25 Juli 2012

PERBANDINGAN KEKUATAN MILITER INDONESIA DAN NEGARA TETANGGA (UPDATE 2012)

Salah satu fungsi utama dari keberadaan militer di suatu negara adalah untuk mengisi peran pertahanan dan menjaga kedaulatan wilayah. Berada tepat di tengah dua samudera dan dua benua, Indonesia merupakan negara yang sarat akan ancaman. Berbentuk negara kepulauan terbesar, Indonesia pula merupakan negara yang sebagian besar celah pertahanannya berada di kawasan lautan. Bagaimanakah perbandingan kekuatan militer Indonesia dengan negara-negara tetangga? Berikut ulasan yang diambil dari situs Global Fire Power 2012 untuk memberikan gambaran perbandingan kekuatan militer di tingkat regional.

Beberapa Indikator Kekuatan Militer
Kekuatan militer (fire power) meliputi segala aspek alat negara dan sumber daya yang terdapat di suatu negara yang dapat difungsikan dengan segera untuk keperluan perang. Perangkingan kekuatan militer yang dilakukan oleh Global Fire Power (GFP) berdasarkan penilaian atas sejumlah indikator kekuatan militer, yaitu:
1. Personil
2. Sistem Persenjataan (Alutsista)
3. Kekuatan Maritim
4. Kekuatan Logistik
5. Sumber Daya Alam
6. Kekuatan Geografis
7. Kekuatan Keuangan (Finansial)
8. Lain-lain (Pendukung)
Masing-masing indikator memiliki beberapa sub indikator yang akan membentuk kekuatan inti pertempuran. Cukup menarik, kekuatan maritim dipisahkan dari kekuatan alutsista (poin nomor 2). Hal ini sebenarnya berkaitan dengan latar belakang politik pertahanan di suatu negara berupa ofensif atau defensif di mana seluruh permukaan bumi lebih banyak diliputi oleh wilayah perairan. Strategi militer dan pertahanan nantinya akan mengkombinasikan keseluruhan unsur (indikator) tersebut untuk menjadi sebuah kekuatan untuk mendukung sikap politik, termasuk apabila diputuskan untuk menyatakan perang dengan negara lain.

Dalam doktrin Hankamrata disebutkan apabila salah satu bentuk ancaman atas kedaulatan wilayah akan memperhitungkan dari ancaman regional atau ancaman kawasan. Indonesia terletak di kawasan Asia Tenggara yang berdampingan pula dengan Australia. Dalam hal ini, setidaknya terdapat 5 negara yang berpotensi menjadi ancaman kedaulatan, yaitu Australia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina. Hal ini berdasarkan pada fakta apabila Indonesia masih memiliki masalah berupa persengketaan perbatasan dengan dengan negara-negara tetangga. Persengketaan perbatasan akan sangat memungkinkan untuk memicu terjadinya pergesekan (di perbatasan) yang dapat memicu terjadinya perang.

Dari 8 kekuatan kunci militer suatu negara, kemudian dibuatkan menjadi 8 unsur yang secara langsung akan berpengaruh terhadap keputusan perang, yaitu:
1. Kekuatan Personil
2. Kekuatan Udara
3. Kekuatan Darat
4. Kekuatan Laut
5. Kekuatan Logistik
6. Kekuatan Sumber Daya Alam
7. Kekuatan Finansial
8. Keunggulan Geografis
Kekuatan udara, laut, dan darat sudah mulai diuraikan, karena akan berperan dalam pengembilan keputusan dan strategi militer dalam jangka pendek (menjelang perang). Perbandingan kekuatan militer yang akan diulas berikut ini berdasarkan 8 kekuatan kunci militer yang berperan dalam pengambilan keputusan perang.

Kekuatan Personil (Personnel)
Dengan dukungan jumlah penduduk yang paling besar, Indonesia nampaknya cukup unggul untuk menopang kekuatan personil. Hal ini terlihat di seluruh sub personil berselisih cukup signifikan dengan negara-negara tetangga. Indonesia masih memiliki peluang yang cukup besar untuk mewujudkan bentuk perang gerilya, termasuk pertempuran kota, apabila pertahanan terluar berhasil ditembus dan dikuasai musuh.


Kekuatan Udara (Air Power)
Ada 3 sub kekuatan udara, yaitu total pesawat militer (seluruh jenis pesawat militer), jumlah helikopter, dan lapangan udara. Berdasarkan banyak pesawat militer, Thailand terlihat lebih unggul dengan jumlah pesawat militer yang mencapai 913 unit. Thailand pun cukup unggul untuk jumlah helikopter yang paling banyak, yaitu 443 unit. Indonesia bisa dikatakan cukup unggul dengan memiliki lebih banyak lapangan udara yang berfungsi sebagai pangkalan militer atau dapat difungsikan menjadi pangkalan militer. Deskrispi mengenai kekuatan udara masih terlalu abstrak, karena pesawat militer itu sendiri terdiri atas pesawat tempur, pesawat pembom atau pesawat terpedo, pesawat pengintai, dan pesawat transport. Indikator yang dituliskan pun masih memungkinkan bias dalam memberikan gambaran kekuatan udara.


Kekuatan Darat (Land Army)
Ada 10 kunci dalam mengukur/mengetahui (potensi) kekuatan darat dalam suatu pertempuran. Di dalamnya berisikan keseluruhan bentuk sistem persenjataan darat, termasuk kendaraan logistik. Keseluruhannya akan sangat dibutuhkan dalam pertempuran darat yang akan menghadapi musuh darat maupun musuh dari udara. Uniknya, Singapura yang merupakan negara dengan luas wilayah paling kecil justru cukup dominan memiliki unsur-unsur kekuatan darat, kecuali untuk kendaraan logistik (logistical vehicles). Banyaknya kendaraan logistik yang dimiliki Australia berkaitan dengan fungsi militer Australia yang sering dimanfaatkan untuk pasukan perdamaian (PBB) dan tidak tertutup kemungkinan difungsingkan untuk keperluan dukungan operasi ofensif. Indonesia yang memiliki banyak pulau dengan total luas nomor dua setelah Australia justru terlihat kurang serius memperkuat kekuatan darat. Lihat saja, sekalipun Malaysia memiliki jumlah tank lebih sedikit dari Indonesia, tetapi Malaysia memiliki senjata anti tank jauh lebih banyak dan lebih moderen.


Kekuatan Laut (Naval Power)
Kekuatan laut menjadi kunci atas setiap kemenangan pertempuran yang menentukan jalannya sejarah. Ada 10 unsur yang membentuk kekuatan laut menurut versi GFP seperti yang dilihat pada gambar di bawah. Sebagai negara kepulauan terbesar dengan luas wilayah laut paling besar di Asia Tenggara, Indonesia nampaknya justru tidak memiliki keunggulan yang signifikan. Jumlah kapal pengangkut militer (merchant marine) masih di bawah Singapura. Jumlah kapal militernya (total navy ships) pun masih dibawah Thailand. Indikator di sini memang masih terlalu abstrak, karena kekuatan kapal selam (submarines) Indonesia merupakan kapal perang teknologi 1980 yang telah diremajakan. Lain ceritanya dengan kapal selam milik Malaysia yang dibeli pada tahun 2000an. Filipina bisa dikatakan cukup unggul dalam patroli laut/perairan dengan dukungan 128 kapal patroli laut (patrol craft). Australia terlihat lebih unggul untuk melakukan serangan laut jarak jauh dengan dukungan 12 kapal perang jenis fregat dan 8 kapal pendaratan amfibi. Sekali lagi, angka-angka di atas masih terlalu abstrak, karena saat ini sudah ada masuk kapal perang generasi terbaru yagn seharusnya dipisahkan berdasarkan aspek teknologinya.


Kekuatan Logistik (Logistical)
Kekuatan logistik yang dimasukkan ke dalam daftar berikut ini merupakan segala bentuk sumber daya yang dengan segera dapat dipersiapkan untuk mendukung pertempuran langsung. Indonesia bisa dikatakan memiliki keunggulan dalam aspek kekuatan logistik dengan melihat banyaknya angkatan kerja (labor force) yang paling tinggi. Panjang akses jalan raya maupun kereta api tidak selalu signifikan ukuran yang terlihat, karena tergantung dengan luas wilayah dan kondisi pulau atau kepulauan. Dengan memiliki kekuatan angkatan kerja yang dapat difungsikan menjadi militer atau paramiliter, setidaknya Indonesia masih akan memiliki kekuatan untuk melakukan strategi gerilya dan perang perkotaan yang paling sulit, ketika musuh telah masuk menembus ruang wilayah pertahanan di daratan.


Kekuatan Sumber Daya Alam (Resources)
Setiap pertempuran akan membutuhkan sumber daya alam (energi), terutama untuk keperluan kebutuhan masyarakat sehari-hari. Situasi perang akan menyebabkan orientasi pemenuhan kebutuhan energi bagi masyarakat sipil akan dialihkan untuk keperluan militer. Di sinilah salah satu kunci kekuatan dalam pertempuran, yaitu kekuatan negara dalam menguasai sumber daya alamnya. Australia terlihat memiliki keunggulan dari aspek penguasaan sumber daya alam. Dengan cadangan minyak bumi (proven reserves) sebanyak 3,3 miliar barel dan jumlah penduduk sekitar 22 juta jiwa, Australia masih memungkinkan bertahan cukup lama dalam kondisi perang dengan ketersediaan minyak di dalam negerinya. Sekalipun Indonesia dikatakan memiliki paling banyak cadangan minyak, tetapi jumlah penduduknya pun cukup besar, yaitu mencapai di atas 240 juta jiwa dengan konsumsi per hari di atas 1 juta barel. Data mengenai minyak bumi di sini tidak sepenuhnya valid, tetapi setidaknya menggambarkan kemampuan bertahan suatu negara dalam kondisi perang.


Kekuatan Finansial (Financial)
Perang ataupun persiapannya membutuhkan biaya yang tidak sedikit, serta membutuhkan kemampuan pengelolaan keuangan nasional yang memadai. Ada 3 unsur di dalam kekuatan finansial, yaitu anggaran pertahanan (defense budget), cadangan devisa dan emas (reserve of foreign exchange and gold), dan kemampuan pembayaran (purchasing power). Unsur yang paling perlu dipehatikan adalah cadangan devisa dan belanja pertahanan. Dari dua unsur tadi, Singapura lebih unggul dengan memiliki cadangan devisa maupun belanja pertahanan paling besar. Ini berarti Singapura memiliki peluang lebih besar untuk mempersiapkan suatu perang ataupun membiayai peperangan. Indonesia memiliki kemampuan pembelian paling besar di antara negara-negara yang diperbandingkan di sini. Ini berarti, dari sisi finansial, Indonesia memiliki peluang yang paling besar untuk mentransformasikan aset-aset ekonominya dalam membiayai dan mempersiapkan perang. Sekalipun demikian, kemampuan pembelian membutuhkan waktu dan mekanisme politik yang tidak semudah mentransfer pembiayaan seperti pada cadangan devisa dan belanja pertahanan.


Keunggulan Geografis (Geographic)
Salah satu kekuatan militer yang dibutuhkan dalam peperangan adalah keunggulan geografis. Keunggulan tersebut dapat menjadi celah pertahanan atau sebaliknya dimanfaatkan menjadi basis pertahanan. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia lebih unggul dalam memiliki luas wilayah perairan (waterways) dan garis pantai (coastline). Auastralia di sini terlihat memiliki luas wilayah daratan paling besar yang berarti dapat dimanfaatkan pula sebagai matra pertahanan di dalam negeri. Adapun di sini ada 3 negara yang memiliki kawasan perbatasan daratan (shared border), yaitu Indonesia, Malaysia, dan Thailand.


Data kekuatan militer yang dirilis oleh GFP diambil berdasarkan data yang dihimpun oleh CIA Fact and Statistic. Masih terlalu abstrak untuk dapat diketahui gambaran kekuatan yang kongkrit, karena hanya berbasis pada pendekatan kuantitatif. Segala unsur yang membentuk kekuatan militer di suatu negara bukan hanya mengenai aspek kuantitatifnya, melainkan aspek kualitatif. Misalnya, untuk alat utama sistem persenjataan (alutsista) atau weapon system saat ini sudah berkembang teknologi yang masing-masing terbagi ke dalam periode 10-15 tahun (1 generasi). Masalah lain mengenai keakuratan data misalnya pada kelompok helikopter yang saat ini sudah terbagi ke dalam beberapa fungsi, seperti helikopter angkut logistik/pasukan dan helikopter serang. Fakta lain yang tidak bisa diabaikan pula adalah pengalaman perang di masa lalu yang membentuk cara berpikir dalam membangun strategi militer di saat yang paling mendesak.

Peluang Indonesia
Berdasarkan data di atas, jika terjadi perang dalam waktu dekat dengan negara terbesar di tingkat regional, peluang Indonesia bisa dikatakan kecil untuk bisa bertahan dalam 1 minggu pertama pertempuran. Indonesia memiliki celah yang paling lebar di bagian perairan laut. Dengan mengandalkan kapal patroli sebanyak 31 unit tidak akan cukup apabila tidak didukung oleh kekuatan udara yang memadai. Jumlah kapal fregatnya pun hanya ada 6 unit yang mungkin siap untuk diterjunkan ke dalam pertempuran langsung. Tetapi jumlah kapal fregat tersebut masih jauh di bawah ideal apabila serangan masuk dari berbagai penjuru perbatasan laut. Banyaknya kapal pengangkut militer (merchant marine) sebanyak 1.244 unit (peringkat ketiga) mungkin akan cukup membantu mobilisasi alutsista darat. Keuntungan Indonesia terletak pada kondisi geografisnya yang terdiri atas banyak pulau-pulau besar, sedang, dan kecil. Butuh biaya dan sumber daya yang cukup besar apabila hendak meredam pertempuran dengan Indonesia.

Australia
Australia sebenarnya bukanlah ancaman yang serius, tetapi negara ini dianggap paling siap untuk melakukan konfrontasi (perang) langsung dengan Indonesia dibandingkan negara-negara tetangga lainnya. Dilihat dari data kekuatan militer di atas, jika pun harus berperang dengan Indonesia, Australia tidak mungkin bisa menguasai seluruh wilayah (pulau), melainkan hanya diprioritaskan untuk menguasai pulau-pulau strategis seperti Pulau Jawa dan Papua. Untuk itu saja, Australia akan menghadapi risiko hilangnya sebagian besar pertahanan di dalam negerinya sendiri. Australia pula tidak akan mengambil risiko dengan mengorbankan seluruh warganya yang siap tempur (manpower fit for service) untuk terjun dalam pertempuran dengan Indonesia. Hanya tersedia sekitar 10 juta personil militer saja tidak akan cukup untuk bisa meredam 129 juta personil militer ataupun tambahan paramiliter apabila terjadi perang gerilya. Dalam sejarah, Australia belum pernah berkonfrontasi sendirian dengan Indonesia. Terakhir kali Australia membantu dalam konfrontasi Indonesia-Malaysia, tetapi itu pun dengan keterlibatan Inggris. Di tahun 1999 lalu, keterlibatan Australia di Timtim (sekarang Timor Leste) itu pun berada dibalik jubah pasukan perdamaian (UN) yang tentu pula disokong oleh Amerika dan Inggris. Artinya, jika saja posisinya terancam untuk mengambil keputusan perang dengan Indonesia, Australia tidak akan sendirian untuk menghadapi Indonesia.

Malaysia
Dalam sejarah, Malaysia belum pernah melakukan pertempuran head to head dengan Indonesia, tanpa keterlibatan negara lain. Konfrontasi dengan Indonesia di era Soekarno, Malaysia secara terbuka dibantu oleh Inggris dan Australia. Di atas kertas, berdasarkan data yang dirilis oleh GFP di atas, Malaysia pun tidak memiliki superioritas di bidang apapun untuk berperang dengan Indonesia. Malaysia mungkin hanya unggul dalam beberapa hari pertempuran yang kurang dari seminggu. Untuk menguasai Indonesia setidaknya akan membutuhkan waktu lebih dari 1 bulan pertempuran langsung. Persoalan lainnya mengenai masalah kesamaan etnis Melayu yang secara psikologis akan berpengaruh terhadap jalannya pertempuran. Jika pun harus berperang dengan Indonesia, Malaysia tidak akan sendirian menghadapi Indonesia. Sekalipun demikian, Malaysia bisa jadi adalah pemicu untuk masuknya pertempuran besar yang melibatkan banyak negara.

Singapura
Singapura termasuk negara kecil di kawasan Asia Tenggara, tetapi bisa dikatakan memiliki kekuatan alutsista yang cukup memadai untuk peperangan. Negara yang terkenal dengan patung singa tersebut memiliki superioritas dalam kekuatan darat (land army) dan didukung oleh kekuatan finansialnya. Singapura termasuk unggul dalam teknologi seperti pada kekuatan udara dan laut. Tahun depan, sebanyak 2 skadron F-35 akan memperkuat kekuatan udara Singapura. Sekalipun demikian, dengan ketersediaan jumlah personil yang paling sedikit, sangat diragukan seluruhnya sistem persenjataan tersebut akan digunakan untuk menghadapi Indonesia. Dalam hal ini, besar kemungkinan Singapura yang masuk ke dalam kelompok persemakmuran Inggris akan dimanfaatkan oleh pihak lain dalam melakukan pertempuran terbuka dengan Indonesia.

Thailand
Thailand merupakan satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang saat ini masih mengoperasikan kapal induk (aircraft carrier). Sekalipun sudah berusia tua, tetapi pihak GFP masih mencatat kapal induk tersebut berstatus aktif di mana di atasnya mengusung jenis penyerang taktis seperti Super Entendart (buatan Perancis). Thailand sebenarnya tidak memiliki sejarah konflik tertentu dengan Indonesia, kecuali hanya masalah perbatasan perairan. Tetapi Thailand pernah bergabung ke dalam pakta pertahanan Asia Tenggara, yaitu SEATO yang didalamnya berisikan nama-nama negara Asia Tenggara (minus Indonesia) dan Australia. Saat ini, Thailand bisa dikatakan cukup tergantung atau punya kepentingan ekonomi dengan Indonesia, terutama untuk memasok bahan baku industri dan komponen. Indonesia pula adalah pasar bagi industri Thailand, sehingga tidak tertutup kemungkinan jika di masa mendatang akan beraliansi kembali dengan pakta pertahanan untuk menghadapi Indonesia.

Filipina
Indonesia sebenarnya masih memiliki beberapa sengketa perbatasan perairan dengan Filipina. Sekalipun demikian, Filipina lebih banyak mempersoalkan garis batas perairan dengan China, ketimbang Indonesia. Sejarah Filipina sendiri relatif cukup baik hubungannya dengan Indonesia, bahkan di masa Soekarno. Di antara negara-neagra tetangga yang telah disebutkan sebelumnya, Filipina relatif memiliki ancaman yang sangat kecil dengan Indonesia. Filipina pula sebenarnya turut bersengketa perbatasan perairan dengan Malaysia yang lokasinya tidak berjauhan dengan perbatasan perairan Indonesia. Jika melihat data kekuatan militer Filipina yang dirilis oleh GFP, Filipina termasuk unggul dalam kekuatan personil (setelah Indonesia). Tetapi negara ini sangat tidak memungkinkan untuk melakukan konfrontasi terbuka dengan Indonesia. Melihat kondisi perekonomiannya Filipina saat ini, akan terbuka kemungkinan negara ini mungkin akan berafiliasi dengan sebuah kekuatan besar untuk menghadapi Indonesia. Seperti kejadian di masa lalu dengan menjadikan negaranya sebagai basis pangkalan militer.

Kemungkinan Perang Terbuka
Dengan segala kemungkinan dan potensi kekuatan militer, hanya ada 3 negara yang punya peluang besar untuk perang dengan Indonesia, yaitu Amerika Serikat, China, dan Rusia. Mereka bukan saja diunggulkan oleh unsur-unsur kekuatan militer, tetapi didukung pula oleh segala kemungkinan sumber daya ekonomi di dalam negerinya. Butuh waktu berbulan-bulan lamanya untuk bisa menaklukkan NKRI melalui perang terbuka, jika dilakukan dalam waktu dekat. Indonesia dengan karakteristik kepulauannya memiliki keunggulan dari aspek pertahanan, terutama apabila dilakukan metode perang gerilya. Untuk hanya menaklukkan Irak yang dibantu Inggris dan sekutunya, Amerika Serikat harus menanggung kerugian ekonomi yang cukup lama di dalam negerinya.

Opsi perang terbuka hampir tidak mungkin akan terealisasi dengan Indonesia. Strategi pertempuran moderen saat ini sudah mulai bergeser dari model perang fisik ke perang politik dan intelijen. Mereka akan cenderung menggunakan kekuatan politik luar negerinya untuk menguasai pejabat publik, partai politik, akademisi, institusi jurnalistik, maupun institusi sosial guna mengamankan kepentingan mereka di Asia Tenggara. Bentuk perang moderen lainnya bisa berupa dengan klaim budaya seperti yang belum lama ini dilakukan oleh Malaysia. Transisi budaya dan cara berpikir pun sebenarnya merupakan bentuk perang moderen yang bertujuan untuk menghilangkan identitas budaya nasional. Masih banyak bentuk perang moderen yang melibatkan organisasi intelijen internasional untuk masuk ke dalam sistem politik dan pemerintahan maupun ke dalam sistem sosial dan kemasyarakatan.

Daftar Istilah
Land weapon = persenjataan darat
APC = Armored Personnel Carrier = Kendaraan pengangkut personil
IFV = Infantry Fighting Vehicle = Kendaraan tempur pengangkut personil
Self-Propelled Gun = Semacam howitzer atau kendaraan dengan meriam besar
MLRS = Multiple-Lauch Rocket System = Kendaraan peluncur roket

31 comments:

Anonim mengatakan...

Indonesia tidak sangat layak menjadi negara "DEFANCE" Indonesia jauh lebih layak dan terhormat jika menjadi negara "OFFENCE" karena Indonesia memiliki sumber daya alam,dan penduduk yang melimpah yang kesemua itu dapat di manfaatkan untuk menjadi negara SUPER POWER
sudah saatnya islam bangkit.

Leo Kusuma mengatakan...

Kita adalah bangsa yang cinta damai, tetapi lebih cinta dengan kemerdekaan. Sikap tersebut yang melandasi para bapak memposisikan bangsa ini berhaluan Non Blok. Hanya Indonesia ketika itu yang bisa memimpin dengan revolusinya. Jika saja revolusi tersebut terus berlangsung, mungkin Palestina sudah sejak lama menjadi negeri yang merdeka. Tetapi semua ini adalah kehendak dari Allah Swt untuk bangsa Indonesia.

Anonim mengatakan...

sekarang bukan zamannya lagi indonesia jadi negara yg lugu, tapi harus menjadi super power,prinsifnya kalau mau terhormat harus punya kekuatan militer untuk menyerang dan bertahan yang kuat, baik di darat, laut dan udara

Anonim mengatakan...

209Indonesia dilecehkan tapi hanya diam, menagislah para pejuang bertangan bambu yang telah tiada....

abalmamai mengatakan...

Maaf Pak,saya mo ralat,data dari Globalfirepower itu tidak update,saya pernah nemu data dari kemhan, jumlah Towed Artileri tahun 2009 saja,TNI punya 590 unit,artileri pertahanan udara 673 unit,kendaraan tempur(tank dan APC) hampir 1.800 unit,Personel aktif (2009) 457.000 orang (belum termasuk PNS TNI 70.000),mortir 4.000 unit,belom ditambah pesanan2 senjata TNI di thn 2010-2012,sekian dari saya

ilmu-duniadanakhirat mengatakan...

Lengkap banget data tersebut.. namun perlu kita ketahui bahwa yang menjadi masalh skrng, semua negara di dunia akan memiliki bnyak kemungkinan untuk menguasai indonesia. mengapa? karena bisa di lihat bahwa Indonesia memiliki SDA yang melimpah dan mengiurkan untuk di gunakan negara negara lain agar bsa membantu dalam hal peperangan.

abalmamai mengatakan...

data yg mana mas???data diatas ato dari saya??heheh

Leo Kusuma mengatakan...

@Abalmamai: Terima kasih buat komentar dan masukannya. Memang benar ada perbedaan data yang disadur oleh GPF dan data dari Kemenhan RI. GlobalFirePower dari data di atas disadur berdasarkan kondisi terakhir di tahun 2011. Mengenai keakuratan sudah ada penjelasannya sendiri di situsnya. Kita anggaplah validitas dari sumbernya di Kemenhan RI bisa mendekati 100%, tetapi variasi perubahan data tentu tidak segera diupdate oleh GPF. Misalnya, jumlah personil aktif disebutkan oleh GPF 438.410 personil, sedangkan data yg Anda rilis 457.000. Ada selisih sebesar 18.590 personil (bertambah). Dalam setahun ada pertambahan personil yang belum dicatatkan, karena belum resmi pelantikan. Misalnya,data tersebut disadur tahun 2011, tetapi mereka yang menjalani masa pendidikan di 2010 dan dilantik di 2011 belum dicatatkan. Begitu pula mereka yang mengikuti pendidikan di 2011 dan 2012. Lalu mengenai kendaraan tempur dan artileri, jika terjadi perbedaan bisa jadi dikarenakan perbedaan pada pendefinisian. Standarisasi kita belum sepenuhnya mengadopsi standarisasi internasional, karena kita memang berbeda. Untuk lebih jelasnya bisa dibaca di situsnya GPF mengenai akurasi data. Sekian juga dari saya... hehe...

DIVA-PULSA mengatakan...

Ada yang belum di cantumkan dalam kekuatan Indonesia :Indonesia memiliki Mak Lampir dari gunung merapi, arya Kamandanu,Brama Kumbara...

Obat kuat sex mengatakan...

makasih banyak atas semua info nya ,,,,,,,,,

abalmamai mengatakan...

@Leo Kusuma saya juga terima kasih atas jawaban anda,tapi untuk perbedaan definisi soal tank dan APC,menurut saya kita usah standar Internasional,saya juga sudah liad daftar kendaraan jenis apa saja yang termasuk dalam daftar kemhan dan hasilnya sama definisinya seperti negara lain,belom lagi mengapa GFP menulis tank kita cuma 355 unit,karena belom termasuk tank marinir (masih ada 300-400 unit).data pertama yg saya sebutkan diatas adalah data kemhan tahun 2009.

Syamsul Maarif mengatakan...

Tapi sya lebih suka perang aplagi negara indonesia sudah sering d hianati ama amerika kita ingt dngn permesta.toh klo dlam dekade dekat ini amerika jadi membuat pangkalan militer d australi dan singpur tp alat utama kita blum d moderilisasi orang pertama yg harus bertanggung jwab adalah sekrtaris negara yg memblokir pmblanjaan.sadangkan kita tahu kucing liar teangga sudah berbenah untk brani konfrontsi dngn indonesia. Maka alangkah baik smua wilayah nkri hrus d bntuk pangkaln perang bru dri barat smpe timur harus g boleh. Tawr menawas

Lexs Anggoro mengatakan...

setuju dgn mas syamsul, pembuatan pangkalan militer dari barat sampe timur akan memperkuat pertahanan nkri.

Leo Kusuma mengatakan...

@Syamsul Maarif: pada prinsipnya, negara yang cinta damai adalah negara yang siap akan perang. fungsi angkatan bersenjata beserta alutsistanya bukan semata buat gagah-gagahan, melainkan untuk memperkuat kewibawaan suatu negara.

@Lex Anggoro: kita ini semestinya sudah bukan lagi armada timur dan barat, melainkan sudah berpikir pada armada pasifik, karena ancaman berikutnya yg paling dekat saat ini datang dari arah pasifik.

deni mengatakan...

indonesia negara cinta damai bahkan indonesia masuk sebagai negara pasukan perdamaian terbaik dunia tepatnya peringkat 14 dunia...
butuh 50 tahun untuk taklukkan indonesia, ini karena masalah pengalaman

Si Pitung mengatakan...

Sdh Saatnya Indonesia bangkit menjadi Macan Asia dengan memperkuat armada perang baik Laut, Udara dan Darat. Begitu menyakitkan melihat Indonesia menjadi bulan-bulanan negara tetangga. Menghadapi pemberontak sulu saja Malay sudah repot apalagi menghadapi bangsa kita yang besar ini. Merdeka!!!

Gatot Kaca mengatakan...

Indonesia harus menambah 50 buah kapal selam canggih untuk menjaga perairan kita dan menambah 10 kuadron pesawat tempur super canggih, sudah saatnya kita membusungkan dada kita di Dunia Internasional. Merdeka !!!

Anonim mengatakan...

mikirin perang, ngurusin urusan dalam negeri aja gak mampu..kok malah mau perang. perkuat SDM kita dengan ilmu pengetahuan. dengan begitu kita bisa menguasai teknologi yang bisa di aplikasikan dalam bidang pertahanan dan keamanan serta meningkatkan kemampuan ekonomi kita untuk mempertahankan NKRI.

Leo Kusuma mengatakan...

selama kita dalam proses memikirkan untuk perkuat SDM, kelola SDA, ancaman itu selalu ada dan sangat nyata. segala kemungkinan akan selalu terjadi. memang akan lebih seimbang apabila keduanya berjalan dgn selaras.

yohanes_korowai mengatakan...

MALAYSIA SUDAH MENANG PERANG DENGAN INDONESIA!!! COBA LIHAT ADA RIBUAN HEKTAR HUTAN DI RIAU DAN KALIMANTAN DIBABAT HABIS PERUSAHAAN2 KAYU MALAYSIA DIJADIKAN LAHAN SAWIT,MEREKA DAPAT DEVISA YANG LUAR BIASA BESAR,SEMENTARA HUTAN KITA AMBLAS..BANYAK PERUSAHAAN MALAYSIA MENGAMBIL ALIH PERUSAHAAN KITA,LIHAT SAJA CIMB NIAGA,AIR ASIA DLL..ITU YANG MESTINYA LEBIH DIPIKIRKAN PEMERINTAH KITA..

yohanes_korowai mengatakan...

MALAYSIA SUDAH MENANG PERANG DENGAN INDONESIA!!! COBA LIHAT ADA RIBUAN HEKTAR HUTAN DI RIAU DAN KALIMANTAN DIBABAT HABIS PERUSAHAAN2 KAYU MALAYSIA DIJADIKAN LAHAN SAWIT,MEREKA DAPAT DEVISA YANG LUAR BIASA BESAR,SEMENTARA HUTAN KITA AMBLAS..BANYAK PERUSAHAAN MALAYSIA MENGAMBIL ALIH PERUSAHAAN KITA,LIHAT SAJA CIMB NIAGA,AIR ASIA DLL..ITU YANG MESTINYA LEBIH DIPIKIRKAN PEMERINTAH KITA..

Leo Kusuma mengatakan...

@Yohanes: Anda benar sekali. Itulah yang disebut perang moderen. Tetapi itu baru sebagian kecil saja dari yang disebut perang moderen.

Anonim mengatakan...

Saudaraku Yang baik dan budiman,mari kita jgn memikirkan perang dgn negara mana saja.
Pikirkanlah perang dengan bangsa sendiri...yaitu Perang Melawan Koruptor.

Anonim mengatakan...

G̶̲̅ãK̶̲̅ peduli, siapapun yg berani merampas kedaulatan RI..kita sikat!

Anonim mengatakan...

Merdeka.......!

Anonim mengatakan...

Indonesia adalah pangsa pasar ekonomi yg paling potensial bagi negara manapun. Negara manapun tidak akan rela pangsa pasarnya dicuri. Demi kepentingan ekonomi pastinya mereka akan ikut membela indonesia dari serangan negara manapun. Ditambah rasa nasionalisme bangsa kita yg solid. Siapa yg berani lawan rakyat indonesia? Gak ada satupun negara yg bisa hancurkan indonesia, kecuali oleh bangsanya sendiri.

LI"one mengatakan...

Berbicara ttang perang,itu butuh persiapan.mulai dr ARMADA'y,persenjatan'y sampai logistic dll. Sbagai orang indonesia.sy rela 1 o/o dr penghasilan sy,ku berikan pd negara.untk menjaga kkwtan NKRI.dan jika 30 o/o dr penddk indonesia membri,mungkin lebiH dr cukup untuk belenja alat tempur.

Anonim mengatakan...

wew

Anonim mengatakan...

RAPBN negara Rp 1.816,7 triliun ,,Penerimaan pajak: Rp 1.310,2 triliun (naik 14,1 persen dari 2013 Rp 1.148,4 triliun)..hitung sendiri kalau buat belanja armada militer yg canggih pasti cukup.. pertanyaannya .. kemana uang itu larinya ????

zainal mengatakan...

Malaysia dan Indonesia tak mungkin berperang.....asal keturunan dan agama yang sama...mana mungkin akan berperang. kalau berselisih faham tu mungkin,,,tapi tak sampai berperang pak

Anonim mengatakan...

indonesia psti kalah dari segala pnjuru

Poskan Komentar