) menempati peringkat kedua besarnya biaya pendidikan di Indonesia.

Biaya Pendukung Studi
Komponen biaya yang termasuk ke dalam biaya pendukung studi meliputi biaya pembelian alat tulis, buku tulis/catatan, modul, foto copy, dan biaya untuk pembelian buku. Untuk alat tulis, sekalipun angka inflasinya mencapai di atas 50%, akan tetapi alat tulis memiliki durabilitas yang tinggi atau tahan lama dalam pemakaian. Kebutuhan mahasiswa untuk alat tulis relatif bervariasi tergantung dari orientasinya terhadap studi secara individu. Jika menggunakan data hasil survei biaya hidup mahasiswa tahun 2008, maka rata-rata pengeluaran untuk alat tulis (termasuk foto copy dan print) berkisar antara Rp 300-500 ribu per semester.
Mengenai biaya pembelian buku juga relatif untuk setiap mahasiswa tergantung ketersediaan buku di masing-masing fakultas. Idealnya, seorang mahasiwa harus memiliki sendiri buku pegangan wajib studi. Permasalahannya, hampir sebagian besar buku pegangan yang disarankan oleh pengajar (dosen) adalah buku pegangan yang bukan berasal dari Indonesia atau yang ditulis oleh penulis asing. Jika menggunakan buku asli yang masih ditulis dalam bahasa asing, maka harga rata-rata buku tersebut mencapai di atas Rp 100 ribu. Untuk buku yang ditulis oleh penulis lokal, maka harga rata-rata buku tersebut mencapai di atas Rp 50 ribu. Banyaknya buku dan jenis buku yang dibeli adalah relatif dan tergantung dari orientasi dari masing-masing mahasiswa. Idealnya, selama masa kuliah setidaknya memiliki 5 hingga 10 buku pegangan wajib. Untuk per tahun setidaknya seorang mahasiswa membutuhkan sekitar 3-5 buku pegangan per semester. Oleh karena itu, dengan menganggap setiap mahasiswa memiliki orientasi yang sama, maka besarnya pengeluaran minimal untuk pembelian buku berkisar antara Rp 400-600 ribu per semester. Biaya-biaya ini masih belum memadai karena untuk ukuran setelah tahun 2005, kebutuhan mahasiswa sudah mulai meningkat pada kebutuhan akses internet. Sekalipun beberapa perguruan tinggi menyediakan hotspot ataupun internet gratis, akan tetapi tidak beroperasi 24 jam. Untuk sementara ini, biaya akses internet bisa dikesampingkan dulu karena masih terbuka kemungkinan mahasiswa mengakses internet tanpa biaya.

Biaya Pendukung Studi Tambahan
Setiap anak didik memiliki kebutuhan yang relatif beragam, tergantung dari kebiasaan, kemampuan ekonomi (sumber dana), dan gaya hidup. Berdasarkan survei kebutuhan hidup mahasiswa tahun 2008, pendukung studi yang sering dipilih oleh mahasiswa adalah komputer personal (PC), telepon seluler (ponsel), dan kendaraan bermotor. Beberapa di antaranya juga memilih perangkat tambahan seperti perangkat audio, televisi, dan console box sebagai perangkat untuk hiburan.
Untuk taraf pendidikan moderen seperti sekarang ini, setidaknya komputer personal (PC) sudah dianggap sebagai kebutuhan wajib. Hampir semua tugas dan materi kuliah sudah mewajibkan anak didik memanfaatkan fasilitas komputer sebagai perangkat pendukung studi. Harga perangkat PC standar mencapai antara Rp 3 juta hingga Rp 5 juta. Perangkat PC termasuk perangkat yang memiliki durabilitas cukup tinggi untuk pemakaian normal sehingga bisa digunakan hingga anak didik menyelesaikan studi.
Di Indonesia, ponsel sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat untuk berkomunikasi jarak jauh. Pada umumnya, hampir bisa dipastikan jika semua mahasiswa baru sekarang ini sudah memperlengkapi diri dengan ponsel. Sekalipun perangkat ponsel termasuk perangkat elektronik yang memiliki durabilitas (daya tahan) tinggi, akan tetapi seringkali ditemukan seorang mahasiswa berganti ponsel hingga lebih dari dua kali untuk satu masa studi. Dengan menggunakan ponsel, ini berarti si pemilik pun harus mengeluarkan anggaran ekstra untuk mendapatkan layanan dari provider. Jika dimisalkan pemakaian minimum per bulan sekitar Rp 50 ribu, maka untuk satu semester dibutuhkan sekitar Rp 300 ribu. Pada kenyataannya, seringkali ditemukan pemakaian untuk satu semester mencapai di atas Rp 500 ribu.
Di beberapa daerah di Indonesia, kebutuhan akan kendaraan bermotor terutama kendaraan bermotor roda dua. Manfaat dengan memiliki kendaraan bermotor selain memudahkan mobilisasi individu, juga akan sedikit lebih menghemat pengeluaran untuk transportasi. Dengan memiliki kendaraan bermotor, si pemilik pun harus mengeluarkan dana ekstra untuk keperluan perawatan dan penggantian suku cadang. Besarnya relatif untuk masing-masing jenis maupun merek kendaraan bermotor. Sekalipun kendaraan bermotor juga termasuk barang yang relatif tahan lama, akan tetapi sering ditemukan beberapa mahasiswa berganti merek kendaraan bermotor lebih dari 1 kali untuk satu masa studi. Harga rata-rata kendaraan bermotor berkisar antara Rp 13 juta hingga Rp 19 juta.
Perangkat kebutuhan lain yang masuk ke dalam kategori kebutuhan akan sarana hiburan relatif beragam. Pada umumnya, mahasiswa akan lebih memilih perangkat audio, televisi, dan console box (PlayStation). Rata-rata harga per unit dari perangkat hiburan bervariasi bisa di atas Rp 500 ribu atau bahkan lebih dari Rp 1 juta. Mahasiswa cenderung jarang untuk berganti merek/produk untuk perangkat hiburan. Namun, pola berganti merek sangat ditentukan pula oleh kemampuan ekonomi dari pihak yang membiayai anak didik.

Ringkasan
Jika hendak menganalisis biaya pendidikan, maka harus dilakukan analisis terhadap keseluruhan komponen-komponen yang membentuk biaya pendidikan. Jika diasumsikan sumbangan uang masuk atau uang pangkal diabaikan (sementara), maka komponen BOP justru adalah komponen yang memiliki proporsi yang masih lebih rendah dibandingkan dengan komponen-komponen pembentuk biaya pendidikan lainnya, kecuali untuk komponen pendukung studi. Mereka yang menanggung beban secara ekonomi paling berat adalah mereka (anak didik) yang mengambil kuliah di luar kota sehingga membutuhkan pengeluaran untuk tempat tinggal, makan, dan pemenuhan kebutuhan hidup pokok lainnya. Untuk rata-rata total biaya tempat tinggal dan makan selama satu semester diperkirakan mencapai antara Rp 3 juta hingga Rp 5 juta (biaya minimal). Biaya untuk SPP (tetap dan variabel) untuk satu semester masih di bawah rata-rata minimal biaya hidup (minimal living cost). Tidak seperti pada pengeluaran untuk BOP yang bisa dimungkinkan untuk dikurangi (jika ada kebijakan dari pemerintah untuk mensubsidi), maka pengeluaran untuk biaya hidup akan selalu meningkat.

Sebagian besar mahasiswa cenderung untuk menekan biaya pendidikan dengan mengurangi atau menekan pembelian buku-buku wajib panduan mata kuliah. Sekalipun optimalisasi sumber referensi dapat ditutupi dengan memanfaatkan fasilitas perpustakaan, akan tetapi pada kenyataannya tidak sedikit capaian hasil studi yang masih belum optimal. Untuk satu semester, penghematan biaya pendidikan dengan menekan biaya pedukung dari pembelian buku panduan mata kuliah memberikan pengaruh yang cukup nyata. Rata-rata penghematan untuk satu semester bisa mencapai antara Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu, bahkan bisa lebih. Soal penghematan mungkin bisa jadi relatif karena tujuan dari penghematan itu sendiri harus disesuaikan dengan pencapaian prestasi terutama prestasi secara akademik.

Sekalipun hanya digolongkan sebagai komponen biaya pendukung yang sifatnya tambahan (optional), akan tetapi pada kenyataannya sering ditemukan biaya-biaya ini justru memiliki proporsi mendekati proporsi BOP terhadap total biaya pendidikan per semester. Besarnya proporsi biaya pendukung tambahan juga sangat ditentukan oleh selera dan gaya hidup. Jika digunakan fakta tentang gaya hidup konsumerisme di sebagian besar kalangan masyarakat, maka total pengeluaran untuk biaya pendidikan tambahan bisa mencapai di atas Rp 1 juta per semester. Jika melihat hasil survei pengeluaran mahasiswa yang dilakukan oleh UPN Yogyakarta pada tahun 2008, maka rata-rata besarnya pengeluaran mahasiswa untuk kelompok pengeluaran tambahan mencapai di atas Rp 300 ribu per bulan. Ini berarti total untuk satu semester bisa mencapai sekitar Rp 1,8 juta.