17 Januari 2009

MEMAHAMI PERILAKU HARGA PASKA PENURUNAN HARGA BBM

Pada tulisan sebelumnya, saya menuliskan apabila secara psikologis masyarakat Indonesia belum terbiasa untuk menurunkan harga. Harga kebutuhan pokok justru mengalami kenaikan paska SBY mengumumkan penurunan BBM yang kedua kalinya di bulan Desember 2008. Bahkan ketika tanggal 15 Januari 2008 telah diturunkan untuk yang ketiga kalinya, belum ada tanda-tanda kecenderungan harga-harga umum untuk turun. Himbauan pemerintah untuk menurunkan harga nampaknya tidak direspon oleh masyarakat. Pemerintah seharusnya tidak perlu harus menunggu di bulan Pebruari 2009. Secara ekonomis, harga-harga umum semestinya sudah menyesuaikan paska penurunan harga BBM kedua. Tulisan ini membahas tentang perilaku harga paska penurunan harga BBM.

Prinsip Terbentuknya Harga
Pada tulisan sebelumnya telah dijelaskan apabila harga tidak hanya mencerminkan biaya produksi, akan tetapi juga terbentuk sebagai hasil interaksi antara sisi permintaan dan penawaran. Pemerintah tidak bisa memaksakan harga-harga umum untuk turun mengikuti kemauan kebijakan. Perubahan atas harga yang ditawarkan oleh produsen (sisi penawaran) terjadi perubahan atas banyaknya unit barang yang diminta. Jika tidak banyak perubahan atau konstan atas unit barang yang diminta, maka harga pun tidak banyak mengalami perubahan atau tetap. Pada kondisi lain, apabila permintaan cenderung mengalami peningkatan, dengan asumsi tidak ada perubahan atas barang-barang pengganti (substitusi) dan konsentrasi (persaingan) produsen masih longgar, maka harga akan cenderung mengalami kenaikan.

Bilamanakah harga akan turun?

Perlu sebelumnya diperjelas, produk apakah yang dimaksudkan terkait dengan harga akan turun? Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan perubahan atas harga seperti biaya rata-rata atas faktor-faktor produksi, kualitas pengelolaan usaha, bentuk persaingan pasar (market structure), dan harapan atau ekspektasi atas harga dan perekonomian saat ini maupun di masa mendatang. Pada prinsipnya, harga akan turun mengikuti permintaan dan persaingan. Jika tindakan produsen untuk tidak merubah harga ataupun menaikkannya menyebabkan konsentrasi pelanggannya berpindah ke produsen lain, maka produsen tersebut akan menurunkan harga. Jika rata-rata permintaan atau unit barang yang diminta mengalami penurunan, maka pihak produsen akan menurunkan harga.

Faktor kesejahteraan secara ekonomi termasuk ke dalam salah satu pertimbangan dalam pembentukan harga. Produsen tidak akan menurunkan harga apabila tindakannya tersebut akan mengurangi kenaikan kesejahteraan secara permanen. Keuntungan (profit) produsen mencerminkan tingkat kesejahteraan yang diharapkan sesuai dengan harapan atau ekspektasi atas perekonomian. Sebaliknya, apabila penurunan harga tidak mempengaruhi terhadap perubahan atas kesejahteraan yang diharapkan, maka pihak produsen memiliki peluang untuk menurunkan harga. Dalam hal ini, selama tindakannya untuk mempertahankan harga tidak mengurangi sedikit pun harapan untuk menaikkan kesejahteraan, maka kecil kemungkinan pihak produsen akan menurunkan harga.

Kasus Perekonomian Sisi Permintaan
Perkeonomian Indonesia dikenal memiliki bentuk yang berorientasi pada sisi permintaan. Harga cenderung kurang fleksibel mengikuti perubahan komponen-komponen pembentuk harga (faktor produksi). Dari sisi produsen, harga tertinggi dari produsen di mana konsumen masih mau menerima (Ea) lebih tinggi dibandingkan harga terendah yang ditawarkan oleh produsen (Eb). Seperti yang kita lihat pada gambar di bawah ini, harga keseimbangan pada Kondisi A cenderung fleksibel ke atas (naik) ketimbang turun. Ditambahkan lagi dengan informasi kebijakan stimulus fiskal yang sasarannya adalah menggerakkan permintaan, maka akan semakin memperkuat keputusan produsen untuk menurunkan harga di bawah garis E. Berbeda dengan Kondisi B di mana harga fleksibel ketika naik ataupun turun di bawah garis E (harga semula).


Keterangan Gambar:
Kotak Biru : Batas harga dari produsen
Kotak Merah : Batas harga dari konsumen

Pada kondisi A, harga yang ditawarkan oleh produsen masih dimungkinkan turun sedikit di bawah harga semula (E). Ekspektasi produsen lebih terfokus pada ekspektasi atau harapan konsumen untuk mau menerima tingkat harga tertinggi yang ditawarkan produsen. Apabila biaya oportunitas dengan menurunkan harga lebih besar dibandingkan biaya oportunitas ketika menaikkan harga, maka produsen akan cenderung memilih untuk menaikkan harga. Misalnya, jika keputusan untuk menurunkan ataupun menaikkan harga tidak banyak mempengaruhi permintaan, maka produsen memilih untuk menaikkan harga. Jika program stimulus fiskal bekerja efektif, maka akan semakin memperkuat keengganan produsen untuk menurunkan harga. Sedangkan pada kondisi B, biaya oportunitas baik ketika menaikkan ataupun menurunkan harga relatif sama.

Harga BBM hanya berpengaruh nyata pada unit produksi yang sangat tergantung dengan pemakaian BBM. Salah satu contohnya adalah biaya angkutan dan biaya bahan bakar. Sekalipun demikian, unit produksi yang tergantung dengan pemakaian BBM pun tidak akan begitu saja menurunkan harga ketika harga BBM turun. Seperti yang dijelaskan di atas, besarnya biaya oportunitas menjadi pertimbangan utama bagi produsen untuk memutuskan perubahan harga. Pada umumnya, suatu perekonomian yang pertumbuhannya lebih banyak didorong oleh sisi permintaan, harga cenderung kurang fleksibel ketika turun. Berbeda apabila perekonomian yang dibangun seimbang antara orientasi sisi permintaan maupun penawaran seperti pada Kondisi B.

Penutup
Bisa dipahami apabila SBY (Presiden RI) menyatakan jika pemerintah tidak sepenuhnya bisa mengendalikan harga-harga untuk turun. Dalam hal ini, pemerintah hanya bertindak pada batasan moral (himbauan), bukan pada intervensi yang pada akhirnya hanya akan semakin memicu praktek harga yang tidak efisien. Turunnya harga BBM sudah dianggap cukup untuk mendorong sisi konsumsi yang selanjutnya akan mendorong sisi penawaran. Intervensi harga yang terlalu berlebihan hanya akan mengurangi nilai manfaat ekonomis unit usaha. Sementara itu, untuk menghadapi resesi sangat dibutuhkan pembukaan unit-unit usaha baru skala kecil maupun menengah.

Jika secara politis diinginkan agar harga-harga umum turun mengikuti penurunan harga BBM, maka aspek kepercayaan publik yang paling berperan menentukan keputusan harga. Secara teoritis, harga-harga umum masih dimungkin untuk turun, akan tetapi pemerintah seharusnya melihat aspek lain dari perekonomian yang lebih penting sekarang ini. Pemerintah seharusnya lebih memikirkan kebijakan yang memberikan kesempatan luas untuk kelompok Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Misalnya dengan mempermudah akses untuk mendapatkan modal maupun pembinaan dan pengembangan usaha profesional. Pada krisis 1998 lalu, penguatan ekonomi secara nasional lebih banyak bersumber dari pertumbuhan di kelompok UKM.

Perlu diakui apabila kepentingan politik masih menjadi pertimbangan SBY ketika menurunkan harga BBM. Ini terlihat ketika selang sehari setelah harga BBM turun, beliau melakukan peninjauan langsung ke beberapa tempat seperti SPBU dan stasiun angkutan. Mungkin perlu dipertanyakan mengapa beliau tidak melakukan peninjauan ke pasar-pasar tradisional yang kebanyakan sudah menaikkan harga. Peninjauan ini juga tindakan yang tidak perlu karena beliau sebagai Presiden cukup untuk mengutus bawahannya untuk melakukan peninjauan. Sehubungan dengan kebijakan ekonominya sendiri, semestinya SBY meninjau kelompok unit UKM yang saat ini diharapkan dapat memperkuat fondasi perekonomian nasional.

Referensi
Bester, Helmut, 1988, “Bargaining, Search Costs and Equilibrium Price Distributions”, Review of Economic Studies, Vol. 55, Issue 2 (201-214).
Pindyck, Robert S and Daniel L. Rubinfeld, 1995, Microeconomics, Third Edition, Prentice Hall, New Jersey.
Stennek, Johan, 1997, “Consumer's Welfare and Change in Stochastic Partial-Equilibrium Price”, Seminar Papers from Stockholm University, Institute for International Economic Studies, Number 598.
Talman, Dolf, 2006, “Overdemand and Underdemand in Economies With Invisible Goods and Unit Demands”, Discussion Paper from Tillburg University (Centre for Economic Research), Number 84.

Unduh (download) artikel

Klik kanan, pilih 'Save link/target as'

2 comments:

bah reggae mengatakan...

Ijin copy bos buat nambah pengetahuan. Thx

Anonim mengatakan...

I do not even know how І enԁed uρ here,
but І thought this post was gгeat. I dоn't know who you are but definitely you're
gοing tο a famouѕ bloggeг if
you are not аlreaԁу ;) Cheers!

Feel free to visit my weblog Same Day Payday Loans

Posting Komentar