12 Desember 2008

JUJUR Vs AKURAT SURVEI STATISTIK (MENJELANG PEMILU 2009)

Seperti pada Pemilu 2004 lalu, survei politik mulai banyak beraktivitas dan mempublikasikan laporan survei. Topik utama survei tentunya menyoroti popularitas partai politik (parpol) maupun tokoh-tokoh politik. Survei di bidang politik sesungguhnya tidak semata bermanfaat untuk memberikan informasi politik, akan tetapi bermanfaat pula untuk membentuk persepsi dan sekaligus penilaian publik. Manfaat sebagai sumber informasi ini pun masih tergantung dari seberapa besar kemampuan ataupun nalar masyarakat dalam menyerap informasi tersebut. Persoalannya, masyarakat Indonesia tergolong masih awam terhadap data statistik, termasuk cara membacanya. Masyarakat cenderung akan menghindar (menolak) jika disodorkan informasi statistik. Apa yang terjadi? Masyarakat hanya mengambil kesimpulan akhir dari survei statistik yang selanjutnya membentuk suatu pembenaran. Di sini saya akan menjelaskan metode bekerjanya survei statistik, serta apa yang dimaksudkan dengan jujur dan akurat.

Latar Belakang Masyarakat
Kita tidak perlu lagi menutup mata apabila masyarakat Indonesia secara umum termasuk lemah dalam berpikir secara kuantitatif. Kemiskinan dan keterbelakangan budaya menjadi salah satu faktor terhambatnya kemajuan pendidikan yang berbasis pada pemikiran kuantitatif. Hingga sejauh ini, sistem pendidikan nasional belum dapat dikatakan telah menemukan formula yang tepat untuk kurikulum dasar seperti matematika. Memang benar kita sudah memiliki generasi muda berprestasi yang meraih berbagai penghargaan matematika internasional. Di sini kita tidak berbicara tentang satu atau beberapa orang, akan tetapi masyarakat Indonesia.

Ketika pada tahun 2004 lalu, salah satu dari lembaga survei mengatakan jika SBY adalah tokoh capres paling populer, maka masyarakat hanya menangkap jika SBY lah yang bakal menjadi presiden. Masyarakat tidak mengetahui bagaimana mungkin sosok yang hanya didukung partai politik baru dapat meraih suara yang mengalahkan kekuatan tokoh politik seperti Megawati. Sayangnya masyarakat juga tidak tahu bagaimana harus berpikir karena memang masyarakat sangat awam dengan output informasi statistik. Ditambah dengan dukungan media, output dari survei politik akan semakin memperkuat membentuk suatu pembenaran sekalipun sesungguhnya hasil survei mungkin tidak akurat dan tidak jujur.

Jujur Vs Akurat
Dalam riset statistik berupa survei terdapat apa yang disebut dengan survei yang akurat dan survei yang jujur. Survei yang jujur, belum tentu menghasilkan output yang akurat. Survei yang akurat, belum tentu pula merupakan survei yang jujur. Dengan alasan keterbatasan sumber daya dan efisiensi, sesungguhnya tidak ada satu pun survei yang bisa dikatakan akurat. Sekalipun suatu survei menggunakan data populasi, keakuratan masih diragukan karena faktor kesalahan manusia dalam pengumpulan data masih bisa terjadi. Suatu survei dikatakan jujur apabila menghasilkan tingkat akurasi pengukuran yang tinggi dan disertai dengan penggunaan definisi sampel yang relevan atau bisa diterima dengan kondisi populasi secara keseluruhan.

Dari hasil pengamatan terhadap output survei yang dilakukan oleh salah satu lembaga survei tentang politik, tidak ada satu pun yang menghasilkan survei yang jujur. Suatu survei dikatakan jujur apabila memiliki definisi operasional yang dianggap bisa relevan dengan kondisi populasi. Definisi operasional ini meliputi kriteria dipilihnya sampel dan metode pengumpulan informasi melalui kuesioner ataupun wawancara. Kedua definisi tadi tidak hanya harus relevan dengan populasi, akan tetapi harus relavan pula dengan judul ataupun tema survei.

Misalnya, Anda ingin melakukan survei tentang popularitas elpiji sebagai bahan bakar rumah tangga (memasak) di Indonesia. Popularitas akan sesuatu hal berkaitan dengan banyak hal seperti persepsi, pendapatan, dan kebiasaan. Tentunya persepsi elpiji sebagai alat memasak untuk masyarakat di perkotaan berbeda dengan mereka yang tinggal di pedesaan. Untuk perkotaan sendiri harus dikategorikan lagi berdasarkan banyak kriteria seperti usia, jenis kelamin, pekerjaan, tujuan penggunaan elpiji, latar belakang pendidikan, pendapatan, dan lain-lain. Anda tidak bisa begitu saja menyatukan keseluruhan kriteria tadi menjadi satu kesimpulan yang mengarah pada judul popularitas elpiji sebagai bahan bakar rumah tangga. Sekalipun Anda bisa menghasilkan survei yang akurat, akan tetapi kesimpulannya akan bisa menjadi bias atau menyimpang.

Anda pun harus mengetahui jika tanpa dilakukan survei pun telah bisa diperoleh kesimpulan bayangan seperti popularitas di kalangan ekonomi menengah ke atas, terutama di perkotaan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di pedesaan. Informasi dari media tentang konversi minyak tanah ke elpiji pun harus dipertimbangkan sebagai masukan pembentukan definisi untuk sampel dan metode pengambilan data. Survei tentang sesuatu yang berkaitan dengan persepsi harus dilakukan secara hati-hati apabila diinginkan mendapatkan survei yang jujur dan akurat. Apalagi jika survei tadi kemudian digunakan untuk keperluan informasi politik.

Sejauh ini, tidak ada satu pun hasil publikasi survei nasional yang berkaitan dengan politik dilakukan dengan jujur dan benar. Secara teknis, metode pengambilan data melalui kuesioner ataupun wawancara juga masih diragukan. Salah satu contoh adalah survei yang dilakukan oleh LSI tentang Evaluasi SBY-JK menjelang Pemilu 2009. Jumlah sampel yang diambil hanya sebanyak 1.239 responden, sedangkan data sementara untuk total populasi calon pemilih tahun 2008 diperkirakan mencapai 169.835.071 orang. Jika digunakan data pemilih tahun 2004 sebanyak 147.310.885 orang, maka sampel yang digunakan LSI sudah bisa dikatakan sangat tidak representatif dengan populasinya. Apalagi jika sampel tersebut dipilih secara random atau acak.

Tidak masalah jika yang dimaksudkan untuk keperluan efisiensi dan keterbatasan sumber daya, proporsi sampel sangat jauh dari populasi. Tapi Anda harus sesuaikan kondisi tersebut dengan topik survei yang Anda sampaikan. Persoalannya, para surveyor seringkali menggunakan alasan efisiensi ataupun keterbatasan sumber daya, akan tetapi mengabaikan informasi yang relevan sehubungan dengan sampel ataupun topik survei. Survei yang akurat semestinya tidak hanya didukung oleh metode sampling ataupun pengumpulan data yang tepat, akan tetapi juga mempertimbangkan segala informasi sehubungan dengan sampel ataupun populasi.

Misalnya saja, Anda membuat kesimpulan sementara apabila elpiji mulai populer di kalangan masyarakat rumah tangga di Indonesia. Informasi dari media menyebutkan jika hingga saat kesimpulan sementara tersebut dibentuk, masyarakat Indonesia masih banyak yang mengantri minyak tanah. Seharusnya, tema survei bukan mengenai popularitas elpiji, akan tetapi lebih memfokuskan pada kebiasaan penggunaan minyak tanah atau persepsi masyarakat tentang tabung elpiji. Pembentukan kesimpulan berupa popularitas hanya akan mengarahkan output survei pada kesimpulan yang bisa menyesatkan.

Survei politik seperti yang selama ini diusung oleh lembaga-lembaga survei memiliki potensi untuk menjadi mesin propaganda bagi tokoh ataupun partai. Tidak sedikit masyarakat yang umumnya masih awam dengan informasi statistik. Anda tidak sekedar melihat sajian tabulasi angka, akan tetapi Anda pun harus memperhatikan jika survei statistik memiliki kaidah berupa metode seperti kriteria sampel, banyaknya sampel (termasuk proporsi sampel), teknis pengambilan sampel, metode wawancara, dan informasi tambahan sehubungan dengan sampel ataupun populasi. Seringkali kaidah-kaidah tadi diabaikan atau kurang diperhatikan oleh surveyor untuk alasan teknis.

(Pada tulisan kedua, akan dibahas mengenai bagaimana menyikapi hasil survei politik terutama menjelang Pemilu 2009)

Referensi
Agresti, A., 1997, Statistical Methods for The Social Sciences, Third Edition, Prentice-Hall, Upper Saddle River, New Jersey
Dillman, D. A., 1978, Mail and Telephone Survey: The Total Design Method, Wiley Publisher, New York
Fowler, F. J., 1995, Improving Survey Question: Design and Evaluation, Thousand Oaks Publisher - Sage Publication, California.
Morgan, D. L., 1988, Focus Groups as Qualitative Research, Sage Publication, Newbury Park, CA.

0 comments:

Poskan Komentar