25 Februari 2013

SIAPAKAH (SESUNGGUHNYA) MEREKA ORANG TERKAYA INDONESIA?

Majalah FORBES belum lama ini merilis sejumlah nama ataupun tokoh yang kemudian diperingkatkan berdasarkan total kekayaannya. Orang Indonesia pun tak luput disebutkan sebanyak 40 orang yang masuk ke dalam daftar orang kaya. Penulis mencoba menggunakan perspektif lain untuk melihat dan mengetahui latar belakang orang terkaya di Indonesia yang disebutkan oleh majalah FORBES. Siapakah mereka bukan semata menyebutkan nama, melainkan mencoba untuk mengungkapkan cara berpikirnya supaya bisa mendapatkan kekayaan sebesar-besarnya.

Hukum ekonomi mengatakan, bahwa tindakan ekonomi adalah suatu tindakan yang dengan mengorbankan sesuatu sejumlah tertentu untuk mendapatkan hasil yang tertentu pula. Ada pula hukum ekononomi dituliskan, bahwa tindakan ekonomi tersebut akan menggunakan sejumlah tertentu pengorbanan untuk mendapatkan sejumlah hasil (keuntungan) yang tertentu pula. Dengan menggunakan pendekatan kesejahteraan dan teori produksi dapat pula dikembangkan, apabila setiap orang akan mengoptimalkan segala bentuk pengorbanan untuk mengoptimalkan keuntungan. Dalam bentuk lain dari suatu pencapaian kesejahteraan bukan semata mengoptimalkan hasil (keuntungan) sebagai sasaran, melainkan pula memaksimalkan keuntungan. Jika dimungkinkan, akan menggunakan segala bentuk pengorbanan yang berarti pula dengan memaksimalkan pengorbanan untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal.

Pengertian pengorbanan dalam hukum ekonomi merujuk pada bentuk input, termasuk pula di antaranya sumber daya (resources). Ada tiga bentuk input yang sering disebutkan dalam teori produksi, yaitu kapital, tenaga kerja, dan lingkungan. Pemikiran moderen tidak lagi menuliskan ke dalam notasi tanah (land), melainkan telah menggantinya dengan istilah lingkungan (environment). Jadi pengertian lingkungan itu sendiri bisa sangat luas, termasuk pula tanah sebagai sub variabel. Keseluruhan bentuk input tadi kemudian akan dikelola melalui teknik kombinasi tertentu untuk dapat menghasilkan ouput yang nantinya mencapai bentuk keuntungan yang diinginkan oleh si pemilik kapital.

Pada beberapa dasawarsa terakhir ini telah terjadi pergeseran perilaku individu dalam mengoptimalkan kekayaannya. Orang terkaya di dunia bukan lagi berasal dari mereka yang memiliki aktivitas utama di pertambangan, perminyakan, ataupun mereka yang memiliki usaha pengelolaan sumber daya alam. Di akhir dekade 1990an, Bill Gates melalui Microsoft mencatatkan diri sebagai orang terkaya di dunia untuk beberapa periode. Microsoft hanyalah sebuah perusahaan jasa yang memproduksi output berupa software (perangkat lunak). Dalam perkembangan selanjutnya, nama-nama pelaku usaha dibidang teknologi informasi mulai mendominasi deretan orang-orang kaya yang dirilis oleh Forbes.

Bagaimana definisi teknis dari Forbes untuk menghitung kekayaan individu?

Tim dari majalah Forbes sebenarnya menggunakan definisi teknis yang diadopsi dari prinsip-prinsip yang digunakan dalam sistem akuntansi. Seperti diketahui, Indonesia pun mengadopsi sistem akuntasi dari sistem akuntasi dan pelaporannya dari Amerika. Untuk menghitung kekayaan menggunakan metode penghitungan kekayaan bersih sebesar total asset dikurangi total hutang. Dalam sistem akuntansi, seluruh aset terbagi menjadi dua kelompok, yaitu aset lancar dan aset tidak lancar. Kemudian untuk total hutang pun terbagi menjadi dua bagian, yaitu hutang jangka pendek dan hutang jangka panjang. Jadi untuk memperkiran kekayaan individu tersebut akan dihitung keseluruhan dari aset-aset yang dimiliki individu, termasuk kepemilikan saham pada perusahaan publik maupun perusahaan sendiri, aset berupa real estat, aset bergerak, aset tidak bergerak, barang-barang berharga lain, kekayaan tunai (lancar), dan keseluruhan hutang. Untuk lebih jelasnya mengenai metodologi penghitungan kekayaan oleh Forbes bisa dilihat pada halaman berikut ini (klik di sini).

Berikut ini nama-nama dari 20 nama orang terkaya di Indonesia yang dirilis oleh Majalah Forbes untuk periode tahun 2012.

Robert Budi Hartono (146) – Michael Hartono (157)
Majalah Forbes mencatatkan kekayaannya sebesar USD 6,5 miliar atau sekitar Rp 59,8 triliun. Pada tahun 2012, Budi Hartono yang berusia 71 tahun menempati peringkat kekayaan ke-146 dunia atau tercatat sebagai orang terkaya di Indonesia. Kakaknya, Michael Hartono yang berusia 73 tahun tercatat memiliki kekayaan sebesar USD 6,3 miliar atau sekitar Rp 57,96 triliun. Bersama dengan kakaknya, keduanya adalah generasi kedua penerus pendiri perusahaan rokok asal kudus Djarum, yaitu Oei Wie Gwan. Perusahaan rokok itu pun sesungguhnya dibesarkan bersama adiknya, Michael Hartono. Setelah tahun 1951, mereka mendirikan emperium bisnis yang kemudian disebut Djarum Group. Ekspansi bisnis pun dilakukan dengan menguasai saham Bank BCA (51%) di tahun 2007, sektor properti, sektor agribisnis dengan pemilikan kebun kelapa sawit, dan sektor elektronik dengan mengendalikan Polytron. Sekalipun demikian, oleh Forbes keduanya lebih diakui menguasai bidang perbankan dan industri rokok sebagai sumber kekayaan pribadi.

Jika diperhatikan, sumbangan terbesar kekayaan dari kedua bersaudara ini berasal dari perbankan dan industri rokok. Sekalipun tidak banyak mengandalkan kontribuasi dari perusahaan rokok, tetapi nama “Djarum” telah menjadi label dan sponsor berbagai aktivitas periklanan di olah raga maupun musik, ataupun bidang kegiatan anak muda. Tidak cukup bisa diandalkan apabila suatu saat nanti akan dikeluarkan pembatasan rokok. Era perusahaan rokok telah bergeser, seperti bergesernya bisnis Phillips Moris yang secara perlahan mulai meninggalkan ketergantungannya terhadap industri rokok. Sayangnya, kapital yang cukup besar tersebut tidak cukup serius untuk dialokasikan pada industri elektronik maupun teknologi. Padahal mereka sudah melirik bidang teknologi informasi dengan perusahaan bisnis online yang bernama “Global Digital Prima Venture”. Padahal di Jepang, perusahaan bisnis online mampu membuat pemiliknya tercatat sebagai salah satu orang terkaya di Jepang.

Low Tuck Kwong (304)
Nama Low Tuck Kwong merupakan orang baru dalam barisan pengusaha di Indonesia yang kini berusia 64 tahun. Sebelumnya, Low merupakan warga negara Singapura yang kemudian berpindah kewarganegaraan menjadi Indonesia pada tahun 1972. Pada tahun 2012, Majalah Forbes menempatkannya sebagai orang terkaya ketiga di Indonesia dengan total kekayaan mencapai USD 3,6 miliar atau sekitar Rp 33,12 triliun. Awalnya, Low mengelola bisnis konstruksi bersama ayahnya untuk meneruskan profesi yang sama ketika masih di Singapura. Tetapi dalam perkembangannya, Low lebih tertarik untuk membesarkan bisnis pertambangan batu bara dengan perusahaan PT Bayan Resources, Tbk. Tentu saja, Indonesia cukup melimpah sumber daya pertambangan batu baru yang membesarkan cukup banyak perusahaan-perusahaan pertambangan di dalam negeri. PT Bayan Resources, Tbk. sendiri di tahun 2011 lalu mampu melampaui PT Bumi Resources & Minerals, Tbk yang dimiliki oleh Abu Rizal Bakrie. Low nampaknya lebih berkonsentrasi untuk membesarkan perusahaan tambang batu bara, ketimbang harus melakukan ekspansi bisnis ke sektor lainnya.

Martua Sitorus (377)
Pada tahun 2012, Forbes mencatatkan kekayaan pria berusia 52 tahun ini sebesar USD 3 miliar atau sekitar Rp 27,6 triliun. Cukup fantastis untuk seorang pengusaha perkebunan kelapa sawit (palm oil). Martua Sitorus merupakan pendiri perusahaan agribisnis, yaitu Wilmar International Plantation yang cukup populer di kawasan Asia, serta tercatat pula di bursa efek Singapura. Wilmar pertama kali didirikan pada tahun 1991 yang saat ini telah menempati barisan perusahaan agribisnis asal Indonesia yang berlevel internasional. Martua Sitorus sendiri menempati posisi sebagai pemilik, sekaligus direktur eskekutif di Wilmar International. Dari Wilmar sendiri kemudian memiliki pula sebanyak 48 perusahaan yang seluruhnya merupakan perusahaan yang mengolah bahan baku minyak kelapa sawit. Salah satu di antaranya yang cukup terkenal adalah perusahaan minyak goreng “Sania”.

Sisi positif dari karya Martua Sitorus bisa dilihat dari usahanya yang tidak semata hanya memproduksi bahan baku, melainkan mengolah bahan baku tersebut ke dalam bentuk bahan setengah jadi maupun produk jadi. Perusahaan pengolah bahan baku akan menghasilkan nilai tambah dari bahan baku sebelumnya, sehingga akan berpeluang untuk memperbesar output bruto. Sayangnya, reputasi Wilmar International Plantation perlu menjadi koreksi dan catatan. Wilmar pula tercatat sering mendapatkan kritik dan protes dari berbagai aktivis lingkungan perihal aktivitasnya yang merusak lingkungan, terutama perluasan dan pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit.

Sukanto Tanoto (418)
Pada tahun 2008 lalu, Forbes pernah memasukkan nama Sukanto Tanoto ke dalam barisan orang kaya di dunia dan menempati posisi ke-284. Total kekayaannya pada waktu itu sebesar USD 3,8 miliar atau sekitar Rp 34,90 triliun. Di tahun 2012, Sukanto kembali tercatat di daftar Forbes, tetapi mengalami penurunan peringkat menjadi ke-418 dengan total kekayaan sebesar USD 2,8 miliar atau sekitar Rp 25,76 triliun. Pengusaha asal Medan yang berusia 62 tahun ini memiliki bisnis utama di bidang pulp industry atau perusahaan pembuat kertas dan usaha perkebunan kelapa sawit. Perusahaan yang dimilikinya, yaitu Raja Garuda Mas (RGM) berkantor pusat di Singapura telah merambah pula hingga ke lantai bursa di New York. Selain itu, Sukanto memiliki sebuah kawasan industri yang disebut Riau Industry Complex yang di dalamnya berdiri perusahaan pengolahan bubur kertas, PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP).

Ada sebuah pertanyaan besar, mengapa Sukanto memilih Singapura untuk menyimpan kekayaan dan sekaligus bertempat tinggal? Kendali perusahaan sepenuhnya berada di kantor pusat di Singapura. Tentu saja Singapura akan lebih menikmati aliran uang yang masuk dari Indonesia. Keberadaaan RAPP di Pelalawan (Riau) tidak banyak memberikan keuntungan regional, karena sebagian besar uangnya akan kembali masuk ke Singapura. Pemilik Kaskus saja berani memilih Indonesia sebagai basis server yang semula menggunakan basis server di Amerika. Akibat kekuatan kapital yang lebih terkonsentrasi di Singapura, maka akan semakin memperlemah nilai mata uang Rupiah terhadap mata uang Singapura. Seharusnya orang seperti Sukanto Tanoto memiliki peluang untuk membangun kepercayaan keuangan internasional dengan memindahkan pusat bisnis ataupun keuangannya di Indonesia. Tetapi seorang pengusaha seperti Tanoto tentu akan memilih prioritas keuntungan yang maksimum, ketimbang harus memikirkan bangsanya sendiri. Satu masalah pula yang mungkin menjadi catatan atas buruknya reputasi industri pengolahan bubur kertas yang seringkali menjadi penyebab kerusakan lingkungan.

Peter Sondakh (464)
Nama Peter Sondakh tidak asing di kalangan masyarakat Indonesia, terutama di kalangan pengusaha. Di tahun 2012, Forbes menempatkan Peter Sondakh di posisi ke-464 orang terkaya di dunia dengan total kekayaan sebesar USD 2,6 miliar atau sekitar Rp 23,92 triliun. Peter Sondakh yang berusia 60 tahun dikenal sebagai pemilik perusahaan rokok Bentoel dan emperium di bidang kelapa sawit dengan nama Rajawali Group. Kekayaannya sendiri lebih banyak berasal dari emperiumnya di usaha kelapa sawit. Selain dua bidang usaha tadi, Peter Sondakh pun memiliki pabrik semen Bosowa. Peter Sondakh sebenarnya memiliki bidang usaha yang cukup banyak, tetapi Forbes menuliskannya bidangnya ke dalam kelompok investasi (investment). Itu berarti, Peter memiliki cukup banyak andil ke dalam berbagai perusahaan, sekalipun yang saat ini memberikan kontribusi besar adalah Bentoel dan Rajawali Group.

Jika berbicara tentang corporate social responsibility (CSR), maka Peter Sondakh mungkin bisa dikatakan lebih memperlihatkan hasil yang cukup nyata. Bisa jadi dilatarbelakangi oleh kesukaannya terhadap sepak bola, kemudian mendorongnya turut terlibat mensponsori klub-klub sepak bola seperti Arema (Malang), Persipura (Jayapura), dan PSM (Medan). Sayangnya dalam aspek kewirausahaan, Peter masih belum bisa memberikan perbedaan dengan kebanyakan pengusaha yang turut berkecimpung ke dalam usaha perkebunan kelapa sawit. Indonesia memang penghasil kelapa sawit terbesar di dunia, tetapi pengorbanannya pun cukup besar, yaitu kerusakan lingkungan yang paling parah di dunia.

Achmad Hamami & Family (578)
Achmad Hamami merupakan satu-satunya pengusaha yang berlatar belakang militer dan masuk ke dalam daftar 40 orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes. Di tahun 2012, Forbes melaporkan kekayaannya mencapai USD 2,2 miliar atau sekitar Rp 20,24 triliun. Pengusaha yang kini berusia 80 tahun tersebut pernah masuk ke dalam korps penerbang TNI Angkatan Laut. Bidang usahanya adalah penyediaan jasa alat-alat berat (heavy equipment) yang berada di bawah bendera PT Trakindo Utama. Perusahaan yang didirikan pertama kali pada tahun 1970 memasok alat-alat berat, sekaligus berperan sebagai distributor resmi Caterpilar di Indonesia. Di usianya yang semakin senja dan kesehatannya yang terus menurun, PT Trakindo Utama dikendalikan oleh putera ketiganya, yaitu Rachmat Mulyana.

Caterpilar merupakan perusahaan bertaraf internasional yang reputasinya dikenal sebagai pemasok alat-alat berat dan perlengkapannya. Perusahaan asal Amerika tersebut memiliki spesialisasi dalam mendukung pembangunan infrastruktur di banyak negara. Dari pengamatan penulis, keberadaan PT Trakindo Utama sebagai satu-satunya distributor resmi Caterpilar menunjukkan indikasi bentuk monopoli atas jasa penyediaan alat-alat berat dan perlengkapannya dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia. Bentuk usaha monopoli merupakan salah satu ciri yang masih belum bisa dihilangkan sejak berakhirnya era orde baru. Di tengah maraknya pembangunan infrastruktur di berbagai daerah memberikan lebih dari cukup peluang bagi PT Trakindo Utama untuk memperbesar pundi-pundi kekayaan bagi keluarga Achmad Hamami. Penulis belum mendapati laporan kasus korporasi atas perilaku monopoli dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), terkait monopoli atas penyediaan jasa alat-alat berat dan perlengkapannya. Terlalu absurd apabila usaha ini dikatakan dijalankan tanpa adanya praktik KKN.

Sri Prakash Lohia (634)
Dari namanya sudah bisa ditebak, pengusaha ini berasal dari India. Sri Prakash Lohia merupakan nama baru dalam jajaran nama orang-orang kaya yang masuk ke dalam daftar Forbes. Pada tahun 2012 ini, kekayaannya ditaksir mencapai USD 2 miliar atau sekitar Rp 18,4 triliun dengan bidang usaha utamanya adalah polyster. Melalui perusahaan bernama Indorama Corporation yang didirikan oleh ayahnya, kemudian menjadi penyedia bahan-bahan baku serat kain yang akan memasok ke perusahaan garmen ataupun industri pakaian di dalam negeri maupun luar negeri. Dari Indorama Corp. kemudian terus berkembang menjadi beberapa anak perusahaan berada di bawah bendera Indo Rama Group. Reputasi keluarga Lohia sendiri cukup dikenal pula di India. Keluarga Lohia pun melakukan ekspansi bisnis ke bidang real estat dengan mendirikan perusahaan Indorama Real Estate. Indo Rama sendiri sudah berdiri di Indonesia sejak tahun 1974 yang berarti bukanlah pendatang baru di kalangan usaha di Indonesia.

Ada semacam ke-khasan perilaku di kalangan pengusaha asal India, yaitu kultur wirausaha yang berkonsentrasi di dalam industri garmen ataupun polyster. Nama Prakash Lohia sebenarnya bukanlah satu-satunya pengusaha asal India yang bergerak di bidang garmen di negeri ini. Kultur wirausaha seperti cenderung lebih menyukai untuk menguasai di satu bidang, yaitu di bidang tekstil.

Chairul Tanjung (634)
Chairul Tanjung berperan sebagai pengusaha, sekaligus ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN). CT sendiri bukanlah satu-satunya pengusaha yang juga terlibat ke dalam pemerintahan. Beberapa kali namanya selalu tercatat ke dalam daftar orang kaya versi majalah Forbes. Pada tahun 2012, Forbes mencatatkan taksiran kekayaan CT mencapai Rp 2 miliar atau sekitar Rp 18,4 triliun atau berada satu peringkat dengan Prakash Lohia. Peringkatnya naik dari peringkat sebelumnya, yaitu dari peringkat 11 menjadi peringkat 8. Tetapi total kekayaan yang dicatatkan mengalami penurunan dari tahun sebelumnya, akibat cukup banyaknya alokasi kapital yang diekspansi pada tahun 2011-2012. Setelah merintis usaha ekspor sepatu anak-anak, CT keluar dari untuk menjalankan bisnis secara individu. Dari sinilah kemudian bisnisnya terus menanjak hingga merambah ke tiga sektor, yaitu sektor keuangan, sektor properti, dan sektor multimedia. CT sendiri lebih banyak dikenal sebagai pendiri Para Group yang menaungi Trans Corp. Sumber kekayaannya nampak cukup merata didistribusikan dari seluruh sektor yang dipegang, tetapi yang paling utama tentunya berasal dari sektor multimedia. CT nampaknya cukup paham tempat di mana uang akan mengalir dan berputar, sehingga di situlah kemudian ditempatkan usaha-usaha untuk menampungnya.

Setelah mempelajari perjalanan karir bisnisnya, CT nampaknya melewatkan sebuah peluang penting yang saat ini menjadi isu sentral di negeri ini. Disebutkan, CT pernah merintis pembuatan sepatu anak-anak untuk kebutuhan ekspor. Tetapi sayangnya usaha ini tidak dirintis kembali. Padahal, dari sini CT bisa mengembangkannya menjadi industri manufaktur yang nantinya akan mampu menghadang banjirnya produk-produk impor. Bisa jadi iklim bisnis di negeri ini kurang mendukung, sehingga membuatnya harus beralih orientasi bisnis. Tetapi kehadiran CT ke dalam KEN seharusnya bisa memberikan rekomendasi atas sejumlah polemik maupun persoalan industri manufaktur kepada pemerintah. Kepemilikannya atas sejumlah bank dan jasa keuangan lain bisa jadi meniru model bisnis dari pelaku sebelumnya yang memanfaatkan bank miliknya untuk memperbesar nilai kapital atau kekayaan dari seluruh perusahaan.

Kiki Barki (764)
Kiki Barki yang berusia 71 tahun merupakan pemilik dari perusahaan tambang batu bara, PT Harum Energy, Tbk. yang tercatat di lantai bursa di Jakarta maupun di luar negeri. Pada tahun 2012, majalah Forbes merilis perkiraan kekayaannya mencapai USD 1,7 miliar atau sekitar Rp 15,64 triliun. Kiprah kesuksesannya sebagai pengusaha pertambangan dimulai ketika mencatatkan perusahaannya menjadi perusahaan publik di BEI pada tahun 2010. Secara perlahan, PT Harum Energy, Tbk. mampu mendekati pesaing-pesaingnya dalam industri batu bara, hingga akhirnya melampaui atau mensejajarkan diri dengan perusahaan yang sudah lebih dulu mapan. Sekalipun telah berubah menjadi perusahaan publik, tetapi kepemilikan saham mayoritas masih dipertahankan dengan menempatkan puteranya, Lawrence Barki sebagai presiden komisaris di PT Harum Energy, Tbk.

Dalam catatan penulis, perusahaan pertambangan seperti tambang batu bara memberikan catatan hitam dalam sejarah lingkungan hidup di negeri ini. Jutaan hektar lahan hutan hujan tropis (rain forest) hilang begitu cepat, hingga kini hanya tersisa kurang dari 30%. Hilangnya hutan hujan tropis sebagian besar dialokasikan sebagai akibat pembukaan lahan untuk pertambangan batu bara. Kerusakan lingkungan akibat penambangan ini pun tidak dikalkulasikan sebagai bentuk kerugian lingkungan. Perlu diketahui pula, jenis batu bara di Indonesia cukup diminati oleh pasar internasional, sehingga semakin mendorong eksploitasi besar-besaran di sejumlah daerah. Ironisnya, Dahlan Iskan sewaktu menjabat sebagai Dirut PLN pernah mengeluhkan perihal kesulitan PLN mendapatkan jatah batu bara, sampai harus membeli dari Thailand.

Murdaya Poo (854)
Nama Murdaya Poo dan istrinya Hartati Murdaya bukanlah nama baru di kalangan pebisnis atau pengusaha besar di Indonesia. Kiprahnya dikenal karena kedekatannya dengan kekuasaan. Kunci keberhasilan keluarga Murdaya sesungguhnya justru terletak pada peran istrinya, yaitu Hartati Murdaya yang memang terbentuk dari keluarga pengusaha. Ayah Hartati sendiri adalah seorang pengusaha kayu dan agro industri. Di sinilah kemudian bersama Murdaya Poo merintis usaha di bidang kelistrikan di bawah perusahaan PT Kencana Sakti Indonesia pada tahun 1992. Kesuksesan di bidang bisnis kelistrikan kemudian mendorongnya melakukan ekspansi bisnis ke bidang property, agro industry, dan perkayuan. Saat ini, keluarga Murdaya memiliki kawasan perkebunan kelapa sawit seluas 70 ribu hektar di Sulawesi. Majalah Forbes beberapa kali mencatatkan nama Murdaya Poo ke dalam daftar 40 orang terkaya di Indonesia. Pada tahun 2012, kekayaannya ditaksir mencapai USD 1,5 miliar atau sekitar Rp 13,8 triliun.

Pengusaha di Indonesia nampaknya lebih menyukai untuk mengusahakan bidang agrobisnis seperti kelapa sawit. Hartati Murdaya kali ini tengah terjerat kasus suap yang melibatkan bupati Buol di Sulawesi. Permintaan kelapa sawit yang begitu tinggi dari luar negeri mendorong lebih banyak pembukaan lahan-lahan baru yang berarti akan semakin besar mengorbankan lingkungan berupa hutan hujan tropis. Nilai ekonominya mungkin tinggi, tetapi kerugian lingkungannya pun cukup tinggi. Kita bisa melihat betapa banjir dan tanah longsor mulai terlihat di sejumlah daerah di Sulawesi yang sebelumnya tidak pernah ada kasus banjir.

Edwin Soeryadjaya (913)
Edwin Soeryadjaya yang berusia 63 tahun tidak lain adalah putera dari salah satu pengusaha besar di masa orde baru, yaitu William Soeryadjaya. Darah pengusaha rupanya mengalir cukup kuat di tangan Edwin yang membawa PT Adaro Energy, Tbk. sebagai perusahaan batu bara nomor dua di Indonesia. Edwin sendiri membangun emperium bisnisnya dengan nama Saratoga Group dengan embrio Saratoga Capital (bersama Sandiago Uno) di tahun 1998. Berawal dari perusahaan investasi itulah kemudian membawanya menjabat sebagai Presiden Komisaris di PT Adaro Energy, Tbk. Pada tahun 2012, Forbes mencatatkan kekayaannya mencapai USD 1,4 miliar atau sekitar Rp 12,88 triliun dengan bidang usaha penambangan batu bara (coal). Di Indonesia sendiri, Edwin menempati peringkat ke-12 barisan orang terkaya versi majalah Forbes tahun 2012.

Sekali lagi kita mendapati pengusaha penambangan batu bara yang menempati 40 besar orang terkaya di Indonesia. Sangat masuk akal apabila pengelola pertambangan batu bara di negeri ini mampu menempatkan dirinya ke dalam barisan orang super kaya. Faktor kekerabatan (keluarga) tidak bisa dipungkiri menjadi faktor yang menyertai kesuksesan pengusaha seperti Edwin. Bisnis dalam perusahaan investasi memiliki pola perolehan keuntungan yang sangat ditentukan dengan keputusan atas risiko. Upaya meminimalkan risiko tidaklah sulit, apabila mereka memiliki kolega bisnis ataupun rekanan yang dapat menjaminkan kapitalnya (sebagai mitra ataupun klien). Ketekunan dan kegigihan adalah hal yang mutlak. Demikian pula pengusaha bakso, warung angkringan, dan lain sebagainya.

Kesimpulan dan Penutup
Jumlah orang kaya di Indonesia harus diakui mengalami peningkatan yang cukup signifikan sejak berakhirnya era orde baru. Penguasaan kapital tidak lagi terkonsentrasi pada kelompok-kelompok tertentu, melainkan telah mengalami dispersi. Sejumlah nama-nama baru pun terus bermunculan, serta bisa jadi akan terus bertambah dalam beberapa tahun ke depan. Mereka yang dulunya hanya berada di bawah bayang-bayang orang kaya sebelumnya, kini telah mampu mengukuhkan dirinya berada di barisan terdepan orang terkaya di Indonesia. Perombakan sistem demokrasi nampaknya turut memberikan peluang terhadap kemunculan lebih banyak orang-orang kaya baru di negeri ini.

Sekalipun demikian, fenomena kemunculan orang-orang kaya tersebut masih jauh dikatakan mampu memenuhi ambisi nasional untuk mewujudkan negeri ini mandiri di segala bidang. Mari kita simak beberapa berita tentang kinerja perekonomian nasional dalam beberapa tahun terakhir ini. Komoditi impor telah membanjiri pasar domestik dari pusat hingga ke daerah pelosok. Tak kalah memprihatinkan, negeri dengan panjang pantai ke-4 di dunia ini justru menjadi negeri pengimpor garam. Satu-satunya negeri kepulauan terbesar ini pula telah mencatatkan diri sebagai pengimpor ikan laut yang jumlahnya bisa mencapai ribuan ton per tahunnya. Pada komoditi kebutuhan pokok ini pun sudah mencatatkan dirinya sebagai negera pengimpor, termasuk pula seperti komoditi singkong dan kedelai. Belum lama ini pula terdengar masalah kelangkaan daging sapi yang menorehkan catatan hitam tentang krisis pangan di negeri yang konon dikatakan subur.

Baiklah, kita tidak mengimpor batu bara. Tetapi adakah Anda bisa menemukan dengan mudah batu bara (briket) di kota di mana tempat Anda tinggal? Mari kita membuka mata, bahwa mayoritas aset dan kapital di sektor perbankan di negeri ini telah dikuasai oleh asing. Begitu pula di sektor manufaktur, hampir sebagaian besar kepemilikan atas aset telah dikuasai oleh asing. Kehadiran orang-orang kaya yang kabarnya terus bertambah itu pula belum bisa membantu memperkuat nilai mata uang rupiah. Kehadiran orang-orang kaya ini pun justru menambah panjang permasalahan di dalam negeri dengan semakin meluasnya isu/permasalahan lingkungan. Jutaan hektar hutan hujan tropis menghilang tergantingkan dengan pertambangan dan perkebunan kelapa sawit. Ironisnya, pengorbanan atas kerusakan lingkungan tersebut tidak banyak bisa memperkuat formasi kapital di dalam negeri.

Ironi mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan fenomena kemunculan orang-orang kaya di negeri ini. Negeri yang dikenal begitu gandrung dan konsumtif, tetapi tidak mampu dicukupi oleh ketersediaan kapital di negerinya sendiri. Sungguh ironis, ketika permintaan kendaraan bermotor telah menjadi tren gaya hidup, tetapi tidak ada satupun di antara daftar 40 orang terkaya di Indonesia yang terlibat ke dalam industri mobil/motor nasional. Ketika masyarakat tengah gandrung dengan produk gadget, tetapi sangat sedikit perhatian di antara mereka untuk mau mewujudkan industri teknologi. Rasanya tidak ada yang kurang dengan kehadiran kalangan pakar atau ahli di bidang teknologi yang nantinya bisa menjadi modal untuk mewujudkan kemandirian di bidang teknologi.

1 comments:

Muhammad Muhsoni mengatakan...

ijin copy untuk referensi ya pak leo

Poskan Komentar