17 April 2013

KABAR TERKINI DARI KWPLH BALIKPAPAN

Setelah hampir 3 bulan lamanya melakukan kampanye penyelamatan pusat koservasi beruang madu, akhirnya membuahkan hasil yang menggembarikan. Kampanye bertajuk “SAVE KWPLH” berhasil mendorong kalangan DPRD Kota Balikpapan untuk tetap mempertahankan eksistensi Kawasan Wisata Pendidikan dan Lingkungan Hidup (KWPLH) yang sekaligus menjadi satu-satunya wahana pusat konservasi beruang madu di Indonesia. Berikut adalah kutipan dari pernyataan yang disampaikan oleh pihak KWPLH Balikpapan.

Senin malam, penulis menyempatkan untuk mengunjungi “Likes Page” KWPLH Balikpapan untuk menanyakan kabar terkini dari kampanye penyelamatan satwa beruang madu. Alhamdulillah, keesokan paginya, pihak admin pengelola KWPLH langsung merespon dengan menyampaikan pernyataan dari pihak Pimpinan Pengelola KWPLH Balikpapan. Berikut adalah pernyataannya.

Yth para pembaca yang budiman,

Suhubungan dengan ajakan kami sebelumnya untuk berpartisipasi dalam membuat petisi mendukung KWPLH agar tetap dipertahankan fungsinya sebagai kawasan pendidikan lingkungan hidup dengan mengelola 6 beruang madu di enklosur seluas 1,3 ha, dengan ini kami UMUMKAN bahwa secara politis pihak DPRD Kota Balikpapan telah MENYETUJUI untuk tetap mempertahankan fungsi KWPLH sebagaimana yang kita harapkan bersama. Komitmen DPRD ini juga dibarengi dengan persetujuan anggaran operasional KWPLH dan saat ini sedang di proses oleh Pemerintah Kota untuk bisa segera digunakan oleh KWPLH periode April 2013 hingga akhir tahun anggaran ini. Sebagai jalan tengah, KWPLH nanti akan disandingkan dengan kawasan bumi perkemahan dengan konsep pengelolaan yang terintegrasi.

Mewakili managemen KWPLH dan semua staff, kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas kontribusi semua pihak dalam memberikan dukungan berupa petisi, komentar dan saran sehingga proses perjuangan mempertahankan fungsi KWPLH ini kami anggap SUKSES.

Semoga dalam perjalannya kedepan, KWPLH akan tetap eksis dan mampu berkontribusi lebih baik lagi dalam mengemban misi pendidikan lingkungan hidup di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur – Indonesia.

Hormat kami,

Hamsuri
Direktur KWPLH


Perjuangan Yang Panjang dan Berliku
Berawal dari penelitian alam yang dilakukan oleh aktivis Animal Asia Foundation (AAF) asal Swedia, Gabriella “Gabby” Fredriksson yang menemukan anak beruang madu di kawasan hutan lindung Sungai Wain. Gabby menyimpulkan, lokasi hutan lindung tersebut dianggap sebagai rumah terakhir dan tempat bertahan hidup yang paling sering dijumpai satwa beruang madu (Helarctos malayanus). Ketertarikan Gabby terhadap beruang madu di Sungai Wain, karena satwa tersebut diduga merupakan sub spesies, karena ukurannya yang lebih kecil dibandingkan jenis beruang madu lain yang dijumpai di negara-negara Asia Tenggara. Hasil penelitian Gabby tadi kemudian diseminarkan di Kota Balikpapan, di tahun 2000 yang kemudian mendorong keinginan pihak Pemkot Balikpapan untuk menjadikannya sebagai maskot daerah. Pada tahun 2000, dari hasil temuan yang diperoleh Gabby memberikan indikasi masih ada sekitar 50-100 ekor beruang madu di hutan lindung Sungai Wain. Rekomendasinya, tentunya memberikan perlindungan melalui program terpadu yang terintegrasi dengan program ekowisata.

Pada tahun 2001, beruang madu mulai diperkenalkan sebagai maskot Kota Balikpapan. Seiring dengan semangat untuk menjadikannya simbol kemandirian lokal dalam rangka mensukseskan pelaksanaan otonomi daerah. Sekalipun demikian, baru pada tahun 2005 dikeluarkan dasar hukumnya ke dalam bentuk Peraturan Walikota (Perwali) No 4 Tahun 2005 tentang Beruang Madu Sebagai Maskot Kota Balikpapan.

Melalui Surat Keputusan Walikota Balikpapan No 188.45-72/2005, didirikanlah pusat konservasi beruang madu yang diberi nama “Kawasan Wisata Pendidikan dan Lingkungan Hidup” atau KWPLH Balikpapan. Lokasinya mengambil tempat di kawasan hutan lindung Sungai Wain (km 23) atau tepatnya di sebelah utara Kota Balikpapan. Dengan luas yang hanya 1,3 hektar, tentunya KWPLH Balikpapan hanya bisa menampung tidak lebih dari 10 ekor beruang madu. Satwa-satwa tersebut diperoleh dari hasil temuan warga ataupun hasil sitaan dari pihak BKSDA. Beberapa di antaranya berada dalam kondisi cacat (difable) seperti kehilangan kuku atau tungkai, serta ada pula yang tidak lagi memiliki gigi. Pihak Pemkot Balikpapan mengalokasikan anggaran sebesar Rp 1,6 miliar setiap tahunnya.

Setelah berjalan hingga tahun 2010, KWPLH Balikpapan mengoleksi sebanyak 6 ekor beruang madu. Sebanyak 5 ekor di antaranya telah dipromosikan untuk menjadi duta KWPLH dan sekaligus menjadi duta beruang madu Indonesia. Salah satu di antaranya yang bernama Anna telah dinobatkan menjadi maskot duta familia ursidae mewakili beruang madu, karena Anna yang pertama kali jenis yang menjadi warga pusat konservasi di Asia Tenggara. Sebagai catatan, KWPLH yang didirikan pada tahun 2005 tersebut adalah pusat konservasi beruang madu pertama di Asia Tenggara dan dunia. Beruang madu hanya bisa ditemukan di wilayah Asia Tenggara, serta merupakan jenis familia ursidae yang paling kecil. Keunikan dari beruang madu seringkali membuatnya lebih mirip dengan Koala.

Pada bulan Agustus 2012, di kalangan DPRD Kota Balikpapan muncul pandangan yang berkeinginan untuk mengganti maskot beruang madu yang selama ini menjadi maskot Kota Balikpapan (Tempo, 30 Agustus 2012, 04.44). Ketua DPRD Kota Balikpapan, Andi Burhanuddin Solong berujar apabila beruang madu identik dengan binatang malas. Pandangan umum dari kalangan DPRD Kota Balikpapan tersebut ditujukan ke pihak Pemkot Balikpapan untuk segera mengambil tindakan lebih lanjut. Ini adalah sinyalemen pertama tentang nasib dan masa depan KWPLH Balikpapan yang rumornya akan segera dievaluasi.

Rumor pun terus berkembang seiring dengan semakin meluasnya wacana untuk mengganti maskot Kota Balikpapan. Memasuki akhir bulan November 2012, muncul kabar pihak Pemkot Balikpapan akan berencana menghentikan dukungannya terhadap KWPLH Balikpapan. Isu tersebut sempat menjadi perdebatan, mengingat belum ada kejelasan sikap sama sekali dari pihak Pemkot terkait nasib KWPLH di masa depan.

Pada tanggal 3 Januari 2013, pihak Pemkot Balikpapan mengeluarkan surat resmi yang dilayangkan ke KWPLH Balikpapan yang isinya keputusan untuk mencabut dukungan pendanaan operasional (Antara Kaltim, 4 Januari 2013, 15.30). Berdasarkan surat keputusan tersebut, anggaran operasional yang semula diberikan sebesar Rp 1,6 miliar per tahun diturunkan menjadi Rp 500 juta untuk hanya tahun 2013. Itu berarti, KWPLH Balikpapan hanya bisa bertahan selama 3 bulan terhitung sejak dikeluarkannya surat keputusan tersebut.

Sikap Pemkot Balikpapan tersebut segera direspon oleh pihak pengelola KWPLH Balikpapan. Tidak ada cara lain, mereka pun menggalang dukungan ke masyarakat, mulai dari masyarakat di Kota Balikpapan hingga ke seluruh santaero negeri, bahkan meminta dukungan internasional. Kampanye “SAVE KWPLH” pun resmi dirilis di pertengahan bulan Januari 2013 yang digelar di setiap media sosial, seperti Facebook maupun Twitter.

Akhir Januari 2013, KWPLH Balikpapan kedatangan tamu penting dari AAF. Di antara rombongan AAF tersebut terdapat tokoh seniornya, Gaby Fredriksson yang selama ini menjadi salah satu founder KWPLH Balikpapan. Kedatangan Gaby dan rombongan AAF dalam rangka untuk menjernihkan kekusutan masalah yang tengah dihadapi KWPLH maupun Pemkot Balikpapan. Dalam pertemuannya dengan kalangan DPRD Kota Balikpapan dan Pemkot Balikpapan, pihak AAF sebenarnya sudah memberikan rekomendasi yang dapat menengahi kepentingan pada kedua belah pihak. Sayangnya, rekomendasi dari AAF ketika itu masih belum bisa ditanggapi positif oleh kalangan DPRD Kota Balikpapan.

Setelah hampir sebulan menghimpun dukungan melalui kampanye petisi online, KWPLH Balikpapan telah berhasil menghimpun dukungan petisi sebanyak 4.389 buah terhitung pada tanggal 7 Februari 2013. Angka tersebut masih jauh dari jumlah petisi yang ditargetkan mencapai 10.000 petisi online maupun offline. Sekalipun demikian, di antara dukungan tersebut datang dari sejumlah organisasi-organisasi penting di dunia, termasuk pula perawakilan resmi dari berbagai penjuru dunia. Ini berarti pula, kampanye penyelamatan KWPLH Balikpapan memberikan hasil yang positif.

Dukungan internasional semakin nyata, setelah pada tanggal 10 Februari 2013, sejumlah badan internasional bersedia untuk turut berpartisipasi dalam memberikan dukungan finansial bagi pengelolaan KWPLH Balikpapan. Dukungan finansial tersebut bahkan datang bukan hanya dari badan atau organisasi internasional, melainkan datang pula dari negara. Misalnya seperti Pemerintah Vietnam yang bersedia memberikan pendanaan finansial bagi operasional KWPLH Balikpapan.

Pada tanggal 13 Februari 2013, kini giliran eksekutif, Walikota Balikpapan memberikan komentar. Disebutkan tentang adanya kemungkinan rencana relokasi beruang madu tersebut dibatalkan. Tetapi fakta tersebut belum pula memberikan kepastian tentang rencana sebelumnya untuk menutup KWPLH Balikpapan. Pihak Walikota Balikpapan pun malah belum mendengar adanya kepastian donatur yang akan turut mendanai KWPLH Balikpapan.

Setelah hampir mendekati tengat waktu habisnya dana operasional, akhirnya Direktur KWPLH Balikpapan memberikan pernyataan resmi tentang kejelasan nasib KWPLH. Pernyataan resmi tersebut disampaikan melaluli Fan Page KWPLH di Facebook pada hari Selasa, 16 April 2013. Pihak Pemkot Kota Balikpapan secara resmi mengambil keputusan untuk tetap mempertahankan keberadaan KWPLH Balikpapan, sekaligus tetap memberikan dukungan finansial bagi pengelolaan pusat konservasi beruang madu di Kota Balikpapan.

Tantangan Ke Depan
Masih teramat banyak tantangan yang harus dikelola oleh pihak KWPLH Balikpapan maupun Pemkot Balikpapan. Di satu sisi, KWPLH Balikpapan tentunya berkeinginan agar dapat menjadi wahana pendidikan dan lingkungan hidup bertaraf nasional dan internasional. Di sisi lain, Pemkot Balikpapan pun harus dapat memanfaatkan momentum ini untuk membangkitkan kembali semangat ekowisata yang nantinya akan memberikan kontribusi ekonomi ke perekonomian lokal maupun khususnya bagi pendapatan daerah. KWPLH Balikpapan hendaknya pula tidak menjadi sekedar wahana wisata, melainkan perlu menekankan pada misi sejak awal untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang isu-isu lingkungan hidup di sekitar mereka. Kota Balikpapan dihadapkan pada tantangan untuk mempertahankan jati dirinya sebagai satu-satunya kota di dunia dengan keanekaragaman hayati paling tinggi di dunia. Dalam hal ini, KWPLH tidaklah berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian yang terintegrasi ke dalam upaya untuk bersama (kolektif) dalam menjaga kelestarian lingkungan dan sumber daya alam.

KWPLH Balikpapan bukanlah satu-satunya pusat konservasi satwa jenis ursidae di Asia Tenggara. Beberapa di antaranya yang sering mendapatkan sorotan dunia adalah BSBCC di Sabah, Malaysia, Cambodia Conservation Center, dan Taman Wisata di Tam Dong, Vietnam. Mereka memiliki luas lahan yang jauh lebih besar, serta memiliki koleksi beruang yang lebih banyak dibandingkan KWPLH saat ini. Di kemudian hari, pihak pengelola bersama seluruh elemen pemerintahan dan masyarakat Kota Balikpapan harus realistik untuk menghadapi sebuah persaingan ekowisata di tingkat regional. Singkat kata, Kota Balikpapan maupun KWPLH dihadapkan pada tantangan untuk bisa meningkatkan nilai tambah dan keunggulan komparatifnya di bidang ekowisata. Keberhasilan perjuangan untuk mempertahankan eksistensi KWPLH hendaknya bisa dijadikan sebagai momentum untuk menghadapi tantangan di masa depan, sebelum akhirnya semuanya menjadi terlambat.

0 comments:

Poskan Komentar