17 Januari 2009

GUS DUR – MEGA JILID II

Dalam dialognya dengan ‘Kick Andy’ beberapa waktu yang lalu, Gus Dur pernah mengatakan jika Megawati adalah salah satu orang yang dianggapnya bertanggungjawab ketika beliau dilengserkan. Banyak pihak beranggapan jika Gus Dur memiliki dendam politik kepada Megawati dan tentunya PDIP. Rabu 13 Januari 2009, Gus Dur secara resmi menyatakan akan memberikan suara politiknya kepada PDIP. Nampaknya dukungan politik tidak hanya sekedar untuk Pemilu 2009, akan tetapi bisa berlanjut hingga Pilkada Walikota Surabaya 2010. Sikap politik Gus Dur sekaligus membuyarkan tuduhan-tuduhan golput yang selama ini ditujukan kepada beliau dan PKB-nya. Nampaknya kabar koalisi Gus Dur – PDIP kurang banyak direspon oleh lawan-lawan politik, baik dari PDIP maupun PKB Gus Dur. Selain spekulasi politik, ada beberapa aspek dari sikap politik Gus Dur yang sekiranya bisa menjadi contoh bagi parpol ataupun politisi lainnya.

Gus Dur – Mega Jilid II
Jika Gus Dur – Mega Jilid I dibentuk di MPR/DPR dengan tema Presiden dan Wakil Presiden, maka untuk jilid kedua bertema ‘Koalisi’. Pada Pemilu 2004, PDIP meraih 18,31% suara, sedangkan PKB ketika itu meraih 10,61% suara. Melihat wacana politik yang berkembang di masyarakat, tentunya PDIP harus melakukan koalisi untuk menaikkan perolehan suara atau setidaknya mempertahankan di Pemilu 2009. Di pihak Gus Dur, PKB yang diusungnya saat ini tidak diakui oleh pemerintah yang lebih memilih untuk mengakui kubu Muhaimin. Sekalipun masih memiliki peluang perolehan suara di atas 5%, akan tetapi batas optimis secara politis diperkirakan kurang dari 10%.

Dukungan berupa koalisi dengan PDIP sekaligus menjawab kekecewaan Gus Dur kepada pemerintah (SBY) yang dianggapnya telah menciptakan perpecahan di PKB. Selang sehari setelah pernyataan koalisi, kubu Partai Demokrat mengeluarkan respon yang isinya tidak mengkhawatirkan koalisi tersebut (DetikPemilu, 15 Januari 2009) http://pemilu.detiknews.com/read/2009/01/15/182843/1069181/700/demokrat-tak-khawatir-pkb-gus-dur-dukung-mega. Apapun yang dikatakan oleh Ketua DPP Partai Demokrat, Anas Urbaningrum sudah memperkuat sasaran koalisi yang dilakukan Gus Dur, yaitu SBY dan Partai Demokrat. Seperti diketahui, Megawati adalah capres pesaing terdekat SBY pada Pemilu 2009 mendatang. Selain SBY dan PD, koalisi ini juga sekaligus menjawab niatan dua parpol lain, yaitu PKS dan PPP untuk merangkul massa dan simpatisan PKB Gus Dur.

Yakinkah Gus Dur Berkoalisi?
Melihat latar belakang dan motif koalisi, dalam jangka pendek, Gus Dur nampaknya hendak melengserkan posisi SBY pada capres putaran pertama dan tentunya posisi perolehan suara Partai Demokrat. Indikasinya bisa dilihat dari komentar-komentar yang dikeluarkan oleh kedua kubu. Dalam hal ini, kubu Megawati tidak mengomentari iklan kampanye SBY dan Partai Demokrat, akan tetapi sebaliknya kubu Partai Demokrat yang mengomentari iklan kampanye Megawati dan PDIP (liat di sini) http://leo4kusuma.blogspot.com/2008/12/partai-demokrat-jawab-kampanye-isu.html. Reaksi Partai Demokrat sudah mengindikasikan jika Megawati dan PDIP adalah pesaing politik terdekatnya di Pemilu 2009. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, dugaan ini benar setelah keesokan harinya kubu Partai Demokrat adalah pihak yang pertama kali memberi respon.

Ketika memutuskan untuk tidak mendukung PKB versi Muhaimin, Gus Dur membawa sejumlah nama atau tokoh politik, termasuk Yenny Wahid sendiri. Seperti yang dikemukakan oleh Yenny sendiri jika koalisi ditujukan sasaran selanjutnya untuk Pilkada Walikota Surabaya 2010 mendatang. Tantangan pertama yang harus dihadapi kubu Gus Dur adalah kemauan untuk meleburkan diri ke dalam organisasi PDIP. Jika memang harus meleburkan diri, itu berarti tidak ada niatan lagi dari kubu Gus Dur dan Gus Dur sendiri untuk membuat partai politik baru di masa yang akan datang. Dalam hal ini, Yenny pun harus membiasakan diri untuk menggunakan warna merah ke dalam visi dan misi politiknya.

Tantangan yang dihadapi oleh PDIP sendiri juga tidak mudah untuk menghadapi koalisi-koalisi yang tidak bisa diprediksikan. Besar kemungkinan apabila Partai Golkar tidak lagi mendukung SBY ataupun berkoalisi kembali dengan Partai Demokrat. Sekalipun demikian, Partai Demokrat juga akan sulit melakukan koalisi politik di tahun 2009. Koalisi yang dimungkinkan misalnya dengan PPP untuk Pemilu Capres Putaran Pertama. PKS hanya bisa dimungkinkan berkoalisi untuk putaran kedua. Jika skenario itu berjalan, maka besar kemungkinan SBY akan menjadi kandidat terkuat pada putaran kedua. Koalisi Gus Dur – Mega Jilid Kedua dianggap sudah cukup untuk mengamankan peluang lolos pada Putaran Pertama. Namun, koalisi Jilid Kedua ini lebih dari sekedar meloloskan Megawati pada putaran pertama, tapi menyingkirkan peluang SBY di putaran pertama. Itu pun hanya bisa terjadi apabila kubu Gus Dur bisa menyatukan diri secara total dalam waktu yang relatif pendek.

Citra PDIP sendiri sebagai partai politik cukup banyak mendapatkan sorotan negatif. Kasus-kasus penyimpangan dalam pengelolaan kekuasaan tentunya akan menjadi sorotan tersendiri bagi lawan-lawan politiknya. Citra individu dari Megawati sendiri tidaklah terlalu istimewa selama menjabat Presiden RI 2001-2004. Apakah dalam hal ini Gus Dur hanya akan menambahkan kekuatan basis massa di PKB untuk memperkuat barisan massa PDIP?

Figur Politik Gus Dur vs Megawati
Di luar hingar-bingar suara politik, itikad Gus Dur untuk berkoalisi menunjukkan ujian atas sikap persatuan dan sikap untuk mengesampingkan kepentingan kelompok/golongan. Kepada Andy, Gus Dur mengatakan jika tidak akan dendam sedikitpun kepada Megawati, sekalipun tidak akan melupakannya. Sikap Gus Dur setidaknya pula bisa menjadi pelajaran bagi Megawati dan PDIP tentang pentingnya suatu persatuan untuk menjadikan negeri ini lebih baik. Artinya, koalisi bukan sekedar dimaksudkan untuk mewujudkan kepentingan politik dari suatu partai politik. Gus Dur sendiri mengatakan apabila motif koalisi ini didasarkan pada pertimbangan kesamaan nasib di mana PDIP dulu pun pernah mengalami situasi yang hampir tidak berbeda dengan PKB sekarang ini.

Melihat situasi sekarang ini, koalisi Gus Dur – Mega/PDIP bukan menjamin pula akan mendominasi perolehan suara pada Pemilu 2009. Kepercayaan publik kepada partai politik ataupun tokoh-tokohnya tidak seperti pada Pemilu 2004 lalu. Apalagi dengan menggunakan sistem suara terbanyak di mana posisi kubu PDIP sekarang ini lebih memiliki peluang untuk mengambil kesempatan politik. Sekalipun demikian, kubu Megawati (PDIP) dan elemen-elemen di dalam partai pun mesti bisa mengambil manfaat dengan menerima figur Gus Dur dan menyatukannya. Apabila penyatuan ini berjalan lambat atau tidak berhasil, maka koalisi Gus Dur Mega Jilid Kedua tidak akan banyak ada manfaatnya.

0 comments:

Poskan Komentar