21 Februari 2012

RIM BANGUN SERVER DI INDIA!!

Detiknet merilis berita, “RIM Bangun Server BlackBerry di India” (Selasa, 21 Februari 2012, 12.36). Seolah seperti lebih dari tamparan bagi Indonesia yang diklaim memiliki jumlah pengguna BlackBerry terbesar di Asia Tenggara. Pembangunan server tersebut dimaksudkan untuk mendukung penegakan lawful interception atau kebijakan penyadapan bagi pemerintah India. Isu mengenai kebijakan keamanan data centre inilah yang membuat gerah pemerintah di banyak negara. India tentu akan sangat berbangga, karena negaranya yang pertama kali mendapatkan kesempatan dibangunnya server BlackBerry (BB) di luar Kanada.



Kasus di India
Kasus di India tergolong cukup menarik. India memang sering terlibat negosiasi hingga pemberian ancaman sanksi dengan perusahaan asal Kanada (RIM). Kasus di India berawal dari masalah keamanan data centre yang dikelola oleh pihak RIM. Pihak otoritas setempat tidak bisa dan tidak pula diperkenankan untuk mengakses jalur komunikasi data yang dikelola oleh RIM. Pemerintah India beranggapan apabila sikap dan kebijakan RIM merupakan ancaman bagi keamanan nasional di India. Hal ini didasarkan pada peristiwa terorisme di Mumbai pada tahun 2008 lalu yang tidak dapat diantisipasi karena para teroris memanfaatkan lalu lintas data dari pelayanan BlackBerry.

Pada tahun 2010, pemerintah India mengeluarkan ancaman untuk mematikan layanan BlackBerry. Adapun beberapa layanan yang diancam akan dimatikan terdiri atas BlackBerry Messenger (BBM), e-mail, dan web browser. Ancaman tersebut merupakan puncak dari sekian lama proposal permintaan akses data tidak pernah ditanggapi oleh pihak RIM. Atas ancaman tersebut, pihak RIM pun bereaksi dengan memberikan opsi atas akses keamanan data di Kanada. Sekalipun demikian, RIM akhirnya harus menyerah dengan bersedia membangun pusat data (server) di India pada tahun lalu. Saat ini, server RIM tersebut sedang dalam tahap penyetelan (setting up) dan akan segera aktif di tahun 2012 ini.

Jika saja ancaman pemerintah India tidak ditanggapi, maka terhitung bulan Agustus 2010 akan dimatikan layanan BlackBerry. Itu sama saja akan membuat BlackBerry hanya menjadi ponsel bukan lagi sebagai smartphone. Tanpa layanan utama, BlackBerry hanya bisa diefektifkan untuk SMS dan telepon, tidak berbeda dengan ponsel ‘murah meriah’ yang banyak beredar di pasaran. Tidak hanya itu saja, pemerintah India mengancam pula akan melarang peredaran BlackBerry di negara tersebut.

Keseriusan pemerintah India sebenarnya sudah dimulai pada akhir tahun 2008 lalu. Mereka mengeluarkan kebijakan yang melarang para pejabat publik, pegawai pemerintahan, termasuk kepolisian dan militer untuk menggunakan ponsel keluaran RIM dan Apple. Tidak hanya itu, mereka bahkan mengharuskan aparaturnya menggunakan ponsel yang dibuat oleh industri dalam negeri. Sikap dan kebijakan tersebut dilandasi oleh kecurigaan disematkannya teknologi spionase ke dalam setiap gadget ataupun ponsel, termasuk ponsel buatan China.

Kasus di Beberapa Negara
Tidak hanya India yang merasa gerah dengan kebijakan keamanan data yang dikelola oleh pihak RIM. Tercatat negara-negara Arab seperti Uni Arab Emirates (UAE), Arab Saudi, dan beberapa negara Arab lainnya mengajukan tuntutan serupa yang diklaim oleh pemerintah India. Di Eropa, tindakan dan sikap pemerintah India tersebut diterapkan pula oleh pihak otoritas Jerman yang membatasi penggunaan BlackBerry di kalangan pegawai dan pejabat pemerintahan. Di Asia Tenggara, tindakan represif terhadap RIM dilakukan oleh otoritas Singapura, Malaysia, dan Thailand. Sikap mereka dilandasi pada alasan yang sama, yaitu keluhan atas otoritasasi keamanan data yang dikelola oleh pihak RIM.

Kasus di Inggris sedikit berbeda perlakuannya. Otoritas Inggris sebenarnya memiliki keluhan yang sama dengan negara-negara lain perihal akses atas keamanan data yang dikelola RIM di Kanada. Seperti halnya pemerintah India, pihak otoritas Inggris sempat memberlakukan ancaman untuk memblokir seluruh produk RIM yang masuk ke Inggris, bahkan ke seluruh negara-negara persemakmuran. Sikap otoritas Inggris akhirnya mulai melunak setelah pihak RIM menawarkan untuk membangun Research & Development (R&D) di Eropa yang berpusat di Inggris. Adapun fungsi dari pusat R&D tersebut untuk keperluan pengembangan teknologi keamanan data, termasuk pengembangan data yang dikelola langsung oleh masyarakat Inggris.

Bagaimana dengan kasus di Indonesia?

Membaca kronologi kasus, nampaknya bisa dikatakan pemerintah Indonesia tidak pernah sedikit pun mengeluh dengan pihak RIM. Beberapa kali ancaman memang sempat dilontarkan, akan tetapi tidak mengena pada substansi teknologinya. Misalnya, pihak pemerintah melalui Kemenminfo pernah mengajukan permintaan agar produk BlackBerry disertakan buku panduan (manual book) dalam bahasa Indonesia pada tahun 2010. Tidak berselang lama, pemerintah Indonesia mengajukan semacam ancaman agar RIM menyematkan fitur penyaring konten pornografi pada awal tahun 2011. Di tahun 2010 pula, Kemenminfo pernah pula memaksa agar RIM membangun kantor perwakilan di Indonesia. Sekitar akhir tahun 2011 lalu, pemerintah sempat mengeluarkan ancaman akan memblokir layanan BlackBerry seperti yang dilakukan oleh pemerintah India. Anehnya, ancaman tersebut justru mendapatkan pertentangan dari kalangan DPR dan masyarakat pengguna BB.

Mengapa RIM Menyerah di India?
Tentunya merupakan suatu kebanggaan bagi masyarakat India karena negaranya tercatat akan memiliki satu-satunya server RIM di luar Kanada. India adalah negara pertama di mana RIM mendirikan servernya di luar Kanada. Tentunya ini semua tidak terlepas dari sikap teguh pemerintah India terhadap barang-barang impor. Kebijakan di negara mereka memang selalu konsisten untuk berpihak pada kepentingan rakyat banyak, terutama untuk kepentingan keamanan nasional. Komitmen negara tersebut cukup kuat untuk menyikapi perusahaan-perusahaan multinasional. Pembatasan penggunaan BlackBerry misalnya disepakati bulat dan didukung penuh oleh seluruh elemen di pemerintahan dan parlemen. Tentunya ada pertimbangan lain yang kemudian menyebabkan RIM harus melepaskan sikap kerasnya terhadap konsumen-konsumen di suatu negara.

Perlu diketahui, apabila di tahun 2010 lalu tercatat jumlah penduduk di India mencapai angka lebih dari 1,1 milyar jiwa. Pada tahun 2010 pula, total jumlah pengguna aktif BlackBerry di negara tersebut telah tercatat mencapai lebih dari 1,1 juta pengguna dengan kategori pertumbuhan pengguna yang tergolong “Cepat”. Tentunya faktor jumlah penduduk dan besarnya potensi pelanggan yang membuat pihak RIM tidak mau melepaskan peluang pasarnya di negeri Bollywood tersebut.

Sikap melunak dari pihak RIM itu sendiri sesungguhnya tidak terlepas pula dari kesulitan yang tengah mendera internal perusahaan. Sepanjang tahun 2011 lalu, saham RIM terus menunjukkan trend ‘negatif’ atau terus mengalami kemerosotan. Sekalipun masih eksis di beberapa negara, akan tetapi jumlah pengguna aktifnya relatif mengalami penurunan di sepanjang tahun 2011. Kesulitan internal itu pula yang kemudian mendorong RIM harus merubah budaya perusahaan yang otoriter terhadap kebijakan akses data.

Kasus di Singapura
Pada tahun 2011 lalu, pihak RIM memutuskan untuk membangun server di Singapura yang bakal mengaktifkan fungsi menjadi network aggregator. Sekalipun bukan berfungsi sebagai penyaring data, akan tetapi keberadaan server tersebut akan membantu memperlancar koneksi atas akses data pada pelayanan BlackBerry. Bisa dikatakan semacam router yang akan langsung mengirimkan (ping) lalu lintas data menuju server utama di Kanada. Jadi mengenai server di Singapura berbeda fungsinya dengan server yang dibangun RIM di India.

Ditinjau dari aspek strategis, tentunya akan menjadi pertanyaan besar jika pertimbangan RIM justru lebih memilih untuk membangun server (router) di Singapura ketimbang di Indonesia. Faktanya, bahwa Indonesia merupakan konsumen dan pelanggan terbesar RIM dengan jumlah pelanggan mencapai hampir 4 juta pengguna di tahun 2011. India saja hanya mencapai 1,1 juta pengguna BlackBerry di tahun 2010 dan besar kemungkinan hanya naik menjadi 1,3 juta pengguna di 2011. Tentunya pertanyaan semacam ini akan lebih tepat jika ditujukan kepada pihak pemerintah Indonesia sendiri.

Menjadi Bangsa Yang Memiliki Harga Diri
Saya tidak tahu persis, untuk kesekian berapa bangsa dan negara ini dipecundangi oleh produsen smartphone asal Kanada, Research in Motion (RIM). Kasus di India, Malaysia, dan Singapura hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi bangsa dan negara Indonesia. Sungguh ironis, BlackBerry justru menjadi semacam gadget resmi bagi pejabat publik, bahkan di kalangan PNS sendiri. Tidak terhitung betapa KPK dan Polri akan semakin sulit melacak rencana kejahatan yang dibenturkan dengan regulasi korporasi atas akses keamanan pusat data. Bukan semata RIM, tetapi merek seperti Nokia dan Samsung bahkan membangun pabrik perakitannya di Vietnam.

Jika bertanya dengan sikap, maka pertanyaannya seberapakah pemerintah mau menunjukkan harga dirinya, termasuk harga diri bangsa Indonesia. Terlepas dari apapun masalah ataupun dilema, bahwa pemerintah harus berani menunjukkan sikap yang jelas dan tegas. Tidak ada lagi ancaman pemblokiran layanan BlackBerry, melainkan pemerintah dan segenap elemen pendukungnya harus memboikot seluruh produk maupun layanan RIM. Pernyataan Oliver Pilgerstofer (head of PR East Asia RIM) yang menyebutkan, “Sebenarnya, mengapa harus ada server BlackBerry di sini (Indonesia)? Bisakah kalian jelaskan, apa yang sebenarnya diharapkan? Keuntungan apa yang bisa didapat?”, sebaiknya mendapatkan sikap dari Indonesia sendiri. Jangan lupa, Indonesia termasuk pelanggan RIM terbesar di Asia Tenggara. Jika tidak, maka bangsa Indonesia akan senantiasa dipandang rendah oleh bangsa-bangsa lainnya. Tidak ada pilihan lain, karena tanpa BlackBerry dan RIM, bangsa ini masih bisa meneruskan pembangunannya.

Berbagai kasus tadi seharusnya pula dapat dijadikan sebagai titik balik atau momentum untuk mewujudkan kemandirian nasional. Bangsa Indonesia harus belajar untuk dapat menghargai suatu kualitas. Di tahun ini, jika tidak ada aral melintang, PT INTI akan memproduksi pertama kalinya smartphone yang akan dikemas dengan prosesor dari Marvell dan sistem operasi berbasis Android. Ini adalah kabar yang cukup baik, karena akan menjadi jalan pembuka atas perintisan kemandirian nasional. Sejujurnya, saya sendiri agaknya cukup skeptis melihat sikap masyarakat akhir-akhir ini, terutama sikap dari pemerintah. Saya berharap, ada angin segar yang tidak semata menghembuskan kepalsuan nasionalisme dan kepalsuan kecintaan akan negerinya sendiri.

Referensi Berita
BlackBerry Security Issue Has Been Rejected Many Countries
India threatens to shut down BlackBerry service
Detiknet: RIM Bangun Server BlackBerry di India
Pertumbuhan Pelanggan BlackBerry di Indonesia Pada Tahun 2011
Detiknet: RIM: Buat Apa Bangun Server BlackBerry di Indonesia?
Detiknet: Server BlackBerry di India untuk Hadang Teroris

0 comments:

Poskan Komentar