31 Desember 2011

BURUKNYA KONEKSI INTERNET DI INDONESIA (BAGIAN 2)

Apakah negara seperti Indonesia harus dan butuh internet berkecepatan tinggi dan murah? Apakah yang ditakutkan dan segala resikonya? John Nasbit dalam bukunya Megatrend 2000 meramalkan tentang peradaban baru dalam dunia TI. Jarak dan waktu tidak akan menjadi halangan dengan kemunculan TI. Internet sebagai teknologi sudah menjadi kebutuhan pendukung seperti halnya air dan listrik. Fakta-fakta berikut ini akan mengungkap jawaban buruknya koneksi internet di Indonesia.

Peradaban Baru Umat Manusia
Negara-negara di Eropa sangat sensitif terhadap kebutuhan peradaban. Itu termasuk pula Rusia. Sejak diperkenalkannya internet, mereka terus berlomba dengan Amerika untuk mengembangkan teknologi dunia maya menyongsong abad ke-21. Saya pernah menyaksikan beberapa film Eropa dan Amerika yang mengambil tema latar pertengahan tahun 1990an. Di film itu terlihat sekali dari kecepatan membuka halaman bisa ditebak rata-rata memiliki akses sekitar 30-60 kbps untuk pengguna rumah. Padahal pada masa itu mungkin teknologinya masih di bawah kualitas 1G. Bermunculan kemudian berbagai perangkat lunak (software) buatan Amerika dan Eropa, terutama Antivirus yang paling populer di Eropa.

Adakah hubungan antara pembangunan TI dan kemajuan ekonomi?

Kenya termasuk salah satu negara berkembang di Afrika. Sulit bagi pemerintah Kenya untuk bisa mendongkrak prestasi perekonomian di negara mereka. Salah satu upaya kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Kenya ketika itu membangun infrastruktur untuk telekomunikasi bergerak. Sebagaimana ciri khas negara berkembang, Kenya mengandalkan ketergantungan ekonominya pada sektor informal sebagai potensi lokal. Kenya pula bersama beberapa negara Afrika lainnya membangun infrastruktur teknologi yang nantinya akan mampu menopang aktivitas perekonomian di negara mereka masing-masing. Tentunya perkembangan TI di Afrika tidak secepat dibandingkan kebanyakan negara-negara di Asia.

India bisa dikatakan memiliki karakter masalah yang hampir mirip dengan Indonesia. Negara ini dulunya dikenal jauh lebih miskin. Di masa lalu, kita sering mengirimkan bantuan pangan ke negara ini. Pemerintah India menyadari jika mereka pun harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi paradigma baru di abad informasi. Pemerintah mereka sungguh murah hati dengan subsidi, sehingga rakyat India tidak harus menebus dengan harga mahal untuk pembangunan infrastruktur TI di negara tersebut. Faktanya, India termasuk negara Asia yang paling sering menjual jasa TI ke luar negeri. Lulusan sarjana TI di negara tersebut banyak yang bekerja di IBM maupun Microsoft. Faktanya pula, bahwa India masih terhitung cukup mandiri dengan industri manufakturnya.

Dua raksasa komunis, yaitu Rusia dan China pun saat ini sudah mulai merambah ke dalam strategi di dunia maya. China misalnya telah membentuk pasukan khusus TI yang sengaja dipersiapkan untuk mengantisipasi cyber war. Hal serupa dilakukan oleh Rusia dan Amerika dengan membentuk departemen TI khusus untuk kepentingan pertahanan. Dengan ditopang cadangan devisa terbesar di dunia, China tentunya paling ambisius untuk menguasai peta perang cyber di masa depan. Penguasaan terhadap teknologi adalah segalanya apabila ingin mendominasi dunia di masa depan. Terakhir kali, China telah berhasil menciptakan super komputer tercepat di dunia. Mengalahkan rekor kecepatan yang selama ini dipegang oleh IBM. Tidak hanya itu, dukungan infrastruktur diperkuat pula dengan kehadiran industri manufaktur di bidang TI seperti ponsel, modem, dan server. Penguasaan TI adalah penguasaan informasi. Barangsiapa yang menguasai informasi, maka dia sudah kunci untuk menguasai dunia.

Sekali Lagi Isu Infrastruktur
Di kawasan Asia Pasifik hanya terdapat beberapa negara yang memiliki server utama, yaitu Jepang, Korea Selatan, Hongkong, Australia, dan Selandia Baru. Selain Australia, negara-negara tersebut terhitung kecil luasnya maupun jumlah penduduk dibandingkan Indonesia. Mereka negara-negara industri maju dan sekaligus minim sumberdaya alam. Apalagi seperti Selandia Baru yang jumlah penduduknya malah lebih sedikit dibandingkan jumlah dombanya. Server yang seringkali menjadi sasaran koneksi internet adalah server di Hongkong dan Jepang. Dari server utama tadi nantinya akan diteruskan ke server-server utama yang menjadi sumber akses. Kita ketahui saja, seperti Yahoo!, Google, dan layanan-layanan web lainnya berasal dari Amerika. Tentu akan lebih cepat (ping) apabila dari server utama di Hongkong ataupun Jepang dilempar ke server sumber akses.

Ada dikenal istilah backbone, yaitu jaringan kabel serat optik bawah laut yang dipasangkan untuk mengubungkan ke pusat server tujuan. Misalnya dari negara A ke server di Jepang atau Hongkong. Dari Asia Tenggara tentunya membutuhkan investasi yang cukup mahal untuk menanamkan kabel bawah laut tersebut. Indonesia diketahui masih belum memiliki backbone yang langsung mengakses ke Jepang ataupun Hongkong. Lalu ke mana jaringan kabel bawah laut (internet) Indonesia?

Baru diketahui apabila selama ini Indonesia tidak pernah langsung menghubungkan koneksi internetnya ke server di Jepang ataupun Hongkong. Indonesia harus melewati Singapura terlebih dahulu, karena memang kita hanya memiliki 2 route, yaitu Singapura dan Australia. Provider internet di negeri ini lebih suka menyambungkan (menggunakan jasa) langsung ke Singapura. Baru diketahui pula, ternyata Singapura, Malaysia, dan Thailand telah bekerjasama untuk membuat sambungan kabel bawah laut (fiber optic) mereka langsung ke Jepang dan Hongkong. Dengan segala hormat, Indonesia tidak diajak oleh mereka. Tetapi yang mengherankan kita masih saja menganggap mereka bersahabat dengan kita.

Bagaimana dengan fungsi satelit telekomunikasi?

Perlu diketahui, jika terdapat beragam jenis satelit telekomunikasi. Sambungan internet via kabel optik bawah laut lebih disukai, karena selain memiliki kecepatan tinggi, biaya sambungan relatif lebih murah. Disamping itu, kabel optik memiliki kehandalan yang cukup tinggi untuk menampung lebih banyak server. Mengenai fungsi satelit itu sendiri hanyalah alternatif di mana harga sambungannya masih relatif mahal. Sambungan internet via satelit membutuhkan lebih banyak infrastruktur yang nantinya dihubungkan dengan sistem jaringan kabel bawah laut. Kapasitasnya pun relatif terbatas, kecuali mau dan sanggup meluncurkan lebih banyak lagi satelit. Faktor usia harus diperhatikan, sehingga investasi untuk satelit saat ini lebih mahal jika hanya untuk sambungan internet.

Mempertanyakan Road Map Pembangunan Nasional
Sebuah petikan berita menyebutkan apabila salah satu kendala pelaku UKM/IKM di dalam negeri adalah kesulitan untuk mengakses informasi pasar di luar negeri. Hal ini terutama dialami pada kelompok industri kreatif, belum lama setelah reshuffle kabinet bulan November 2011 menghasilkan kementrian bidang ekonomi kreatif. Mengakses informasi untuk mendapatkan informasi merupakan salah satu kunci untuk menguasai pasar. Para pelaku usaha mesti lebih banyak mendapatkan informasi melalui komunikasi antar pelanggan, mencari informasi mengenai perkembangan perilaku pasar, dan lain sebagainya.

Sekalipun teknologi informasi sudah jauh diperkenalkan sebelum tahun 2000, akan tetapi cara berpikir (mindset) pembangunan nasional masih belum sedikit pun beradaptasi dengan kebutuhannya. Kita seolah seperti sedang berdagang di masa sebelum 1990an yang dilakukan dengan cara-cara konvensional. Sementara itu, perilaku pasar akan senantiasa dinamis. Jika hendak bersaing di era globalisasi, maka cara berpikir masyarakat pun harus beradaptasi dengan informasi. Tanpa didukung oleh infrastruktur yang memadai, sulit sekali bagi masyarakat untuk mampu beradaptasi dengan informasi.

Sekitar tahun 2010 lalu, PT KAI pernah hendak membuat koneksi WiFi di setiap stasiun besar dan gerbong utama (eksekutif dan bisnis). Tidak berapa lama kemudian, Menkominfo RI, Tifatul Sembiring langsung mengeluarkan pernyataan untuk menolak rencana PT KAI tersebut. Alasannya, sambungan internet gratis tersebut akan rawan disalahgunakan untuk membuka situs-situs pornografi. Bodoh sekali bukan?

Di luar negeri, hampir setiap kepala daerah berkomitmen untuk menyediakan jasa layanan hotspot gratis bagi masyarakat (publik). Bandingkan dengan kepala daerah di negeri ini, adakah yang sampai berpikir demikian?

Beberapa tahun sebelumnya, Onno W Purbo pernah mengusulkan suatu gagasan membuat sistem RT/RW Net. Dengan menggunakan hotspot untuk menjangkau kawasan RT dan RW. Sebelumnya malah sempat diusulkan dapat menjangkau setingkat kecamatan. Namun, usulan tersebut dilarang oleh pemerintah atau ilegal. Menurut pemerintah, layanan hotspot sebaiknya memiliki cakupan terbatas atau lokal, seperti area rumah, area pertokoan, atau kompleks perbelanjaan (mall). Padahal area mall itu sendiri terkadang bisa sampai seluas tingkat RT.

Pernah suatu ketika Onno W Purbo pula mengusulkan kepada pemerintah untuk meloloskan layanan internet yang setara dengan teknologi 4G, yaitu WiMAX. Teknologi WiMAX merupakan pengembangan dari WiFI dengan menambah jangkauan area (coverage). Ada dua macam, yaitu fixed dan mobile. Pembahasannya cukup ketat, hingga akhirnya pemerintah belum mengijinkan pengoperasian WiMAX. Pemerintah berdalih, apabila WiMAX akan mematikan industri jasa layanan internet yang lebih berorientasi mengembangkan teknologi LTE (long term evolution). Tidak ada yang mau mengalah, akhirnya pemerintah memvonis untuk membatasi WiMAX. Setelah selang cukup lama berjalan, akhirnya baru pada tahun 2011 mulai diperlonggar, akan tetapi hanya dibatasi pada pelayanan fixed WiMAX.

Setiap operator internet diharuskan untuk membeli perijinan pita lebar untuk dapat menyelenggarakan layanan pita lebar dengan batas tertentu. Harganya cukup mahal dan penawaran tersebut tidak dilakukan setiap tahun. Hanya Telkomsel yang memiliki jumlah perijinan bandwidth paling banyak dibandingkan operator internet lainnya. Pita lebar itulah yang nantinya digunakan untuk memberikan layanan internet kepada masyarakat.

Seperti halnya ketika di era 1970an pemerintah berkehndak untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara agraris, maka dibuatkanlah sarana pendukung dan infrastrukturnya. Dibangunlah bendungan dan sarana irigasi yang berfungsi untuk pengendali air. Dilakukan penguatan lumbung nasional yang dikelola oleh Bulog sebagai kontrol harga. Dan tentunya yang terpenting dipersiapkanlah sejumlah lahan hingga melibatkan transmigrasi besar-besaran ke seluruh negeri. Begitu pula seharusnya jika hendak membangun basis teknologi informasi, maka harus ditopang oleh infrastrukturnya yang memadai, bukan secukupnya.

Indonesia memiliki jumlah penduduk terbesar kelima di dunia. Tentunya penyediaan layanan internet harus dipikirkan sebagai bagian dari program jangka panjang. Biaya yang dibutuhkan pun tidak sedikit. Melihat kekayaan alam dan potensi ekonomi lainnya, tentunya Indonesia pun punya peluang lebih besar dibandingkan Singapura, Thailand, ataupun Malaysia untuk membangun infrastruktur teknologi informasi. Indonesia seharusnya tidak perlu harus mengambil router ke Singapura, akan tetapi jauh lebih mampu untuk membangun internet backbone yang langsung tersambung ke Hongkong maupun Jepang.

Tahukah Anda, negara-negara di Eropa Timur senantiasa memberikan pelayanan internet yang sangat murah dan mudah kepada masyarakatnya? Di negara-negara seperti mereka, layanan internet bisa ditemukan di segala tempat, bahkan diakses secara gratis. Para pelajar dan mahasiswa mendapatkan prioritas, karena merekalah yang dianggap sebagai pengguna paling penting. Apa hasilnya? Kita bisa melihat sendiri seperti AVG yang dulunya dimulai dari kelompok kecil, kini telah menjadi pengembang pembuat antivirus kelas dunia. Para hacker di Eropa Timur pula yang seringkali menjadi daftar hitam dan sekaligus menciptakan lubang hitam di dunia maya. Mengetahui betapa pentingnya jasa internet kepada masyarakat, langkah serupa dilakukan oleh negara-negara Asia, bahkan yang paling ekstrim dilakukan oleh RRC. Jika kita menengok perjalanan waktu (time line), maka Indonesia bisa dikatakan mempelopori dimulainya pembangunan era perang dingin. Melihat progres dan pencapaiannya, bisa dikatakan Indonesia justru merupakan negara paling terbelakang.

Tulisan sebelumnya pada bagian pertama bisa dibaca di sini.

(Bersambung ke tulisan ketiga)

0 comments:

Poskan Komentar