31 Desember 2011

JANGAN BAJAK SOFTWARE KARYA ANAK BANGSA

Untuk pertama kalinya saya mencoba antivirus SMADAV mendampingi antivirus andalan di personal komputer. Smadav memiliki 2 versi, yaitu versi gratis dan versi berbayar. Sejujurnya, saya termasuk pengguna yang lebih sering menggunakan software bajakan, kecuali antivirus dan aplikasi bawaan Linux. Saya mendapati cukup banyak situs yang menawarkan aplikasi Smadav Pro dengan kunci register, tanpa harus membayar. Akhirnya, saya putuskan tidak gunakan kunci hack dengan mengandalkan kemampuan versi gratisan. Di jejaring sosial, saya selalu menghimbau, agar siapapun untuk tidak membajak software buatan anak bangsa. Inilah alasan saya.

Ada dua pandangan berbeda perihal membajak software. Di satu sisi, pembajakan akan mematikan kreativitas. Namun, di sini lain, pembajakan justru akan menjadi pendorong si pembuat program untuk lebih kreatif mengantisipasi keamanan lisensi. Untuk saat ini, saya lebih sependapat dengan pandangan pertama. Alasannya cukup sederhana, karena inilah Indonesia.

Perlu kita pahami kondisi diri sendiri terlebih dulu untuk menerangkan sikap saya di atas. Cukup banyak para pengembang software di Indonesia yang memodali sendiri usahanya. Ketika seseorang membuat software, kemudian didistribusikan, maka sesungguhnya bisa telah menjalankan peluang bisnis. Selain menjual keunggulan, para pengembang menjual pula daya tarik dan kepercayaan. Sekalipun didistribusikan secara bebas, bukan berarti si pengembang tidak mengharapkan kontribusi balik. Jika si pengembang kemudian menawarkan distribusi berbayar, itu berarti si pengembang membutuhkan bantuan untuk mengembangkan software yang dibuatnya sendiri.

Kita di sini tidak bisa menyamakan kondisi di Indonesia dengan kondisi riil pengembang di negara-negara pembuat antivirus ternama seperti di Eropa maupun Amerika. Pemerintah di negara-negara mereka memberikan insentif yang lebih dari cukup, mulai dari infrastruktur teknologi hingga aspek hukum (hak cipta). Satu hal yang perlu kita pahami, bahwa kultur masyarakat di Eropa maupun Amerika memberikan lebih banyak kesempatan untuk berkembang dan menjadi profesional. Masyarakat di sana beranggapan, apabila tidak ada segala sesuatu yang gratis. Jika tertarik dan merasakan manfaat, mereka dengan sukarela memberikan donasi.

Situasi yang berkebalikan dihadapi oleh para pengembang software di tanah air. Dukungan sponsor relatif minim, mereka harus menyediakan sesuatu yang dapat memenuhi keinginan pengguna yang relatif tidak terbatas. Bisa jadi di antara mereka seringkali harus mencukupi sendiri kebutuhan operasionalnya (atau nombok). Tentunya akan cukup sulit dalam situasi semacam ini untuk dapat berkembang menjadi profesional. Jika masih mampu bertahan saja sudah cukup bagus.

Sementara itu, untuk menjadi profesional, seorang pengembang harus melakukan totalitas pekerjaannya untuk sesuatu bidang yang dikembangkan (software). Pengembang mampu untuk menghidupi dirinya sendiri sampai pada mencukupi kebutuhan operasional untuk pengembangan software. Mereka memiliki pesaing yang jauh lebih berpengalaman dan profesional. Terlalu naif jika mengandalkan nasionalisme pengguna lokal.

Kita tentunya menginginkan suatu saat nanti anak bangsa mampu mengembangkan software berskala internasional. Kita seharusnya pula jauh di atas negara-negara tetangga, karena dukungan sumberdaya manusia.

Kritik Untuk Pengembang Antivirus Lokal
Kritik ini saya tujukan langsung kepada pengembang antivirus lokal, yaitu Smadav. Antirius lokal ini termasuk paling populer dan paling berkembang dibandingkan antivirus lainnya. Saya sendiri melihat cukup banyak perubahan dan pengembangan yang telah dilakukan oleh tim pengembang Smadav.

Saya cukup terkejut ketika Smadav mengeluarkan versi Profesional yang berarti merilis versi antivirus berbayar. Sekalipun tidak menentukan tarif atau harga yang harus dibayarkan, akan tetapi di sinilah masalahnya, yaitu ukuran profesionalitas. Setelah saya amati, tidak terdapat banyak perbedaan penting antara versi Free dan versi Profesional. Pengguna bisa mendapakan keseluruhan fitur profesional Smadav pada antivirus non lokal untuk versi Free. Seharusnya pihak pengembang Smadav tetap menyertakan fitur update otomatis online. Semua antivirus versi Free yang tercantum pada AV-Comparative telah menyematkan fitur update online, baik otomatis maupun manual.

Dari sini saya melihat ada semacam sikap (attitude) yang cenderung oportunis dari pihak pengembang. Sikap yang terkesan kurang percaya diri akan potensi yang dimilikinya sendiri. Bukan seperti ini caranya jika hendak mengambil hati pengguna antivirus dari kalangan masyarakat Indonesia. Tidak sedikit di antara pengguna yang paham tentang cara memanipulasi sistem keamanan. Saya perhatikan pihak pengembang Smadav malah terkesan tidak fokus, ketika membuat teknik pendeteksian serial key palsu. Seharusnya pihak pengembang fokus pada kualitas pendeteksian virus dan antisipasinya. Saran saya, pihak pengembang Smadav sebaiknya hanya menyediakan versi Free. Seluruh fitur pada versi Pro diaktifkan pada versi Free.

0 comments:

Poskan Komentar