12 September 2012

ELANG BOTAK vs ELANG JAWA: DUA SIMBOL BEDA NASIB

Kedua satwa aves tersebut menjadi simbol di masing-masing negaranya. Elang botak atau dikenal Bald Eagle menjadi simbol negara Amerika Serikat. Elang Jawa dijadikan sebagai simbol negara Indonesia. Keduanya merupakan jenis satwa endemik, serta dilindungi oleh undang-undang di negaranya. Mereka memiliki kesamaan sebagai burung pemangsa (bird of prey), sekaligus burung petarung (fighting eagle), bahkan cukup berani untuk menyerang jenis elang lainnya. Di antaranya banyak kesamaan, mereka berdua hanya berbeda nasib.

Ukuran Fisik
Elang Jawa memiliki ukuran fisik yang lebih kecil dibandingkan Elang Botak. Panjang tubuh Elang Jawa dari ujung paruh sampai ekor diketahui antara 60-70 cm. Elang Botak memiliki ukuran panjang dari 70-102 cm. Bentang sayap Elang botak bisa mencapai 2,3 meter, sedangkan Elang Jawa sekitar 1,8 meter. Berat tubuh Elang Jawa mencapai 3 kg (rata-rata ditemukan sekitar 2,5 kg), sedangkan Elang botak bisa mencapai 6,3 kg. Dari ukuran fisik, Elang botak nampak lebih unggul dibandingkan Elang Jawa. Tetapi pertarungan aves bukanlah seperti pertarungan primata ataupun pertarungan di dalam air.

Perilaku Pemangsa
Elang botak memiliki kemampuan terbang yang cukup menakjubkan. Kecepatan tertinggi ketika melakukan tukikan ke arah mangsanya bisa mencapai 120-160 km/jam. Kecepatan jelajahnya sendiri rata-rata mencapai 56-70 km/jam. Bentangan sayapnya yang luas membuatnya lebih mudah mengambang (terbang seperti helikopter) di udara untuk mengamati mangsanya dari udara. Elang botak diketahui memangsa buruannya di air dan di darat. Hewan buruan di air terdapat ikan Trout dan Salmon. Untuk hewan buruan di darat berupa kelinci, terwelu, kucing hutan, tikus air, berang-berang, dan anak rusa (Wikipedia, 2012).

Tidak banyak catatan mengenai kemampuan berburu Elang Jawa. Satwa pemangsa ini pandai menyembunyikan diri di antara dahan pepohonan, sehingga butuh waktu dan kesabaran tinggi untuk mengamati perilakunya. Elang Jawa tidak hanya piawai memangsa dari udara, melainkan piawai pula memangsa di antara pepohonan di dalam hutan. Itu sebabnya, hutan merupakan rumah dan sekaligus tempat berburunya. Tubuhnya yang relatif lebih ramping memungkinkan Elang Jawa dengan lincah melewati celah-celah di antara dahan/ranting, termasuk ketika menangkap mangsanya yang sedang menyelamatkan diri. Mirip dengan saudara dekatnya, yaitu Elang brontok (Spizaelus cirrhatus), Elang Jawa tidak takut jika harus berhadapan dengan manusia ketika berburu. Elang Jawa memangsa seluruh mamalia kecil dan binatang pengerat di dalam hutan. Terkadang memangsa pula tupai, bajing, kelelawar buah, bunglon, luwak, anak monyet, burung, dan reptil.

Dilihat dari perilaku memangsa, teritori Elang Jawa hanya berada di kawasan daratan, terutama di wilayah hutan. Elang botak memiliki teritori yang luas, tetapi lebih menyukai untuk tidak membuat sarang yang jauh dari wilayah perairan, terutama sungai. Lain ceritanya dengan Elang Jawa yang lebih sering membuat sarangnya di hutan, tetapi lebih sering dijumpai di hutan yang tidak jauh dari pemukiman manusia. Keduanya diketahui pula membuat sarang yang sulit untuk dijangkau, bahkan sulit pula untuk ditemukan. Elang Jawa maupun Elang botak, keduanya memiliki perilaku penguasaan atas teritori atau perilaku pemangsa teritorial. Keduanya akan menandai wilayah teritorialnya. Mereka akan bertarung dengan lawannya, termasuk jenis elang lain yang masuk dan mencoba untuk mengintervensi teritorinya.



Keunikan
Keunikan Elang botak adalah warna bulu di bagian kepala hingga leher dan ekornya yang berwarna putih. Cukup kontras dengan warna tubuhnya coklat agak kegelapan atau cenderung hitam. Lengkingan suaranya pula dianggap unik, karena mampu terdengar hingga kejauhan. Di sinilah Elang botak akan lebih mudah untuk diketahui dan dicari keberadaannya.

Keunikan dari Elang Jawa adalah pada jambul di kepala dan warna bulunya. Hanya ada satu jenis elang yang memiliki jambul serupa, yaitu Elang brontok. Bedanya, Elang Jawa memiliki jambul yang mengarah ke bagian atas dengan ukuran hingga 4 cm. Elang Jawa sebenarnya memiliki warna bulu yang agak kekuningan menyerupai keemasan jika terkena sinar matahari. Tetapi di dalam cahaya yang redup, seperti di dalam hutan atau di antara pepohonan, warna tubuhnya bisa menjadi berwarna gelap. Ini adalah bentuk kamuflase yang sempurna, sehingga akan sulit diketahui keberadaannya. Elang Jawa mengeluarkan suara lengkingan pula seperti Elang botak, tetapi tidak diketahui frekuensi atau kekuatan bunyinya. Hampir dipastikan masih kalah lengkingannya dibandingkan Elang botak. Sekalipun demikian, Elang Jawa mengeluarkan suara yang bervariasi (mirip dengan Elang brontok). Diduga suara lengkingan yang bervariasi tersebut merupakan isyarat atau bahasa komunikasi untuk menandai teritorinya.

Nasib Konservasi dan Pelestarian
Besarnya perhatian dan perlindungan satwa di Amerika, terutama karena Elang botak telah menjadi simbol negara menyebabkan keberadaan Elang botak dinyatakan cukup aman status konservasinya. IUCN menyatakan data temuan Elang botak masih dianggap relevan dan dinyatakan berada pada status “Least Concern” (LC) di alam liar. Amerika memiliki taman-taman nasional yang hingga saat ini tetap dijaga kelestariannya, termasuk seluruh ekosistem di dalamnya. Sumber-sumber makanan bagi Elang botak diperhatikan pula, seperti ketersediaan ikan Trout maupun Salmon. Di alam liar, Elang botak akan lebih mudah dijumpai di taman-taman nasional di negara tersebut.

Nasib Elang Jawa agaknya sangat bertolak belakang dengan seterunya dari seberang samudera yang sama-sama pula menjadi simbol negara. Tahun 2010 lalu, dikabarkan populasinya kurang dari 100 pasang atau merosot dari sebanyak 1000 ekor pada tahun 2000. Habitat alaminya sudah banyak yang hilang dan berubah fungsi, sehingga akan mengancam sumber-sumber makanannya di dalam hutan. Belum lagi ancaman perburuan, karena Elang botak termasuk ke dalam satwa eksotik dan paling dicari di pasar perdagangan satwa liar ilegal. Sekalipun demikian, Elang Jawa telah dimasukkan ke dalam satwa yang dilarang diperdagangkan dan masuk ke dalam CITES Appendex II. IUCN pun pada tahun 2007 lalu menetapkan status konservasi untuk Elang Jawa menjadi “Endangered” (EN) atau terancam punah. Padahal sudah sejak lama pemerintah Indonesia telah memasukkan Elang Jawa ke dalam satwa unik yang dilindungi oleh undang-undang. Kabar terakhir menyebutkan, Elang Jawa diperkirakan akan punah di alam liar dalam waktu 2-3 tahun ke depan.

Elang Jawa maupun Elang botak, keduanya merupakan jenis satwa endemik. Elang botak cukup beruntung memiliki kawasan daratan yang cukup luas dengan bentangan yang hampir sama dengan bentangan kepulauan NKRI. Sedangkan Elang Jawa harus menyesuaikan dengan habitatnya di Pulau Jawa yang luasnya hanya sebesar 138.793,6 km persegi. Elang Jawa sendiri lebih menyukai menempati kawasan hutan primer yang luasnya saat ini semakin menyusut di Pulau Jawa. Tidak hanya menyusut, beberapa hutan primer ini pun sudah mulai terganggu keseimbangan ekosistemnya, akibat perluasan dan perubahan fungsi lahan. Belum lagi ditambah dengan ancaman perburuan, karena Elang Jawa termasuk salah satu satwa eksotik yang cukup banyak dicari di pasar perdagangan hewan ilegal di Asia Tenggara. Populasi Elang Jawa diperkirakan tidak mencapai 100 pasang di tahun 2012. Jika tidak ada tindakan atau upaya serius untuk menjaga kelestariannya, Elang Jawa diperkirakan akan punah di alam liar sekitar 4-5 tahun lagi (MetroNews, Sosbud, Rabu, 4 April 2012, 03:20 WIB). Masyarakat hanya bisa menyaksikan simbol negara Republik Indoensia di kebun binatang yang berhasil menangkarkan dan mengembangbiakkan.

Hampir setiap upaya penyelamatan Elang botak selalu menjadi berita utama di negeri itu. Satu ketika, keresahan nasional muncul pada dekade 1960an dan 1970an di mana Elang botak sudah mulai jarang terlihat di 48 negara bagian. Keresahan nasional ini pun kemudian segera ditindaklanjuti melalui sejumlah penelitian dan aksi penyelamatan yang dimotori oleh pemerintah mereka. Peristiwa tersebut diabadikan ke dalam film dokumenter berjudul “Saving The Bald Eagle” (FutureChannel, 2012). Pada dekade 1960an, Elang botak sempat dinyatakan status konservasinya terancam punah (Endangered - EN). Sumber penyebab kepunahan itu pun segera ditelusuri, kemudian dikeluarkan sejumlah aturan-aturan ketat. Kampanye penyelamatan Elang botak di negeri mereka diberikan tajuk, “Saving Our Symbol”. Tahun 2012 ini dilaporkan populasi Elang botak dari hasil temuan dan pelacakan diperkirakan mencapai 9.789 pasang yang bisa ditemui di alam bebas, terutama di taman-taman nasional (Smithsonian National Zoological Park, 2012). Kampanye pelestarian Elang Botak ini pun sudah masuk ke taraf politisi yang kemudian menjadi bagian dari kampanye moral.

Poster Kampanye Politik
Sumber: PlaymakerOnline (2012)

Perhatian terhadap kelestarian Elang Jawa di negeri ini nampaknya masih sangat rendah. Entah, apakah peringatan dari para ahli tentang ancaman kepunahan tersebut akan dianggap sebagai ancaman moral ataukah hanya dianggap sebagai bentuk konsekuensi pertumbuhan ekonomi (Elang Jawa Punah, 2012). Pada akhirnya, Elang Jawa yang merupakan satwa unik dan endemik harus terbang sendirian menuju pintu akhir hayatnya di bumi Indonesia.

Kampanye Selamatkan Elang Jawa

Disadur ulang dari blog Kompasiana

1 comments:

mags broy mengatakan...

yaahampun. jauh bener kepekaan penanganannya. negara ini memang serba salah untuk bergerak. jika masalah elang jawa yang sebagai simbol negara ini di fokuskan yang cenderung VIP, pasti akan tetap menuai kontrofersi masa. bahwasanya masih banyak rakyat yang terlantarkan dan lebih membutuhkan bantuan dibandingkan seekor burung. namun, kelalaian dalam menjaga pelestarian simbol negara juga menunjukan betapa cerobohnya kita saat ini. banyak yang harus dibenahi di negeri ini :')

Poskan Komentar